Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Berkelas


__ADS_3

Hendra memutar tubuh Keira disela sela dansanya. Sebenarnya mereka bercanda. Keira sedang berperan sebagai Cinderella yang bertemu dengan pangeran impian orang lain. Tentu saja karena Keira beberapa kali melihat tatapan sinis wanita wanita yang ingin berdansa dengan besannya ini.


Keira memberitahu dengan suara lembut dan setengah berbisik agar wanita yang terlihat iri dengannya tak mendengar.


"Posisi jam 12, posisi jam 2, lalu... putarkan aku..." Hendra tertawa dan mengikuti arahan besannya ini dengan kembali memutar Keira berporos pada tangannya.


"Ha.. posisi jam 7 dan jam 3.. apa kau mau menggilir mereka?"


Hendra kembali tergelak.


"Hahaha... Menggilir? apa tidak ada kosa kata lain?"


"Terserah. Aku siap mundur. Kasihan mereka menunggu terlalu lama. Mungkin sekarang betisnya sudah bertelur" kelakar Keira dengan santai sambil terus bergerak seirama dengan Hendra.


"Hahaha... biarkan saja. Biar bisa dipanen. Harga telur mahal"


Kini Keira yang tergelak.


"Bisa ae bapak CEO. Sampingannya bisnis telur ya. Lagian diantara wanita wanita berkelas itu, aku penasaran wanita seperti apa yang bisa menarik perhatianmu. Kamu terlihat cuek dan dingin. Apa itu senjatamu untuk menarik perhatian para wanita?" mata Keira memicing.


"Mmmm.... aku lebih baik berteman dengan wanita sepertimu daripada mengenal mereka"


"Wanita sepertiku? Seperti apa?" Keira mengetatkan rahang lalu sedikit mencubit pinggang Hendra.


Jauh dari tempat mereka bercengkerama, 2 pasang mata tengah memperhatikan mereka dengan perasaan haru.


"Aku baru melihat papa tersenyum dan tertawa lagi" Aretha menyandarkan kepalanya di bahu laki laki yang kini menjadi suaminya.


"Iya. Aku juga baru melihat mama bercanda dengan orang lain lagi. Selama ini, mama selalu menghindar dan menutup diri kala ada yang mencoba mendekatinya di toko"


"Mami adalah keajaiban"


Arga mengerutkan dahi kala mendengar penuturan wanita yang kini resmi menjadi istrinya.


"Saat aku hampir menyerah sama kamu, mami merengkuhku, dan menjadikanku putri kecilnya. Padahal dari rumah aku sudah sarapan, tapi gak tau kenapa, kalo belum makan masakan mami rasanya belum kenyang. Dan sekarang, mami berhasil mengeluarkan senyum dan tawa langka dari papa. Bukankah itu keajaiban?"


"Mmm.. ya.. kamu benar. Itulah mama. Wanita kesayanganku. Aku harap kamu gak cemburu sama mama" Aretha memukul paha Arga kala mendengar penuturannya.


"Mama bahkan bisa menutupi luka batinnya dengan tawa nya itu"

__ADS_1


Aretha mengerutkan dahi.


"Mami punya luka batin? perasaan mami orang yang hepi"


"Itulah hebatnya mama. Bahkan dia menutupinya dari aku, anaknya. Tapi aku bukan anaknya jika tak tahu kesakitan yang mama alami selama ini. Aku pura pura gak tau demi menghormati usahanya. Aku ingin menjadi pengobat hati mama. Tapi tetap mama gak mau membuka diri"


"Aku harap, mama juga mendapat keajaiban, seperti dia yang menjadi keajaiban kita"


"Ga, liat deh ada bibit pelakor tuh. Kira kira papa sama mami bakalan gimana ya?" Aretha menunjuk seorang wanita dengan tubuh tinggi semampai, berambut panjang, tubuh indahnya dibalut gaun biru navy panjang dengan belahan se paha. Membuat semua mata pria tak melewatkan sedikitpun untuk bisa menikmatinya. Kecuali Arga dan Hendra.


"Halo, tuan Hendra. Bisakah saya mengambil bagian?" tanya sang wanita sekaligus menawarkan diri.


Hendra dan Keira sontak melirik.


Keira mengerti dan hendak mundur. Selain itu kakinya sudah pegal.


Hendra melirik Keira yang hendak mundur.


