Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Tambah Kenceng


__ADS_3

"Arga kenapa? terus barusan bilang apa? ayahnya cuma nganggap teman sama Flo? gak mungkin"


Hendra bertanya tanya dengan dirinya sendiri. Mencerna ucapan sang menantu yang mengganggu pikirannya.


Hendra kemudian berfikir jika dia tak cukup mengenal dan mengetahui tentang keluarga menantunya.


Yang dia ketahui adalah ayah Arga sudah meninggal dan mereka tak mempunyai sanak saudara. Bahkan kakek nenek dari Flo pun Hendra tak tahu.


"Ha.. ngobrol lagi"


Hendra merasa harus mengetahui lebih lanjut mengenai masa lalu keluarga besannya.


Yaa sambil menyelam minum kopi kan boleh. Pikir Hendra yang merapikan rambutnya didepan cermin sembari bersiul.


Hendra memutuskan untuk pulang bersama anak dan menantu nya.


Ke rumah sang besan tentunya.


Arga yang datang ke kantor bersama Aretha sang istri dengan mengendarai motor matic yang baru dibelinya minggu kemarin atas permintaan sang istri pun terpaksa meninggalkan motornya di parkiran kantor, karena mereka pulang ikut mobil Hendra.


Tentu saja Hendra yang memaksa. Toh besok pagi mereka juga berangkat bersama.


Arga dan Aretha bukannya tidak tahu maksud Hendra ikut pulang ke rumah Keira. Mereka hanya menunggu moment 2 insan yang masih jaga image itu saling mengungkapkan isi hati mereka.


"Papa kalo mau ke rumah mami ya dateng aja sendiri sih. Kenapa harus barengan gini?" keluh Aretha yang duduk sendirian di jok belakang.


"Ya biar gak boros bensin, sayang. Kan kata mami flo gak boleh boros. Lagian kita satu tujuan kan?" jawab Hendra enteng sembari terus fokus menyetir. Sesekali dia melihat cermin untuk merapikan rambutnya dan bersiul.


Aretha memutar bola matanya, jengah dengan tingkah sang papa yang tak mengerti dengan keinginannya.


"Tapi Retha kan jadi sendirian duduk di belakang. Mana gak bisa meluk Arga" protes Aretha yang membuat Arga menggelengkan kepalanya dengan tingkah ceplas ceplos Aretha yang menurun dari mamanya.


Arga sebenarnya jadi bingung. Yang anak mama siapa sih, kok bisa sifat istrinya sangat mirip dengan sang mama.


Mungkinkah itu juga yang membuatnya menyukai Aretha?

__ADS_1


"Sebentar aja, sayang. Nanti kalo nyampe rumah kan bisa tuh puas puasin peluk Arga. Jangan dikasih longgar ya. Ntar lari" saran Hendra membuat Arga tambah menggelengkan kepala.


Sebenernya ini keluarga apaan sih? batin Arga.


"Bener ya. Awas kalo nanti dirumah ganggu Retha" ancam Aretha.


"Iya iya. Bawel amat anak papa. Kemaren kemaren ngerengek pengen ditemenin papa terus. Sekarang aja gak mau diganggu papa"


"Ya udah sih, papa kan bisa ganggu mami" ceplos Aretha membuat Hendra meliriknya sekilas melalui spion. Namun dia tak berani membalas ucapan asal sang anak. Karena tujuannya kesana ya memang ingin mengganggu besan imutnya itu.


Mereka tiba di basement apartemen Keira. Hendra baru menginjakkan kalinya di gedung apartemen besannya.


Dia menghafal angka lantai tempat unitnya berada.


Jantungnya berdetak kencang kala lift hampir sampai di latai 7.


Saat pintu lift terbuka, jantungnya berdetak tambah kencang. Dia memegangnya seolah bisa menahannya agar tak melompat keluar.


Dia baru merasakan gugup yang luar biasa seperti ini. Dulu bahkan dia tak pernah merasakan kegugupan yang teramat sangat seperti sekarang.


Hendra menghentikan langkahnya jauh di belakang Aretha kala terlihat Aretha menghadap sebuah pintu dan mencoba membuka kuncinya.


Dia benar benar tak bisa mengontrol detak jantungnya.


Saat Aretha hendak melangkah masuk, dia baru sadar jika sang papa masih berada didepan pintu lift sembari tertegun.


"Pa, ngapain disitu. Ayok mau masuk ga?" ajak Aretha yang membuat Hendra segera menyeret kakinya mendekat.


"Ada siapa sayang?" tanya Keira yang tiba tiba menyembulkan kepalanya.


Hendra terkejut dan langsung berbalik. Tapi dia diam mematung.


Aretha yang melihat tingkah sang papa menahan semburan tawanya.


"Cih, badan aja segede gaban. Nyali nya segede kacang" cibir sang anak dalam hati.

__ADS_1


Aretha tak mau membuat papanya merasa canggung. Dia lantas masuk menyusul sang suami. Biarlah mami yang mengatasi kegugupan papanya.


Toh tadi siang mereka bisa sedekat itu.


"Hendra.. kamu gak kan masuk?" tanya Keira sembari menyentuh pundaknya lembut.


Hendra berbalik dengan keringat yang bercucuran.


"Ya ampun. Kamu demam?" Keira panik melihat penampakan Hendra yang berkeringat hebat dengan bibir yang memucat. Dia segera memeriksa dahi Hendra dengan telapak tangannya.


"Gak panas" heran Keira sembari mengernyitkan dahi.


Hendra mengambil tangan Keira dan meletakannya di dadanya.


"Disini yang demam"


Keira merasakan debaran jantung Hendra yang tak biasa. Dia pun langsung menahan tawanya.


"Papa cepet masuk ih. Kenapa sih? kayak yang mau ngapelin anak gadis aja" sarkas Aretha membuat Keira menutup mulutnya karena tawanya tak bisa dia tahan.


"Jangan ngetawain. Ini gimana?" keluh Hendra yang meminta solusi perihal jantungnya.


Keira celingukan.


Lalu..


Cupp


Keira mengecup bibir Hendra sekilas sembari mengelus pipinya.


"Udah?" tanyanya kemudian sembari tersenyum malu.


Hendra yang sangat gugup pun tertegun. Pipinya memerah.


"Malah tambah kenceng gimana ini?"

__ADS_1


Keira tergelak, lalu menarik tangan Hendra untuk masuk kedalam unit apartemen sederhananya.


__ADS_2