Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Makan Siang


__ADS_3

"Hmm, ya. Permisi, kami sudah ditunggu" pamit Hendra menarik lengan Keira dengan lembut.


"Apa dia calon istrimu?" tanyanya kemudian sedikit menaikan volumenya karena mereka sudah menaiki 2 anak tangga.


"Bukan"


"Ah, sudah ku-"


"Dia istriku" Hendra langsung memotongnya dan kembali menarik Keira untuk melangkah bersamanya ke lantai 3.


Hendra tak mau berlama lama dengan wanita seperti nya.


Wanita bernama Isabel itu tersenyum miring. Merasa kesal karena Hendra tak mudah tergoda olehnya. Bahkan jika dia telanjang sekalipun tampaknya Hendra tak akan pernah meliriknya.


Dia penasaran dan mengayunkan perlahan kakinya menaiki satu per satu anak tangga. Tak berniat untuk menyapanya, hanya mengintip model gaun pengantin pesanan mereka.


"Sayang, apa aku sedang berada di surga?" Hendra membelalakan matanya kala melihat Keira dengan gaun pengantin yang dirancang dengan bahan kain sedikit transparan. Sehingga siapapun bisa melihat dibalik gaunnya.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Keira malu malu, karena dia seperti memakai gaun tak kasat mata.


"Luar biasa, sayang. Aku tak kan pernah membiarkanmu keluar dari kamar" kagum Hendra yang kemudian hendak berdiri dan mendekatinya.


Namu Keira tersenyum dan memberikan tanda padanya untuk duduk diam ditempat.


Keira berbalik menghadap cermin untuk memastikan kepercayaan dirinya. Sudut pandangannya menangkap sosok kepala berekor kuda menyembul dari arah tangga melalui pantulan cermin.


Keira tersenyum licik.


"Aku sangat menyukainya sayang"


Kepala itu langsung tenggelam dan tak terlihat lagi.


heh


Keira tahu niat wanita itu.


Keira melanjutkan kalimatnya setelah memastikan wanita itu tak kembali lagi.


"Apa kamu rela memamerkan tubuhku pada relasimu?"


Hendra tertegun. Benar juga apa yang istrinya ucapkan. Hendra bisa menikmatinya sendiri saat didalam kamar, namun ini adalah resepsi. Dimana semua relasinya yang penasaran dengan sosok istrinya ini akan ikut menikmatinya juga.


Tidak


Dia tidak rela.

__ADS_1


"Ganti" ucap kesal Hendra kala menyadari kebodohannya.


Gaun itu sangatlah cantik. Siapapun ingin memilikinya. Siapapun bisa melihat tubuh indahnya.


Keira tersenyum senang. Toh dia tak perlu mengenakan apapun saat berduaan dengannya. Kenapa dia harus memamerkan tubuhnya pada orang lain?


Gaunnya memang cantik dan mahal. Tapi dia tak semurah itu memamerkan tubuhnya pada orang lain.


Setelah beberapa gaun dia coba, Keira puas dengan 1 gaun yang tak kalah elegan dan cantiknya, namun tak berkesan murahan baginya.



Hendra pun puas dengan pilihan bijak istrinya. Dia memang tak salah memilih wanita.


Sedangkan Hendra memilih tuxedo berwarna abu tua dengan dasi kupu kupu menghiasi leher kekarnya.


Keira takjub dengan tubuh atletis prianya. Mengenakan apapun dia terlihat sangat tampan. Meski usianya sudah menginjak kepala 4.



Lihatlah bagaimana penampilannya bisa membuat kaum hawa tergila gila padanya.


Mereka selesai dengan fitting dress dan hendak mengajak Keira makan siang di sebuah restoran dekat dengan butik itu.


"Hendra" suara itu kembali memanggilnya. Namun Hendra tak menggubris dan terus menggiring Keira menuju mobilnya.


Saat Hendra sudah duduk dan menutup pintu, pintu bagian belakang terbuka dan masuklah sosok wanita itu dengan percaya dirinya duduk dan melipat sebelah kaki jenjang dan mengekspose pahanya.


Hendra hanya menatapnya melalui cermin.


"Apa yang kau lakukan?" desisnya dingin.


"Kalian mau makan siang kan? kalau begitu aku bergabung. Aku benci makan sendirian"


"Maaf, tapi kami tak mengundang siapapun, khususnya anda" kini Keira yang berucap sembari memutar kepalanya kebelakang. Menatap langsung matanya. Menunjukan jika dia tak bisa diintimidasi.


"Ayolah. Anggap saja perkenalan aku dan istrimu" jawab Isabel tanpa menghiraukan keberadaan Keira.


Keira kembali ke posisi semula. Dia lantas melirik Hendra yang juga meliriknya, lalu menganggukkan kepala.


Hendra lantas melajukan mobilnya membuat senyum kemenangan tersungging di bibir seksi Isabel.


Hendra spontan mengubah tujuannya. Dia sangat tahu apa yang dipikirkan istrinya. Letaknya cukup jauh dari butik, namun itu tak masalah bagi Isabel selama dia bisa mengganggu moment mereka.


Tak ada yang bersuara selama perjalanan.

__ADS_1


Hendra berbelok dan masuk ke kawasan restoran dengan lahan parkir yang cukup luas. Namun senyum kemenangan Isabel mendadak surut melihat tempat yang akan mereka jadikan tempat makan siangnya.


"Kenapa kesini" tanya Isabel sedikit ketus.


"Makan lah. Mau apa lagi disini? Apa kamu mau buang air besar? didalam juga ada toilet yang cukup nyaman, tapi kamu harus berjongkok untuk mengeluarkannya" tukas Keira sedikit mengomporinya.


"T-tapi.."


Hendra dan Keira membuka seat belt bersamaan dan membuka pintu lalu menjejakkan kakinya di tanah.


Keira menutup pintu namun Hendra menahan pintunya dan melongokan kepalanya


"Apa kau tak mau turun?" tanyanya.


"Kenapa harus disini?" tanya Isabel yang sedikit panik kala melihat restoran yang dituju Hendra adalah restoran masakan khas daerah. Meski cukup luas, namun bukanlah seleranya.


"Terserah kami mau makan dimana. Kamu yang memutuskan ikut, Kami tak mengundangmu bukan? Terserah padamu mau turun atau tidak. Bersiaplah mati lemas didalam sana karena kami tak tahu akan selesai cepat atau tidak" ucap Hendra panjang lebar.


"T-tunggu" sergah Isabel kala Hendra hendak menutup pintunya.


Dia lantas keluar dari mobil dan berdiri di sebelah pintu.


Hendra menutup pintunya dan menguncinya dengan remote.


Hendra lantas beralih ke sisi Keira dan melingkarkan tangannya di pinggangnya.


"Apa kau menginginkan apa yang kuinginkan?" tanya Hendra dengan senyum manis yang tak pernah surut ia tampakkan pada Keira.


"Tentu saja" jawab Keira mantap.


"Sop Iga" ucap keduanya serempak lalu tertawa.


Merekapun melenggang masuk kedalam restoran sunda itu sambil berangkulan di pinggang.


Isabel yang merasa kalah itu menghentakkan stiletto nya dengan kesal dan melangkah pergi memanggil taxi online.


"Dasar kampungan. Kenapa Hendra bisa berselera rendah seperti itu?" sarkasnya yang tak menyadari asal muasalnya yang dari kalangan menengah kebawah.


Lihat saja di pesta nanti, dia akan membuat kejutan.


heh


Senyum licik terukir diwajahnya.


AIOOOO

__ADS_1


KENCENGIN JEMPOL MA HADIAHNYAA😆😆


__ADS_2