Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Cinta Pertama


__ADS_3

"Mami?" lirih Hendra dibelakang Aretha. Saat mendekat ke pintu, melihat Aretha memeluk sambil menggoyang goyangkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan, Hendra merasa pernah melihat senyum dengan gigi ginsul seperti itu.


"Cewek tomat?" batinnya.


tes


tes


Darah tiba tiba saja kembali mengalir dari hidung Hendra.


"Ya ampun"


Keira yang posisinya berhadapan dengan Hendra yang berada dibelakang Aretha, pun terkejut dengan tetesan darah yang keluar dari hidung laki laki itu.


Keira sontak melepas pelukan Aretha dan meraih kepala Hendra, menengadahkannya keatas sehingga darah tak terlalu deras mengucur.


"Sini kesini. Yaaang.. sayaang.. coba cari daun sirih di kebon"


pppfft...


Aretha menahan semburan tawanya kala melihat sang papa tak berdaya diperlakukan secara telaten oleh mami si calon mertuanya, semoga saja ples ples. Jadi punya 2 gelar kan. Mertua ples ibu sambung.


Hendra di dudukkan di sofa panjang dengan kepala yang bersandar dan menengadah di sandaran sofa.


Sedangkan Keira berdiri dengan lututnya di sofa dan mencoba memampatkan hidung mancung si calon besan dengan tissue yang ada di meja.


"Aduuuh Arga kemana sih, emang kebon nya luas banget ya, daun sirih aja ampe gak nemu"


"Gak akan nemu, mi. Disini mana ada taneman herbal kek gitu" ucap tenang Aretha.


"Ck, kamu juga anak gadis, urusin kek papanya. Ngejar jantan mulu"


"Hahaha.. kan Retha sisain buat mami yang urus. Lagian males ah ngerawat yang udah tua. Mending yang masih muda" Aretha melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.


"Itu anak main ngeloyor aja. Orang tua lagi ngomong ya dengerin dulu napa. Yang ngedidiknya kek gimana sih?" dumel Keira tanpa sadar orang yang disebelahnya.


"Ekhem. Seperti saya orang yang ngedidiknya" ucapan Hendra mengejutkan Keira.


"E eh.. ada orang. Eh maaf, saya lupa. Maklum sering ngurusin bunga" Keira perlahan melepas tangannya dari kening Hendra. Lalu turun dari sofa.


"Apa kita perlu panggil ambulans?" tanya Keira khawatir.


"Tidak perlu. Saya sudah biasa seperti ini kalau cuaca panas. Maaf, anda harus melihat saya seperti ini" Hendra melepas tisu yang menutup hidungnya perlahan. Namun darah masih terus mengalir.


"Jangan dulu ngapa ngapain" Keira menyergap dan kembali menengadahkan kepala Hendra. Lalu meraih kotak tissue dan mendekatkan pada Hendra agar mudah menyeka.


Hendra menatap Keira yang tengah sibuk mengganti tissue yang berlumuran darah dengan yang baru.

__ADS_1


Saat kepala Keira memutar ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan pasangan somplak yang tak kunjung datang, Hendra merasa pernah melihat kepala bagian belakang itu.


Uhh


Seketika bagian bawahnya menggeliat kala teringat postur itu.


glekk


Hendra menelan saliva. Ingin menghindar, tapi darah sialan ini pasti mengucur deras.


Akhirnya Hendra memilih menutup matanya.


Gak bisa


Bayangan gerakan absurd itu kembali menghampiri.


"Tuan.. apa anda tertidur?" tanya Keira saat melihat Hendra memejamkan matanya.


"Kurasa sudah cukup. Biar saya sendiri saja" ucap Hendra yang sedikit berkeringat.


Ini adalah sentuhannya yang paling lama dengan wanita lain selain istrinya.


"Tapi anda berkeringat. Anda yakin tidak perlu ke rumah sakit?"


"Tidak apa apa. Hanya polip"


"Ekhem. Mengenai putra putri kita.."


Keira kembali turun dari sofa lalu pindah ke sofa di sebrang Hendra.


"Iya, saya kesini berniat untuk melamar putri bapak, Aretha, untuk putra saya, Arga Prasetya" ungkapan niat Keira bersamaan dengan datangnya pasangan yang masing masing membawa piring berisi buah dan camilan beserta minuman kesukaan Keira dan Hendra. Teh hijau.


