
"Pak, ada bapak Arga ingin melapor" suara sekertaris Hendra menggema di ruangan Hendra yang berisi dua orang namun hening itu melalui intercom.
Hanya suara cecapan 2 mulut yang saling me-*****.
plok
Keira melepaskan pagutan bibir mereka yang mulai liar.
"Arga?"
Keira panik dan mendorong Hendra kembali ke kursi kebesarannya, sedikit merapikan penampilan Hendra lalu dia segera melompat ke sofa sembari merapikan rambutnya yang acak acakan.
Keira menghapus jejak air liur disekitar bibirnya dan melipat lipat bibirnya yang terasa kebas.
ceklek
Arga melangkah masuk dengan gagah dan tergesa.
"Pak- mama? mama ngapain disini?" seruan serius Arga terpotong kala mendapati sang mama tengah berada didalam kantor papa mertuanya.
Keira hanya menampakkan gigi ginsul nan putihnya sembari mengangkat kantong plastik berisi kotak bekal sejajar kepalanya.
"Kami baru saja selesai makan siang. Mama mu baru saja membawakan makan dan memaksa papa agar istirahat. Fiuhh.. kamu tau kan papa kalo udah kerja suka lupa makan" jelas Hendra pada Arga panjang lebar.
Yang sangat membuat Arga mengernyitkan dahi.
Bos nya ini tak pernah menjelaskan alasan dengan panjang lebar.
Arga menatap keduanya bergantian, lalu mendapati keringat di dahi papa mertuanya yang kemudian dia seka.
Lalu beralih menatap sang mama.
Arga menyipitkan mata.
Memperhatikan tingkah mama nya yang terus menjilati dan memegang bibirnya yang terlihat..
Bengkak?
Keira yang sadar diperhatikan dan mulai dicurigai sang anak segera bangkit dan melompat keluar ruangan sambil teriak berpamitan.
"Aku pulang dulu.." pamit Keira yang langsung melesat memasuki lift yang pintunya terbuka.
"Ok. Hati hati sa- Flo.."
Balas Hendra yang hampir salah meneriakan nama panggilan besannya.
Mereka seperti sepasang remaja yang hampir kedapatan berbuat mesum.
Arga memiringkan kepala. Sedikit mencerna situasi awkward yang ada diantara mereka.
"Ada masalah apa, Ga?" tanya Hendra membuyarkan lamunan Arga.
"Ah iya pak. Apa ponsel bapa rusak?" tanya Arga yang merasa kesulitan menghubungi sang bos besar.
Hendra mengambil ponselnya yang berada di laci meja. Dia sengaja menaruhnya didalam laci agar tak mengganggu konsentrasinya dalam merampungkan program barunya.
Hendra melihat ada beberapa notifikasi peringatan serangan sistem dan beberapa missed call dari Arga.
__ADS_1
"Apa ini?"
Hendra langsung membuka main program dan hendak memasukan password WAN (wide area network).
"Sebaiknya bapak tak melakukan itu" Arga segera memperingatkan.
Membuat Hendra geram karena dia hampir saja kecolongan.
Ya.
Disaat kita diserang panik, kita akan reflek melakukan upaya pencegahan untuk melakukan perlindungan, namun kita malah membuka akses agar mereka bisa dengan mudah masuk dan menyerang lebih luas.
"Sialan" desis Hendra yang merasa kecolongan.
"Apa kau membawa laptop mu?"
"Ya pak"
"Ambil kursi. Kamu log in" Hendra menulis kata sandi di secarik kertas lalu menyodorkannya pada Arga.
Arga segera masuk dan bergabung dalam program anti-hack milik Hendra.
Mereka berperang dalam dunia digital.
Hendra berhasil mengidentifikasi IP pengguna penyerang sementara Arga dengan kemampuannya terus melawan serangan yang dia duga lebih dari 1 orang itu.
Hendra cukup terkejut karena alamat penyerangnya berada di gedung yang sama dengan kantor mereka.
"Ada penghianat rupanya" gumam Hendra yang bisa didengar Arga.
"Lanjutkan" titah Hendra yang langsung membantu Arga dalam menyapu bersih penyerang.
Berhasil.
Hendra bahkan mengirim virus untuk menghancurkan soft ware lawan.
Hendra dan Arga merasa lega karena berhasil mempertahankan keamanan perusahaan dari kejatuhan.
