
Hari-hari yang di lalui Diandra semasa kehamilannya seolah penuh dengan drama. Ia harus pandai-pandai mengimbangi suaminya yang ekstra hati-hati. Begitu banyak larangan yang diberikan suaminya. Mau tidak mau ia pun harus menuruti semua keinginan Ryan yang terkadang menurutnya sangat tidak masuk di akal.
Sembilan bulan berlalu, Diandra kini menunggu hari atas kelahiran buah hatinya yang telah di ketahui berjenis kelamin laki-laki itu. Ryan pun semakin over protective terhadap istrinya. Bahkan tak jarang ia bolos bekerja demi menemani sang istri. Begitupun juga dengan Mama Rika dan Papa Raka, keduanya juga nampak tidak sabar menanti sang bayi lahir ke dunia. Wajar saja, saat kehamilan Varo Diandra hanya di temani oleh Mario yang ternyata adalah Revan. Mama Rika ingin membayar semuanya di masa lalu. Jadi sebisa mungkin segala cinta dan perhatiannya akan ia curahkan sepenuhnya kepada Diandra yang telah mengandung cucu-cucunya.
Meskipun kedua orang tua Diandra telah tiada, namun tidak sedikitpun ia merasakan kekurangan cinta dan kasih sayang dari keluarganya. Ia sangat beruntung menikah dengan Ryan, bukan semata-mata hanya karena materi, namun limpahan kasih sayang Ryan dan kedua orang tuanya membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, Mama Rika dan Papa Raka pun sangat menyayanginya bak anak kandung mereka sendiri.
Pagi itu.
"Sayang, apakah hari ini kamu akan ke kantor ?" Diandra mendekati suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya sayang, mungkin agak siang. Tapi jangan khawatir aku tidak akan lama. Setelah rapat usai, aku akan segera pulang." Jawabnya sambil tersenyum.
"Tidak, bukan itu maksudku. Sebenarnya aku tidak apa-apa jika kamu ke kantor. Aku tidak mau kamu mengesampingkan pekerjaanmu. Aku baik-baik saja disini, kan ada mama yang menemaniku. Jadi kamu fokus saja sama pekerjaanmu." Kata Diandra yang mencoba meyakinkan suaminya.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak sibuk-sibuk amat. Jangan meremehkan asistenku, dia mampu kok menggantikan posisiku semntara waktu." Tutur Ryan.
"Tapi kamu tidak boleh seperti ini, apa kamu tidak takut di pecat, hhmm...?" Diandra membulatkan matanya.
"Kan aku bossnya, siapa yang akan memecatku ?" Ryan balik bertanya.
"Iya juga sih... Lupa !" Diandra cengengesan.
"Ya sudah, temenin aku jalan pagi. Kita ke taman yuk...!" Ajak Diandra.
"Baiklah, tuan putri...!"
Diandra menertawai dirinya sendiri. Ia selalu menampakkan seolah ia tidak apa-apa jika ditinggal Ryan ke kantor, padahal dalam hatinya ia selalu ingin berada di samping suaminya itu. Karena ia wanita yang mandiri, ia tidak mau jika terlihat manja di hadapan suami dan mertuanya.
****
Ryan menggenggam tangan istrinya berjalan mengelilingi jogging track yang ada di taman. Sesekali ia mengusap dan berbicara di perut istrinya yang membuncit. Ada banyak pasang mata yang menatap ke arah kedua sejoli itu, ada yang menatap dengan tatapan iri, ada yang merasa lucu akan tingkah Ryan bahkan ada beberapa yang sinis melihat kemesraan mereka. Namun baik Ryan maupun Diandra tak mempedulikannya. Selama tidak ada yang mengusik ketenangannya, maka Ryan tidak akan mengambil pusing masalah itu.
__ADS_1
Keduanya sudah berjalan tiga putaran mengelilingi taman yang tidak begitu luas itu. Ryan mengajak Istrinya duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman. Dengan telaten, Ryan membukakan tutup botol air mineral yang telah ia siapkan dari rumah. Diandra pun meneguk botol itu dan meminum beberapa tegukan, kemudian di serahkan kepada Ryan. Ryan yang merasa kehausan pun meneguk sisanya.
"Aku sudah lelah sayang, mari kita pulang." Ajak Diandra.
