Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Fitting Dress


__ADS_3

Pagi menjelang.


Meski semalaman Keira menerima tanggung jawab Hendra, namun tak membuatnya berleha leha untuk bagun siang.


Apalagi mengingat jika mereka sedang disinggahi tamu.


Keira seperti biasa akan sedikit membereskan rumah yang bisa dia jangkau, sisanya adalah ART yang mereka panggil 3 hari sekali. Keira lantas menyiapkan bahan untuk membuat sarapan.


Semua orang masih terlelap karena waktu masih terlalu awal untuk memulai aktifitas.


"Ma.." seru Arga diambang pintu dapur.


"Ya, sayang. Kamu sudah bangun?"


Arga lantas memindai sekitar, berjaga jaga jika ada orang yang sudah bangun.


Dia lantas merogoh saku celana pendeknya dan memberikan beberapa lembar kertas.


"Tolong kuatkan hati mama. Kita hadapi ini sama sama"


Arga memberi pesan sembari memeluk sang mama erat lalu mengecup samping kepalanya.


Satu hal yang sangat dia rindukan.


Arga tahu, sedikit waktunya untuk bisa mengobrol bersama mama. Dia hanya tak mau membuat mamanya penasaran dan menyalahkannya suatu saat.


Meski kenyataannya sulit, mereka sudah berjanji untuk menghadapinya bersama.


Keira yang menerima lembaran kertas itu bergetar tangannya.


Dia takut akan kenyataan yang akan dia ketahui melalui kertas itu.


Dia lantas menyimpannya di saku dan berniat membacanya saat sedang sendiri.


"Bukankah papa sudah bilang kalo mamamu sekarang milik papa?"


Hendra tiba tiba sudah menyilangkan kedua tangannya di dada.


Dia lantas menarik mundur Arga dan menggantikannya memeluk sang istri.


"Morning my sunshine" sapanya parau.


"ck. Papa pelit. setitik aja gak boleh" cebik Arga yang belum puas memeluk ibunya.

__ADS_1


Keira hanya tertawa sambil menikmati hujaman kasih sayang dari kedua jagoannya.


Tak lama para penghuni kamar keluar untuk menghirup udara segar di pagi hari.


Seperti biasa Hendra akan mengajak Arga joging. Dikarenakan ada 1 member lagi maka Alex pun ikut serta. Pastinya dipaksa Hendra.


Dia tak mau memberinya kesempatan untuk dekat atau sekedar mengagumi istrinya.


Ratih yang dibantu perawat untuk sekedar berjalan jalan disekitar halaman rumah untuk menggerakan badannya, merasa bahagia seolah mendapatkan keluarga baru. Seandainya bisa, dia ingin melupakan dan melepaskan permasalahan keluarganya dan menikmati masa tuanya dengan orang orang baru. Namun keinginan selalu tak sesuai kenyataan.


Rencananya Ratih dan Alex akan pindah ke penthouse Hendra siang ini. Alex menolak untuk mendapatkan pesangon. Tabungan dari gajinya beberapa tahun ini cukup untuk membiayai kehidupannya dengan sang ibu. Alex malahan merasa sungkan karena diizinkan tinggal di penthouse pribadi Hendra. Alex memohon pada Hendra untuk menyelamatkan harga dirinya dengan tidak membantu biaya perawatan sang ibu. Biarlah dia dengan usahanya mengurus ibunya.


Dipinjami tempat tinggal gratis pun sudah lebih dari cukup. Dia bahkan menolak niat Keira untuk merawat ibunya di rumahnya.


"Sayang, bersiaplah. Hari ini ada fitting dress buat resepsi" teriak Hendra pada Keira yang masih berada di kamar mandi setelah membersihkan diri. Setelah mendapat telfon dari desainer kenalannya, Hendra pun segera bersiap dan masuk ke kamar mandi di kamar tamu yang sudah kosong itu karena Ratih dan Alex telah pindah ke penthouse.


Keira terkesiap dan menghapus jejak air matanya kala mendengar perintah dari Hendra.


Dia lantas menggabungkan surat surat milik mendiang istri Hendra dan mendiang suaminya, melipatnya dan menyimpannya sementara dalam bath robe nya.