Arga duduk disebelah sang mama, dan Aretha duduk disebelah sang papa.


"Dikarenakan putra saya dan putri bapak saling mencintai, juga saya yang sudah lama mengenal Aretha, yang juga menganggapnya putri saya sendiri, alangkah baiknya jika mereka dipersatukan dalam ikatan yang sah"


"Saya-"


"Tapi jika anda tetap meminta kami menjauhi putri bapak, tidak masalah. Saya lebih baik gagal mendapat mantu idaman dari pada harga diri keluarga saya diinjak injak"


"Mami, ngomong apaan sih, gak gitu kan konsep awalnya" Arga berbisik sembari menyikut lengan Keira.


"Diem" balas Keira.


"Mami-" Aretha berseru lirih. Matanya berkaca kaca. Lalu beralih menatap mata sang papa, meminta penjelasan.


"Huft.. saya minta maaf atas kejadian yang lalu. Saya akui kalau saya marah saat itu. Tapi ternyata saya salah karena tak mendengarkan penjelasan semua orang terlebih dahulu" sesal Hendra yang merasa telah menyinggung perasaan Keira saat itu.

__ADS_1


"Saya juga berterima kasih pada Arga yang sudah mengorbankan dirinya untuk menolong putri saya. Tolong, jangan ambil keputusan yang bisa merugikan anak anak kita.


Saya- saya menerima niat baik ibu dan Arga untuk putri saya"


Semua menghela nafas dengan lega.


"Arga" seru Hendra.


"Iya, pa?"


"Apa kamu benar benar mencintai putri saya Aretha?"


"Dengan seluruh jiwa saya, pa"


"Bagai mana kamu tau kalau kamu mencintai putri saya?"


Arga melirik pada sang mama.


"Entah lah. Sulit diungkapkan, pa"


"Ayolah sayang. Itu pertanyaan sederhana" Keira juga penasaran dengan jawaban Arga.


"Saya hanya.. semua tampak tak masuk akal tanpa Aretha" jawab singkat Arga yang membuat mata Aretha berkaca kaca.


"Ya ya.. seperti pesanan turut berduka cita yang kamu kirimkan pada pesta pernikahan kan?" tambah Keira yang merasa gemas pada putranya saat itu.


Semua orang tergelak mendengar bocoran kelakuan Arga.


Suasana menghangat. Tak ada lagi kekakuan meski mereka mengobrol dengan orang tua. Selain Aretha yang selalu mencairkan suasana, juga Keira yang bisa memposisikan diri sebagai temannya, yang selalu menanggapi candaan kedua anaknya. Seperti yang selama ini mereka lakukan di toko Keira.


"Kalian.. sudah sedekat ini?" tanya Hendra yang terheran dengan sikap sang putri yang tak sungkan pada Keira. Anak itu bahkan bermanja an dengannya. Membuat camilan berdua di dapur sembari berkelakar.


"He em. Anak mu ini tiap hari sarapan di toko kami. Pantas saja-" Keira menghentikan ucapannya saat menyadari kalau dia kelewat batas.


"Sarapan? bukankah papa selalu membuat sarapan untukmu dan selalu kamu habiskan?" tanya Hendra terheran. Dia tak mau terpengaruh dengan salah bicara nya Keira.


"Apa? jadi kamu udah sarapan dirumah? terus larinya kemana itu makanan?" Keira memindai tubuh Aretha.


" Mami.. masa gak ngerti sih. Retha kan nge modus biar berangkat bareng Arga" rengekan Aretha membuat semua orang menggelengkan kepala dan tertawa.


"Awalnya saya pikir, anda adalah kekasih Arga" celetuk Hendra yang membuat Aretha menganga. Tapi Arga malah tersenyum.


"Apa anda tau, pa? Bagi anak laki laki, ibunya adalah cinta pertamanya, hidupnya, semestanya" Arga menatap lembut sang mama. Memancarkan cinta dan kasih sayang yang mendalam.


"Tuh kan. Papa bakalan nyesel kalo misahin Arga dari Aretha. Laki laki penyayang gitu disuruh ngejauh? mana ada yang kek gitu lagi, pa" ledek Aretha berbisik.


KALEEEM

__ADS_1


BAGIAN RUSUHNYA YANG BIKIN KLEPEK KLEPEK NYA KAMING SUN YAA


TINGGALKAN JEJAAAK😉😘


__ADS_2