Hendra menepuk pundak menantunya dengan bangga.
"Terima kasih nak. Aku lega perusahaan ini bisa ada penerus. Aku tenang meninggalkannya untuk kalian" ucap Hendra lega.
"Papa mau kemana memangnya?" tanya Arga terheran dengan kalimat ambigu mertuanya.
"Beno, cari peretas di perusahaan kita. Jika ada yang mengeluh tentang serangan virus, itu orangnya" titah Hendra pada Beno melalui sambungan telpon.
"Peretas itu berasal dari perusahaan kita?" Arga terkejut dengan temuan mertuanya.
Hendra hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana aku bisa menggantikan papa jika masalah ini aku tak bisa menanganinya?"
Hendra tertawa ringan.
"Kamu tenang saja. Itu hanya sebatas status. Jika aku tak ada, mereka akan menunjukan taring mereka. Dan kita bisa mengetahui dengan segera penghianat di perusahaan ini" ucap tenang Hendra sembari memainkan jepit rambut milik Keira yang tertinggal.
"Jadi.. maksud papa, papa akan mengawasi dibelakang layar?"
__ADS_1
"Tepat sekali" jawab singkat Hendra menganggukan kepala sembari tersenyum menatap dan memainkan jepit rambut itu.
Arga memperhatikan sikap mertuanya yang tak biasa.
"Ada hubungan apa papa dengan mama?" akhirnya Arga mengutarakan pikirannya. Dia tak mau menduga duga. Dia juga tak bodoh. Di cukup tahu bagaimana sikap orang yang sedang jatuh cinta.
Hendra menghentikan lamunannya dan beralih menatap Arga karena pertanyaan Arga.
"Kami hanya berteman. Ibumu sangat menyenangkan"
Arga terlihat kecewa. Matanya tampak kosong meski menatap Hendra.
"Ya, bahkan ayahku saja memilih berteman dengannya" lirih Arga yang kemudian bangkit dan melangkah keluar dari ruangan sang mertua dengan gontai.
Dia ingin seseorang mencintai ibunya dengan tulus.
Dia tak mungkin memberikan cinta sebagai seorang pria.
Dia ingin ibunya dicintai sepenuh hati oleh seseorang selain dirinya.
Bagaimana bisa dia bahagia, sementara ibunya tidak.
Mungkin ibunya akan bilang jika dia bahagia hanya melihat anaknya bahagia.
Tapi itulah seorang ibu.
Selalu mendahulukan kebahagiaan anak anaknya ketimbang kebahagiaannya sendiri.
"Bro, lu dari mana aja, men?" Tommy menepuk lengan Arga. Membuatnya terhenyak karena terkejut.
"Ashu lo, ngagetin. Biasa aja kali. Napa, kangen ma gue?" jawab asal Arga yang tak bersemangat.
Arga menaruh laptopnya kembali dan membereskan kekacauan di ruangannya karena sedari tadi dia kewalahan menghadapi peretas dan sulit menghubungi papa mertuanya. Dia sempat frustasi karena belum pernah dikalahkan sebelumnya. Dan ternyata penyerangnya lebih dari 1 orang. Pantas saja dia kewalahan. Dikeroyok mana ada yang bisa bertahan. Kecuali jika dia adalah seorang master seperti papa mertuanya.
"Lo kemana mana bawa laptop? pantesan gue cari cari mo pinjem malah ngilang ma orangnya"
"Ngapain lo minjem laptop gue? kan bisa pinjem punya yang lain?" dahi Arga berkerut.
"Yang lain pelit ga"
"Emang gue kaga?"
"Yah elu kebangetan jadi sobat. Udah gue kasih restu biar bisa merit ma primadona kuta eh malah ngelunjak"
"cih. Restu apaan? emang siapa elu? lagian komputer lu kenapa pake minjem punya orang segala? ya pasti pada dipake lah" sarkas Arga yang merasa terganggu dengan rengekan teman kerjanya ini.
"Komputer gue kena virus, bro. Gue minjem punya lo ya?"
"Virus?"
Arga tiba tiba teringat dengan perintah papa mertuanya pada asistennya.
Arga memindai Tommy.
Apa mungkin Tommy adalah si peretas yang tadi menyerang firewall perusahaan? kalau pun benar, mereka ada 2 orang.
Kira kira, satu orang lagi siapa?
__ADS_1