
"Nyonya sudah aman, bos" lapor Beno pada sang bos melalui sambungan bluetooth.
"Bagus. Lancarkan serangan" lanjut Hendra memberi perintah.
Beno lantas keluar dari mobil tanpa sepengetahuan Nirmala yang tengah fokus menatap arah lift. Bersiaga jika Keira yang dia incar keluar dari lift dan pulang.
Sedari dulu, Hendra melarang Leona untuk memberitahukan lokasi rumah mereka pada Nirmala. Karena Hendra sangat tahu jika Nirmala terobsesi dengannya.
Dia bahkan sempat memohon pada Leona untuk menjadikannya adik madu.
Beno mengendap endap, berharap sasarannya tak memperhatikan spion dan memergokinya.
Dia lantas menempelkan sesuatu, sebuah benda bundar nan pipih sebesar koin yang dilengkapi magnet agar bisa menempel pada logam seperti body mobil.
Dia lantas kembali mengendap membungkuk agar tak terlihat lalu masuk kembali ke mobil.
"Fuhh.. bisa berabe kalo ketauan" ucapnya merasa lega.
"Sudah siap, bos" lapornya pada Hendra.
"Bagus. Sekarang kamu boleh pulang"
Beno menghidupkan mobilnya dan langsung melesat meninggalkan mobil Nirmala atau mobilnya juga akan terkena dampak ledakan EMP (electromagnetic pulse/denyut elektromagnetik)
Ketika "diledakkan", EMP menghasilkan pulsa energi yang menciptakan medan elektromagnetik kuat yang mampu membuat hubungan arus pendek berbagai peralatan elektronik, terutama komputer, satelit, radio, penerima radar, dan bahkan lampu lalu lintas sipil.
Sedangkan mobil yang mereka kendarai merupakan kendaraan canggih dimana fitur fitur yang dioperasikan dalam mobil itu menggunakan teknologi digital layaknya komputer menggerakan robot.
Saat melihat Beno melesat keluar, Nirmala merasa kecolongan, diapun segera menghidupkan mesin dengan terburu buru.
Setelah dirasa jarak mobil Beno aman dari radius ledakan EMP, Hendra menekan tombol pemicu ledakan elektromagnetik jarak jauh sehingga mengakibatkan mobil dan listrik radius 500m mati total. Tentu saja Listrik di mall itu juga padam.
Alat EMP itu Hendra ciptakan disela waktu senggangnya. Tak disangka ternyata berguna juga saat ini. Untungnya dia membuat dengan skala yang sangat kecil. Jika saja dia menggunakan dengan skala yang lebih besar, mungkin dia bisa mematikan daya listrik se-kota itu.
Mobil Beno sempat tersendat sendat namun dia menekan gas sedalam dalamnya dan berhasil lolos. Beno tertawa puas dan lega karena tidak terdampak kejut elektromagnetik itu.
__ADS_1
Bos nya memang mengerikan jika menyangkut keselamatan istrinya.
Untung saja efek gelombang kejut elektromagnetik itu tidak permanen, hanya 15 menit dan semua peralatan elektronik kembali menyala. Setidaknya memberikan Beno waktu untuk membebaskan diri dari intaian nenek sihir.
"Sialan si Hendra itu. Seharusnya aku ingat kalau dia masih menyimpan alat sialan itu" desis Nirmala yang mengetahui tentang alat EMP yang pernah Hendra buat saat mereka di bangku kuliah. Meski jurusannya berbeda, namun Nirmala selalu mengekor kemanapun Hendra dan Leona pergi dan lakukan.
Nirmala segera menstarter kembali mobil mersi nya yang tadi sempat tak mau menyala sebelum bom EMP diledakkan. Dia lantas pulang untuk menyusun rencana kembali.
Dua hari berlalu, tak terlihat tanda tanda Nirmala mengintai dan membuntuti. Bahkan Keira dengan leluasa dan tenang pulang pergi untuk mengantarkan makan siang Hendra dan kedua anak serta menantunya.
Hal itu diketahui orang orang yang diberi tugas secara diam diam oleh Hendra.
Mereka menyamar sebagai tukang siomay, pedagang asongan, juga petugas kebersihan jalan.
Sedikitnya Hendra merasa lega, meski rasa was was selalu menghantui kalau Nirmala bisa kapan saja datang dan menghancurkan rumah tangganya.
