Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Penyekapan


__ADS_3

Isabel mendorong masuk Keira kedalam mobil dengan kasar. Sebenarnya Keira bisa saja melawannya, hanya saja gaun pengantinnya membuat pergerakannya tak leluasa.


Saat Isabel juga sudah masuk dan mobil segera melaju, Isabel memindai tubuh Keira dengan semacam alat detektor logam.


"Heh, sudah kuduga" ucap sinis Isabel saat dia merasa menemukan alat pelacak pada tubuh Keira yang di selipkan dalam kalung berlian miliknya.


sreett


Isabel menarik paksa kalung itu dan menginjak bagian pelacaknya hingga remuk dengan heels nya.


Bughh


Keira memberanikan diri memukul wajah Isabel membuat hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Lacur sialan" desisnya.


Buugghh


Isabel membalasnya dengan menghantamkan alat pelacak itu pada Keira hingga pingsan dalam sekali hantaman lalu jatuh dengan posisi membungkuk.


"Cih. Berani macam macam denganku" Isabel menghempaskan asal alat pelacak yang sedikit hancur itu ke bawah.


"MAMIIIII....." teriak Aretha sambil menangis dan mengejar mobil SUV berwarna hitam tanpa plat nomer itu diikuti Arga, Hendra, Beno, Alex dan Adam tentu saja.


"PAPA.. KEJAR MAMI, PA.. KEJAR MAMIII...." dalam pengejarannya Aretha terus berteriak memohon pada Hendra, papanya, hingga tenaganya sudah tak mendukungnya dan berhenti dengan nafas tersengal sengal. Namun tangisnya tak bisa ia hentikan.


Aretha jatuh pingsan kemudian membuat Arga dan Hendra panik dan segera meraihnya dan membopongnya.


Hendra sempat bertanya pada Beno.


"Sudah kau dapatkan?"


Beno menjawab dengan anggukan.


Aretha segera dibawa ke kamar yang disediakan pihak wedding planner sebagai ruang ganti pengantin.


Karena tidak ada tempat tidur di ruangan itu, Aretha dibaringkan di sofa panjang. Untung saja Adam selalu membawa peralatan medisnya kemana mana untuk berjaga jaga jika mendapatkan situasi darurat.


Adam lantas memeriksa Aretha. Ada yang aneh menurutnya dengan denyut nadinya. Dia memastikannya sekali lagi.


"Bagaimana kondisi istri saya, om?" tanya Arga cemas.


"Sepertinya kamu akan menjadi ayah"


degg


"Hah? apa hubungannya dok?" tanya Arga dengan linglung. Antara shock karena musibah yang menimpa sang mama dengan berita yang dirasa salah dengar.


"Istri kamu baik baik saja. Saat ini dia sedang mengandung, harap dijaga baik baik" jelas Adam agar Arga tak salah tangkap lagi.

__ADS_1


"Tapi.. tapi.. trus mama saya gimana om?" tanya Arga masih dengan kebingungannya.


Adam menggelengkan kepalanya.


'Dasar anak Jodi' batinnya.


Hendra lantas menepuk pundaknya dan merangkulnya.


"Selamat, nak. Jaga istrimu baik baik. Berdo'alah agar mamamu baik baik saja. Papa akan usahakan yang terbaik untuk menyelamatkan mamamu"


Air merembes dengan deras dari pelupuk mata Arga. Dia lantas merengkuh Aretha yang masih tak sadarkan diri.


"Sayang, aku berhasil sayang. Aku bisa hamilin kamu" Arga tergugu. Dia teringat ejekan sang istri yang tak bisa menghamilinya.


Hendra dan Adam tak percaya dengan kelakuan anak Keira. Mereka pikir hanya ibunya yang somplak. Ternyata mereka salah.


"Bos, sinyalnya menghilang" seru Beno didepan laptop.


Mereka berkumpul di ruangan itu.


"Apa?" Hendra lantas mengambil alih laptop dan memeriksanya.


Sinyal yang dipancarkan melalui kalung Keira telah hilang tak jauh saat mobil itu meninggalkan kawasan pesta.


Lalu sinyal yang Beno tembakkan ke bodi mobil menghilang disekitar hutan. Mungkin karena sinyal buruk atau jangkauan terlalu jauh.


"Kita ikuti titik terakhir sinyal menghilang, dari situ kita bisa menyusuri area. Cari semacam bangunan terbengkalai, gubuk atau istal dan semacamnya" titahnya pada Beno yang di balas anggukkan. Lalu dia beranjak dan menghubungi beberapa anak buahnya.