"Ayo sayang..!" Ryan membantu istrinya berdiri dari duduknya dan kembali menggandeng tangannya saat berjalan menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah, Diandra merasa aneh pada perutnya. Ia menggenggam tangan suaminya dengan kuat. Rasa nyeri tiba-tiba menyerangnya,ia merasakan kontraksi yang hebat. Tadi subuh saat bangun tidur, ia pun sebenarnya sudah merasa curiva bahwa persalinannya sudah sangat dekat karena ia melihat ada noda (flek) di pakaian dalamnya. Hanya saja ia tidak ingin membuat seisi rumah khawatir dan heboh jadi ia lebih memilih diam.
Ia sengaja mengajak Ryan untuk berjalan-jalan pagi untuk mempermudah persalinannya. Di kehamilan pertamanya, ia termasuk wanita yang sukses menjalankan anjuran dokter. Seperti kehamilannya sekarang ini, dulu ia pun sangat rajin berolah raga makanya saat melahirkan Alvaro ia tidak mendapatkan kendala sedikitpun. Alvaro lahir dengan sehat dan tentu saja lahir dengan jalan normal tanpa harus di operasi. Kali ini, Diandrapun ingin melahirkan dengan normal seperti Varo dulu.
"Sayang, sepertinya sudah saatnya aku akan melahirkan." Bisik Diandra pada suaminya sembari menggenggam dengan kuat lengan suaminya itu.
Seketika Ryan panik, ia tidak tau harus berbuat apa.
"Apa aku harus memanggil ambulance ?" Tanya Ryan.
"Tidak usah, jangan terlalu berisik sayang. Tenanglah... Cukup beritahu Mama dan papa saja, dan tolong beri tahu Ibu Mirah untuk mengambil barang yang sudah aku siapkan di kamar." Kata Diandra berusaha menahan rasa sakitnya.
"Oke sayang, kamu tunggu sebentar aku akan panggilkan mama dan Bu Mirah."
"Kenapa pagi-pagi sudah teriak." Mama Rika keluar dari kamar.
"Itu, Ma... Perut Diandra mulai sakit. Katanya akan melahirkan." Ryan berteriak namun suaranya mulai menghilang karena ia berlari ke dalam kamarnya guna mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaiannya, ia kembali ke luar membawa dua buah tas yang di maksud Diandra tadi.
"Loh, Bu Mirah mana sayang ?" Diandra keheranan melihat suaminya sangat sibuk membawa 2 buah tas yang cukup besar yang berisi kelengkapan untuk lahiran.
"Aku yang akan menemanimu, biarkan Ibu Mirah tinggal di rumah bersama Varo."
"Kita harus segera ke rumah sakit nak..! Mama juga akan ikut menemanimu." seru Mama Rika.
"Iya, Ma... Tapi aku mau ganti pakaian dulu." Kata Diandra.
__ADS_1
"Apa kamu masih kuat nak ?" Tanya Mama Rika lagi.
"Insya Allah, Ma.. Sayang, maukah kamu mengambilkan pakaianku ? Tolong carikan dress yang menggunakan kancing depan yah..!" jelas Diandra, Ryan pun langsung berlari menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama, Ryan kembali membawa tiga lembar pakaian yang di maksud Diandra.
"Aku ganti baju di kamar tamu aja. Sayang tolong bantu aku." Ajak Diandra yang berusaha berdiri, namun raut wajahnya sangat menunjukkan bahwa saat ini ia tengah menahan rasa sakit.
Setelah mengganti pakaian, ketiganya langsung menuju Rumah Sakit langganan keluarga Wijaya. Mereka di antar oleh sopir karena keadaan Ryan saat ini tidak memungkinkan jika ia harus menyetir. Tak lupa pula Ryan menghubungi papanya yang tengah bermain golf bersama para rekan bisnisnya.
.
.
.
.
.
Bersambung
Author Mohon maaf bila update Babnya sedikit dan kadang lama. Sebisa mungkin akan update rutin. Maklum, author juga punya kesibukan yang lain.
Jangan lupa tetap meninggalkan jejak setelah membaca. Ditunggu masukannya.. Komentar positif yang sifatnya membangun sangat outhor butuhkan biar lebih semangat lagi. Jangan di bully please...
Jangan lupa:
LIKE
COMMENT
VOTE
__ADS_1
ADD FAVORITE
RATE 5 BINTANG.