Keira segera bersiap. Saat menatap cermin, mata sembabnya sedikit mengganggu. Hendra tak mungkin tak bertanya. Dia lantas menyapu sedikit concealer di area kantung matanya untuk menyamarkan nya.


"Kamu sudah siap?" Hendra masuk ke kamar dalam keadan sudah rapi. Lantas mendekati Keira yang sedang menata rambutnya di depan cermin.


Keira memutar bola matanya. Jengah dengan gombalannya, meski dia menyukainya.


"Biarin aja mereka kena serangan jantung. Jadi kamu gak ada saingan" tukasnya membuat Hendra terkekeh.


"Sudah siap?" tanya Hendra kala melihat Keira telah selesai dengan rambutnya.


Keira menoleh dan menengadah karena Hendra berdiri dibelakangnya.


Dia lantas memberikan senyum terbaiknya dan mengangguk.


Hendra menunduk dan mengecup bibirnya.


"You look so georgeous, honey" bisiknya dengan menatap dalam. Tatapan penuh cinta yang tak kuat Keira tampung dalam hatinya. Hendra terlalu banyak memberikan cinta padanya. Bagaimana bisa dia memberikan luka padanya.


Mereka tiba di butik langganan Hendra. Tampak dari luar melalui jendela tembus pandang jika kondisi di dalam tengah sibuk.


"Apa sedang banyak pembeli?" lirih Hendra yang terheran dengan kondisi butik temannya yang tak biasa.


Hendra segera meraih tangan Keira untuk digenggam dan menggiringnya masuk.

__ADS_1


tring


tring


Bunyi bel diatas pintu berbunyi kala mereka membuka pintunya yang terbuat dari kaca itu.


Biasanya saat Hendra memasuki butik. dia langsung disambut karyawan. Namun kini semua karyawan tampak berlarian dengan cemas sambil membawa 1 potong gaun masing masing.


Salah satu karyawan yang mengenali Hendra lalu mendekatinya dengan nafas tersengal.


"Ah, tuan Hendra. Selamat datang, anda sudah ditunggu di lantai 3. Permisi" karyawan itu melanjutkan kepanikannya dan menaruh gaun yang tadi dia bawa lalu menukarnya dengan yang lain dan kembali berlari kearah dalam.


"Apa ada Ratu Eliza beth III mampir?" gumam Keira terheran.


Hendra mengacuhkan kondisi yang ada. Toh itu bukan urusannya. Dia lantas mengajak Keira untuk naik ke lantai 3 melalui tangga yang melingkar indah.


Butik itu juga merupakan tempat yang biasa digunakan para calon mempelai untuk mengadakan foto pre-wedding.



Mereka melangkah mantap menuju lantai 3. Meskipun beberapa kali harus berpapasan dengan para karyawan yang berlari turun naik dari lantai 2, Keira menikmati desain interior butik yang sangat mewah ini.


"Hendra"


Terdengar suara lembut memanggil nama Hendra saat mereka hendak menginjak anak tangga menuju lantai 3.


Hendra dan Keira serempak menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Mereka diam di tempat kala melihat seorang wanita seumuran Keira tampak kesulitan dengan gaun yang belum sempurna melekat di tubuhnya, membuat karyawan yang tengah mengurusnya kesulitan untuk mengancingkan sleting di punggungnya.


"Isabel" desis Hendra terdengar kesal melihat wanita berparas cantik dengan rambut hitam diikat ekor kuda namun tampak tipe dominan tersenyum nakal padanya.


"Isabel? bukankah dia.." batin Keira menggantung kala menebak wanita yang kini berdiri tegak di hadapan mereka. Ralat, dihadapan Hendra tepatnya.


"Kamu langganan butik ini juga?" tanya wanita itu dengan mengangkat dagunya, menampilkan betapa arogannya wanita ini.


cih


Keira merasa jijik dengan penampakannya. Wanita ini sangat menunjukan ketertarikannya pada sang suami.


Hendra mundur 1 langkah kala jari lentik itu hendak merayap di bahu kekarnya sehingga tangan itu mengambang diudara.



APA LIAT LIAT

__ADS_1


POV MAMI FLO🤭


__ADS_2