"Maaf, tapi saya dan besan saya sudah lelah. Silahkan menikmati pestanya"


Hendra tersenyum dengan penolakannya, mencoba tetap bersikap ramah. Namun senyuman itu dia tujukan pada Keira, karena Hendra sedikitpun enggan mengumbar senyum pada sembarang orang.


"Boleh. Terima kasih" Keira tersenyum manis dengan tawaran besannya.


Hendra merangkul pinggang ramping Keira, membuat si wanita merasa kalah sebelum berperang.


"Kalau begitu, ijinkan aku bergabung dengan kalian" si wanita dengan percaya diri melangkah dan mensejajarkan diri dengan langkah mereka. Tepatnya berjalan di sebelah Hendra.


Hendra dan Keira tak menanggapi. Mereka tetap melangkah kearah makanan yang mereka suka.


Sop Iga.


Ya, Hendra secara khusus meminta menu ini pada pihak cattering. Selain menu favoritnya, juga menghormati sang istri yang tak bisa melihat dan merasakan moment berharga anak semata wayangnya.


Tanpa aba aba mereka menuju panci yang sama.


Sedangkan si wanita yang menyukai menu european food tak bisa memaksakan diri untuk menyantap makanan kampungan. Terlebih itu sop daging yang wajib dimakan dengan nasi. Barapa kalori yang harus dia bakar setelah ini? kerja keras, benar benar merepotkan.


Tapi yang dia lihat, Hendra dan Keira yang tertawa bersama karena kesukaan yang sama masing masing mengambil kursi di meja yang sama, lalu menikmati hidangan itu dalam mangkuk masing masing.

__ADS_1


Keira tampak tak memperdulikan berapa kalori yang masuk dalam tubuhnya. Dia malah terlihat rakus karena kembali mengambil sop yang mengepul itu 2 mangkuk.


Si wanita tampak kesal.


Tidak, dia tak bisa mengorbankan dirinya.


Akhirnya dia memilih salad, dan bergabung di meja mereka.


"Tuan Hendra. Tampaknya kerja sama kita harus diperpanjang masa kontraknya. Karena jelas menguntungkan bagi perusahaan kita" si wanita memulai percakapan sambil memakan makanannya dengan elegan.


Namun saat Hendra tak terdengar menanggapi, dia menengadahkan kepalanya.


Hendra tengah tertawa menanggapi sikap Keira yang dia anggap kampungan.


Hendra tengah sibuk memisahkan daging dari tulang dan memindahkan daging yang sudah terpisah itu ke mangkuk Keira, setelah itu dia memakannya bersama.


Dan lagi, mereka tampak berebut daging dalam mangkuk sambil tertawa seolah makanan itu adalah mainan yang tengah diperebutkan.


"Ekhem. Tuan Hendra, apa anda mendengarkan saya?" si wanita berdehem dengan keras, merasa kesal karena diabaikan.


"Ah? ya ya, saya mendengarkan. Hanya saja saya tak membahas bisnis saat ini" jawab Hendra dengan acuh.


"Kemarikan, itu bagianku.." mereka tampak kembali memperebutkan daging dalam mangkuk sambil bercanda.


brakk


Si wanita dengan kesal menggebrak meja dan pergi membawa rasa dongkol.


"Kamchagiya.." Keira sontak terkejut karena gebrakan itu.


"Kamu bener bener tega ya sama anak orang. Tanggung jawab merajuk tuh cewek. Nanti kalo dia mutusin kerjasamanya gimana?"


"Bodo amat. Lagian kontrak kerjasamanya juga udah beres. Gak begitu menguntungkan. Paling cuma bisa beli permen. Mau nambah lagi?" Hendra menanggapi dengan acuh, sambil menawarkan sop iga lagi. Sungguh menyenangkan berebut makanan dengannya. Berasa kembali ke masa kanak kanak.


"Enggak ah. Takut gendud. Tuh liat cewek itu aja makannya cuma daun. Jadi bisa seksi. Aku mau coba ah" Keira hendak bangkit, namun Hendra segera menahannya.


"E eh, mau kemana?"


"Ngambil yang kek begituan, biar sama kek cewek berkelas" Keira tahu jika wanita tadi mencibirnya dalam hati dan mengatainya kampungan.

__ADS_1


"Ck, berkelas apanya? yang ada malah kelaperan. Udah sini makan lagi. Berantem butuh tenaga" Hendra menariknya untuk kembali duduk.


__ADS_2