Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Calon Mama


__ADS_3

Waktu berlalu. Tak terasa hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan hari ini adalah hari peringatan kematian sang istri.


Bercermin dari kejadian tahun lalu, Hendra memesan buket bunga sekaligus. Untuk dia bawa ke tempat peristirahatan terakhir sang istri, dan untuk dia pajang saat makan malam bersama putri semata wayangnya.


Kali ini Aretha mendampingi sang papa untuk mengunjungi sang mama.


"Malam ini Retha yang masak ya. Pasti lebih enak dari yang papa bikin"


"Oh ya? mmm boleh. Papa jadi penasaran" Hendra melipat kedua tangannya di dada.


"Kapan kamu belajar masak?" tanya Hendra kemudian.


"Kapan papa ada waktu buat Retha?" Aretha menjawabnya dengan pertanyaan yang membungkam Hendra seketika.


"Papa jangan khawatir. Anak papa ini banyak belajar dari ahlinya. Bukankah Retha pernah bilang kalo nanti Retha pasti akan belajar masak saat sudah waktunya?" Aretha mengerlingkan matanya.


"Jangan bilang kalau-"


"Bagaimana kalau iya? apa papa menyetujuinya?"


"Papa akan membunuhnya"


"Sudah kuduga. Papa tenang aja. Retha anak papa ini gak semurahan itu. Meskipun Retha yang ngejar ngejar juga Retha gak sebodoh itu menghancurkan masa depan Retha sendiri. Retha masih punya mimpi yang belum Retha raih. Dan Retha gak akan ngecewain papa sama mama. Tapi Retha punya satu permintaan"


"Apa itu?"


"Carilah teman hidup. Teman hidup yang tulus menemani papa sampai akhir. Karena Retha mungkin nanti akan ikut suami Retha dan papa akan sendirian" ucap Retha sendu.


"Tidak semudah itu, Retha. Seandainya memilih teman hidup itu semudah membeli gorengan"


"Gimana kalo Retha yang pilihin. Retha jamin papa suka"


"Retha. Mamamu-"


"Mama sudah tenang, pa. Life must go on. Mama juga pasti bahagia kalo papa bahagia"


"Papa gak yakin bisa bahagia sama orang lain selain mamamu"


"Itu karena papa menutup hati. Percaya deh sama Retha. Papa butuh partner hidup" Aretha menatap lekat Hendra sang papa. Dan mereka pun tiba di istana peristirahatan terakhir orang yang mereka cintai.

__ADS_1


"Halo sayang. Kami datang. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu masih menunggu ku. Tampaknya sebentar lagi aku akan menamanimu. Retha kita sepertinya menemukan calon tumpuan hidupnya. Dan aku.. aku mungkin tak akan dibutuhkan lagi"


Aretha mengusap lengan sang papa dengan lembut.


"Kamu tenang saja. Aku akan pastikan anak kita berada ditangan yang tepat untuk menggantikanku menjaganya. Setelah itu, kita-"


"Halo, Ma. Apa kabar? Retha yakin mama bahagia disisi Nya" Aretha memotong ungkapan sang papa yang dia tahu arahnya kemana.


"Retha kangen mama. Banyak yang ingin Retha ceritakan sama mama. Retha ingin debat sama mama. Soal sekolah, soal kenakalan Retha, soal laki laki yang Retha sukai" Aretha melirik pada sang papa.


"Retha ingin tau rasa hangatnya dipeluk seorang mama. Mama yang menyayangi Retha dan papa dengan tulus. Retha... Retha ingin meminta satu hal pada mama. Tolong.. tolong ijinkan papa bahagia disini, ma. Lepaskan papa. Retha sedih melihat papa terus murung. Sepanjang hidup Retha, Retha tak pernah mendapati papa tersenyum. Bahkan saat Retha berhasil menjadi juara umum di sekolahpun yang bisa papa lakukan hanyalah menangis. Retha seperti dibesarkan oleh seorang zombi.


