Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Mendadak Kaya


__ADS_3

"Maaf pak, bapak salah paham, saya hanya kurir bunga yang-" Hendra terus berusaha membuka mulutnya untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Namun lagi lagi dipotong oleh bebek sialan didepannya ini.


"Pengecut kamu ya. Gak ada alasan lain hah?" geram si pria tua yang langsung melayangkan tinjunya kearah wajah tampan Hendra.


grepp


bugghh


Dengan sigap Hendra menangkap kepalan lemah itu dan balik menyapa perut bebek tua itu dengan tangan lain yang tengah memegang buket bunga sehingga kelopaknya berhamburan.


"aaaaaaaah...." si wanita menjerit sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.


Dia tak melihat gerakan lelaki hot yang secepat kilat itu. Jika saja pria tua itu tak jatuh berlutut memegangi perut buncitnya, mungkin si wanita tak akan sadar dengan reaksi balasan lelaki hot didepannya ini.


"Anda yang pengecut. Kalo mau punya istri lebih, coba sah kan secara negara dan agama, minta ijin istri pertama dulu, kalo dipecat dari jabatan ya harus nanggung resiko. Bukannya sembunyi sembunyi kek gini" Hendra melempar buket bunga yang sudah tak terlihat indah itu ke kepala pria tua yang masih berlutut didepannya menahan sakit pada ulu hatinya.


"Tuh kalo mau ngelabrak, labrak aja pengirim bunga itu" Hendra lantas berbalik dan melangkah pergi menuju motor trail Keira.


"Tunggu.." seru si wanita.


Hendra memutar kepalanya.


Si wanita berlari centil kearahnya dengan bertelanjang kaki.


Siapapun yang melihatnya pastilah ingin langsung membopongnya dan membaringkannya di kasur.


Hendra menaikan sebelah alisnya kala si wanita yang terengah karena berlari pendek dan menampakan dada penuhnya naik turun.


Cih, seolah dia telah berlari ratusan kilo meter, berpura pura menyeka keringat yang tak ada dari pelipis hingga ke lehernya.


"Call me, baby" suara seraknya lagi lagi dia kumandangkan sembari mengedipkan sebelah matanya dan menyodorkan kartu namanya yang berwarna hot pink.


"Ya, nanti utusan dari neraka yang akan menghubungimu" tukas Hendra dingin dan melempar kartu nama itu ke wajahnya. Lalu membleyer motor trail itu dan melakukan standing saat baru saja berakselerasi.


"Uhh seandainya aku jadi motornya, aku rela dinaikin selamanya" ucap gemas si wanita yang tampaknya telah terangsang.


"Sialan. Masih pagi udah apes aja" gerutu Hendra sambil mengarahkan motornya kembali ke toko.


"Flo.. hari ke berapa ini?" keluh Hendra sembari bersandar malas di kursi toko.


"Baru juga nganter satu pesenan udah nanya hari keberapa aja. Kenapa?" tanya Keira.


"Kamu yakin Arga gak macem macem sama konsumen kamu?"

__ADS_1


Hendra bertanya takut takut.


Takut menyinggung besannya.


"Menurutmu?" Keira balik bertanya. Dia tak tahu apa yang terjadi dengannya saat mengantarkan buket barusan, tapi dia ingin mendengar pendapat Hendra tentang anaknya.


"Ck. Apa mencari uang semengerikan ini? aku saja sampai dikira pebinor karena bawa bunga. Padahal kan-"


"Makanya jangan sok necis jadi jantan. Lagaknya mo jadi kurir, tapi gayanya kek yang mo kencan. Mana wangi lagi" Keira dengan polos mengendus tubuh Hendra yang wangi. Membuat jantung Hendra hampir melompat keluar kala didekati secara cepat oleh besannya.


"Udah, kamu diem disini aja, tungguin toko. Anis pake sepeda ngirim pesenan yang lain, aku mau ngirim sisanya pake motor. Baek baek dirumah ya" Keira mengejek Hendra yang tak bisa mengantar pesanan karena pesonanya.


"Ck" Hendra mendecak kesal lantaran diejek sang besan berkali kali.