"Papa juga harus selamat" balas Arga mendo'a kan papa sambungnya.


Hendra lantas membuka tuxedo dan berganti kaos Tshirt yang dia bekal.


Entah kenapa feelingnya ingin memasang pelacak pada kalung Keira, juga tiba tiba ingin membawa t shirt. Ternyata kejadian ini jawabannya.


"Sayang, bertahanlah.. aku datang.." harap Hendra bergumam.


Hendra membawa 3 mobil. 2 diantaranya berisi pengawal berkemampuan khusus yang Beno panggil. Jumlah mereka ada sekitar 14 orang. Hendra tak tahu Isabel punya berapa orang untuk mengawalnya. Setidaknya dia berusaha secepat mungkin sambil menunggu bala bantuan dari pihak kepolisian yang sudah Beno berikan laporan atas kasus penculikan.


Hendra tak peduli dengan ancaman Isabel yang memintanya untuk tak membuntutinya.


Hendra menunggu panggilan Isabel untuk mengetahui negosiasi apa yang dia minta sebagai penebus kebebasan istrinya.


"Bos, disini adalah titik terakhir sinyal menghilang" ucap Beno menghentikan mobilnya di jalanan sepi dengan rimbunnya pepohonan di sisi kiri dan kanannya.


"Periksa radius 500m"


Mereka langsung berpencar mencari keberadaan bangunan yang diperkirakan bisa menjadi tempat penyakapan.


Tak berapa lama terdengar suara dari handy talkie.

__ADS_1


"Lapor, nihil bos"


"Disini juga nihil"


"nihil, bos"


Laporan itu terdengar silih berganti.


"Kembali dan lanjutkan pencarian"


Mereka segera kembali sesuai perintah dan melanjutkan pencarian dengan mobil. Beberapa orang memindai menggunakan teropong melalui sun roof yang dibuka sementara mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.


Hendra menyiapkan beberapa orang terlatih ini karena mendapat informasi dari Alex tentang kegilaan Isabel dalam ambisinya.


Kerap kali kekerasan dia lakukan dengan membayar orang lain demi memuaskan keinginannya.


Berhubung Isabel adalah salah satu tamu yang diundang untuk mewakili perusahaan Hari Tan, maka Hendra berinisiatif bersiap. Yang tak dia ketahui adalah Keira juga menyiapkan sesuatu untuk berjaga jaga.


brakk


Pintu rumah kayu di tengah hutan yang jauh dari lokasi sinyal terakhir ditemukan Hendra dibuka dengan kasar.


Keira didorong masuk hingga tersungkur di lantai kayu.


Isabel hanya mempunyai 1 orang bertubuh kekar untuk mendampinginya melancarkan aksi. Dia tak punya cukup uang untuk membayar lebih banyak orang.


Isabel menjambak rambut Keira hingga mendongak.


"Suamimu akan menyaksikanmu bercinta dengan orangku, hahahaha...." desisnya disertai tawa iblis.


Keira merinding kala mendengar ucapannya. Ditambah lelaki kekar itu yang mendekatinya secara perlahan sembari membuka kancing bajunya satu per satu.


"Hendra sayang.. ou aku yakin kamu sedang dalam perjalanan mencari istri kampunganmu" Isabel menebak Hendra sedang dalam perjalanan karena latar belakang Hendra dalam sambungan video call itu memperlihatkan kabin mobil dengan sedikit gerakan yang menandakan mobil tengah melaju.


"Dimana istriku?" geram Hendra mengetatkan rahang.


"Haha.. tenanglah, istrimu sedang bersenang senang"


Isabel lantas mengubah tampilan layar menggunakan kamera depan. Sebuah ranjang tua yang berisi wanita yang tengah dikungkung oleh lelaki bertubuh kekar yang sudah melemparkan kemejanya.


"KEIRAA...." teriak Hendra dengan setetes air mata mengandung amarah menetes ke pipinya.


"Jangaaan.. lepaskan lepaskaaaan..." terdengar suara teriakan Keira yang meronta. Lalu laki laki itu membuka sabuk dan celananya sebelum akhirnya merobek gaun pengantin Keira.


"TIDAAAAAK..." teriak Keira.


"Ahhhh.."


TARIK NAFAS DULU BEIBZ

__ADS_1


😗💨


__ADS_2