Hendra sendiri tak mengerti. Kenapa dia tak bisa berkutik kala Nirmala mengintimidasinya. Suaranya seolah tertahan untuk tak keluar. Dia selalu menyampaikan rasa tidak sukanya pada Leona saat sudah tak bersama Nirmala.
"Sayang, aku pulang" seru Hendra saat memasuki pintu utama rumah mewahnya.
Tak ada sahutan dari dalam. Namun terasa dering ponsel berikut getaran dalam saku celananya. Segera ia merogohnya karena tahu jika yang mengiriminya pesan singkat pastilah sang istri. Hendra memberi nada dering khusus untuk nomernya.
Begitulah pesan yang Keira kirimkan pada Hendra yang membuatnya bersemangat mengalahkan rasa lelahnya setelah duduk seharian di kantor.
Hendra segera mengayunkan kakinya melompati anak anak tangga itu sambil bersiul. Lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritualnya, Hendra tak berniat memakai bajunya. Handuk putih itu ia biarkan melingkar di pinggangnya menampilkan ukiran kotak kotak yang membuat istrinya menggila.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Dia berdiri menghadap jendela yang menampilkan jingga yang menghipnotis.
Sepasang tangan cantik melingkar di perutnya yang masih lembab.
Senyum terukir di bibir Hendra. Terasa gesekan antar kulit yang Hendra tahu jika Keira sudah melepas kain pembungkus tubuhnya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanyanya lembut dengan suara serak.
__ADS_1
Terasa anggukan dari belakang tubuhnya karena kepalanya menempel pada punggung kekarnya.
"Kamu gendutan sayang. Tapi aku suka. Kamu abis ke salon kuku?" tanya Hendra yang menyukai jika akhirnya sang istri mau melakukan perawatan diri untuknya. Diusap usapnya punggung tangan dengan kuku cantik yang di hias nail art.
Hendra melirik ke tangan yang melingkar itu. Apa istrinya hamil? batinnya.
Tangan itu lantas membuka handuk yang melingkar di pinggangnya. Hendra memejamkan mata kala rudalnya digenggam. Menikmati sentuhan yang memanjakan kelelakiannya.
Kepalanya mendongak dan meloloskan lenguhan kala kehangatan mulut menyelimuti intinya.
"HENDRA!!" bentak Keira dari arah belakangnya.
Hendra terkesiap dan menoleh ke belakang.
"Flo?"
Hendra lantas melihat kebawah tubuhnya. Dan ternyata Nirmala tengah berjongkok dengan tubuh polos menampilkan seringai iblis.
Keira langsung merangsek maju dan menarik Hendra ke belakang tubuhnya.
"Masuk kamar mandi" titahnya tegas dengan mata melotot dan rahang mengeras.
Hendra langsung melompat ke kamar mandi saat tersadar dari kelinglungannya.
"Siapa yang membiarkanmu masuk?" tanya Keira dengan amarah menggebu. Berani beraninya dia menyentuh suaminya.
"Hahahaha.... suamimu sendiri yang membiarkanku masuk" tawa jahatnya terdengar menusuk telinganya.
Nirmala lantas berdiri dengan anggun dan berjalan lalu merebahkan diri di ranjang dengan tubuh polosnya. Tak ada rasa malu sedikitpun.
"SAYANG.. AYO LANJUTKAN.. APA KAMU MAU THREESOME..." teriaknya memanggil Hendra sambil menumpukan kepalanya pada sebelah tangannya.
"Keluar.. KELUAR KATAKU, DASAR IBLIS..." Keira menarik kasar tangannya agar bangkit namun tubuh itu seolah menempel pada ranjang.
Keira lantas meraih kedua kakinya dan menyeretnya keluar dari kamar. Dia tak peduli suara benturan tubuh polos itu yang beradu dengan lantai dan beberapa anak tangga.
__ADS_1
Keira benar benar menyeretnya keluar dari pintu utama. Lalu menutup pintu itu rapat rapat sementara Keira berteriak memanggil security untuk menanyakan perihal keberadaan orang asing didalam rumahnya.
"Kenapa orang gila ini bisa masuk? apa yang bapak lakukan seharian?" Keira mengaum pada security yang tercengang dengan penampilan polos Nirmala namun wanita ini terlihat cuek dan senyum senyum.