Retha harap, mama gak marah kalo Retha menemukan teman hidup untuk papa-"


"Retha, hentikan-"


"Retha gak akan tenang meninggalkan papa sendirian kalo Retha nikah nanti. Atau mungkin.. Retha gak akan pernah menikah biar papa ada yang nemenin terus-"


"Cukup Retha-"


"Posisi mama tak akan tergantikan di hati kami. Tapi hidup terus berjalan, ma. Gak adil rasanya mama sudah tenang dan bahagia disisi Nya, tapi papa terpuruk sendirian. Retha.. Retha juga butuh sosok seorang ibu yang bisa mendengar dan menasihati Retha kala Retha berbuat kesalahan. Retha ingin dipeluk saat Retha butuh sokongan ketika menghadapi masalah. Sekali lagi, tolong lepaskan papa. I love you always, mom" Aretha mengecup karangan bunga mawar putih kesukaan sang mama, lalu menaruhnya sembari meneteskan air mata. Setelah itu berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan sang papa yang kebingungan.


Hendra berbalik dan melangkah tergesa. Dia ingin meminta penjelasan pada anak semata wayangnya itu.


"Retha mana, Ben?" tanya Hendra pada Beno yang terlihat celingukan dan bingung.


"Anu, bos. Non Retha.. emmm.. tadi naik ojol. Gak tau mau kemana. Mau saya susul tapi belum bilang sama bos"


"Sialan. Kamu itu harusnya mentingin Aretha. Dia kan anak gadis. Kalo ada yang nyulik ditengah jalan gimana?"


"Ya elah bos. Nanti kalo saya ninggalin bos, kena marah juga" batin Beno.


"Maaf, bos. Jadi sekarang gimana bos?" tanya Beno yang tak digubris Hendra karena sibuk melakukan panggilan yang tak kunjung diangkat.


"Sialan. Mana dimatiin lagi. Sebenarnya anak itu kenapa?"


Hendra memutuskan untuk mencari keberadaan Aretha, putrinya. Tapi dia tak tahu harus cari kemana. Benar menurut penuturan Aretha. Dia sebagai single parent, tak tahu menahu tentang anaknya. Siapa teman temannya, kegiatan apa yang dia ikuti, bagaimana kesulitan pelajaran disekolahnya.


Kenapa sebagian single parent yang mana adalah perempuan, mereka bisa melakukan segalanya?

__ADS_1


Mereka bisa mencari uang, mengurus rumah sekaligus anak. Bahkan mereka sempat untuk mengajari anak anak mereka untuk belajar.


Sedangkan dia yang seorang laki laki, sudah jelas bekerja mencari uang, tenaga tentu lebih kuat dibanding wanita. Tapi lebih memilih membayar orang untuk mengurus rumah dan dapur. Bahkan lebih baik memasukan sang anak ke kelas bimbel dibanding dia sendiri yang mengajari nya.


Hendra berfikir balik dengan keinginan sang putri agar mencarikannya ibu pengganti.


"Tapi nyari dimana? kelontongan berceceran, grosir juga banyak. Apa ada yang menjual ibu sambung dengan kualitas super?"


Hendra lantas teringat lagi dengan pesan sang anak bahwa malam ini dia yang akan memasak untuk mereka.


"Ben, pulang" titahnya yang memutuskan untuk pulang. Diperkirakan sang anak sudah sampai dirumah untuk menyiapkan bahan masakan.


Koki amatir seperti dia pastilah membutuhkan waktu yang lama dalam mengolah masakan yang cukup menyita waktu itu.


Benar saja. Sesampainya dirumah, bau masakan khas sop iga menguar di ruangan.


Hendra menghampiri. Namun dia terkejut dengan kondisi meja makan yang sudah tertata rapi dengan karangan bunga cantik dan juga beberapa menu makanan.


Serius dia yang buat?


"Bibi mana, Retha?"


"Bibi kan hari ini diliburkan. Mandi dulu gih. Sop nya betar lagi mateng" ucap Aretha dingin tanpa menoleh pada sang papa.


Hendra pun berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Aretha menata piring, dan menyiapkan sup dalam mangkuk masing masing, juga nasi dalam wadah terpisah.


"Waaah, kamu benar benar serius bisa masak. Belajar dari mana?" tanya Hendra antusias sembari meniup sup dan menyeruputnya.


sluurp


"Dari calon mama"


uhuk


uhuk


uhuk

__ADS_1


__ADS_2