Ada rasa hangat di hatinya. Perasaan saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya, berusaha membangun usahanya sembari melakukan pekerjaan sampingan, dimana pekerjaan yang menguras tenaga itu penuh dengan tawa dan candaan disela sela waktu istirahat mereka. Membuat mereka yang senasib, merasa tak sendiri.


Keira mengantarkan sisa pesanan yang belum terkirim dengan motor trail. Hendra memperhatikan Keira yang tak seperti wanita wanita lain yang tebar pesona padanya demi mendapat perhatiannya. Wanita itu justru memposisikan diri sebagai teman. Terlepas dari status mereka yang berbesan, Keira lebih memilih menjadi teman. Menyingkirkan kecanggungan dan ke jaim an.


Benar kata Aretha, sang putri. Jika Keira bukan tipe orang yang bisa jaim dan tidak menyukai orang jaim. Dia orang yang apa adanya. Namun kesederhanaan itu membuat orang orang disekitarnya menjadi nyaman.


"Pantas Retha betah dengannya. Ah, diskusi. Aku harus mendiskusikan mengenai lahan"


"Permisi..."


Keira kembali bersamaan dengan Anis.


Namun mereka terkejut dengan kondisi toko yang kini kosong melompong.


Anis dan Keira seolah berlomba membuka mulutnya menganga.


"Bu.. kita dirampok bu" tukas Anis yang merasa ngeri membayangkan perampok berwajah bengis.


Namun perampok macam apa yang menggasak bunga? Apa bunga itu bisa berubah menjadi uang?


"Uang?" keduanya panik bersamaan kala mengingat uang yang mereka simpan di toko tanpa dikunci, mengingat ada sang besan yang menunggu tokonya.


Tak mungkin orang sekaya dia mengambil uang orang miskin kan? Tapi.. bagaimana dnegan para pejabat yang maling uang rakyat? bukankah mereka juga sudah kaya?


Batin Keira berkecamuk sembari merangsek masuk kedalam toko.


"Hen.. dra.." seruannya terputus kala mendapati sang besan tengah tidur menenggelamkan kepala di meja.


Keira segera membuka laci yang tak dikunci.

__ADS_1


"Buset.. siapa ngerampok siapa?" tukas Keira yang terkejut karena lacinya penuh dengan uang pecahan biru dan merah.


Sehingga saat laci ditarik, sebagian uang itu berhamburan jatuh ke lantai.


"Bu, kita kaya bu.. bisa beli mersi gak bu buat nganter nganter pesenan?"


Anis menimpali keterkejutan Keira.


"Bang... bangun bang.." Keira berseru lembut membangunkan Hendra yang tengah terlelap.


"Sebentar lagi, sayang" gumam Hendra yang membuat wajah Keira memerah.


Sedangkan Anis mengulum tawanya.


Keira menggembungkan pipinya, ingin rasanya ia menyemburkan api saat ini juga.


"Bangun.. kebakaraan.. kebakaraan.." teriak Keira jahil karena sang besan tak kunjung bangun.


"Hah.. kebakaran?" Hendra sontak bangkit dan celingukan lalu mendapati Keira disisinya tengah berkacak pinggang.


"Kebakaran, ayo cepat. Selamatkan diri.."


Tak disangka disela ke ling lung an Hendra, dia reflek meraih tubuh mungil Keira dan membopongnya seperti karung, lalu membawanya keluar toko.


Anis tak kuasa menahan semburan tawanya melihat keuwuan kedua nya.


Keira pasrah dibopong seperti itu. Lihat saja, sebentar lagi kepala besannya akan hilang.


Hendra menurunkan Keira di trotoar. Lalu mencari ember untuk diisi air.


Dengan cepat Keira menarik kaos bagian belakang Hendra, membuatnya memutar kepala dan bertanya dengan gestur matanya.


"Mau ngapain?" tanya Keira sambil menyipitkan kedua matanya.


"Itu.. kebaka..ran. Udah mati?" Hendra terheran, karena si jago merah tak ia lihat.


Keira membuang ember hitam yang dipegang Hendra lalu menarik kaosnya ke toko.


"Ini pada kemana?" tanya Keira menyorot pada bunga bunga dagangannya yang sudah tak bersisa.


"Ooh, ya saya jual. Sesuai perintah bos"


"Jual berapa?" tanyanya lagi sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"50 ribu sebatang. Tambah 50 ribu kalo nyolek pipi"


__ADS_2