
"Sayang... apa yang kamu lakukakn disini" Kata Ryan dengan nada cemas menghampiri Diandra.
Diandra tak menjawabnya, seketika tangisnya pecah dan menghambur ke pelukan Ryan.
Ryan yang tak tau apa-apa hanya membalas pelukan Diandra dengan hangat. Tak dapat Ia pungkiri bahwa Ia sangat merindukan wanitanya itu, ia mengusap punggung Diandra dengan pelan untuk memberinya ketenangan.
"Kamu kenapa kesini..?" Tanya Diandra setelah melepas pelukannya.
"Kata Bu Mirah kamu ke Kota B, ponsel kamu tidak aktif jadi aku khawatir dan menyusul kamu kesini." Kata Ryan sembari mengelus-elus lengan atas Diandra.
"Tapi kamu masih sakit." Kata Diandra sedikit kesal karena melihat lengan Ryan yang masih di balut perban.
Sontak Ryan melepas perban yang membalut lengannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
"Aku sudah sehat sayang.." Kata Ryan.
"Tapi ini masih bengkak...!" Ujar Dian rada marah.
Kemudian...
"Ehhhmmm... nak Dian disuruh duduk temannya" Kata Pak Bagas yang senyum-senyum melihat tingkah Ryan dan Diandra.
" Eh... iya maaf pak." Diandra kembali duduk di posisinya sedangkan Ryan duduk di samping Diandra.
"Nak Dian... apa ini orangnya ?" Tanya Pak Bagus.
"Iya pak..." Jawab Dian dan menatap ke arah Ryan.
"Sepertinya kita pernah bertemu pak... tapi dimana yah ?" Kata Ryan sambil mengingat-ingat.
*Ryan kembali melihat bayangan kecelakaan waktu itu dan dilihatnya sosok pak Bagus yang membantunya menepikan tubuh korban kecelakaan*
"Bapak yang waktu itu menemani korban di mobil ambulnce kan ?" Tanya Mario terbata dan dijawab dengan anggikan oleh Pak Bagus.
Diandra menggenggam tangan Ryan yang terlihat panik. Keringat dingin kini mengucur deras di dahinya.
Pak Bagus kembali menceritakan kronologis kejadiannya, Ryan hanya ternganga mendengar penuturan Pak Bagus. Kini ia merasa lega, beban yang ada di pundaknya selama ini kini terlepas dengan sendirinya.
"Jadi bukan aku yang membunuhnya ?" Gumamnya lirih. Air matanya jatuh, sesekali Ia menyusap wajahnya tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang, kamu dengar kan... bukan aku yang membunuh Papanya Varo.. aku tidak bersalah... kamu dengar kan..?" Ucapnya antusias sembari menggenggam erat tangan Diandra.
"Iya... kamu tidak salah." Kata Diandra kemudian mengusap air mata di pipi Ryan.
Setelah semuanya jelas, akhirnya Ryan dan Diandra pamit pada Pak Bagus dan istrinya. Keduanya tak henti-hentinya berterima kasih kepada Pak Bagus dan pemuda yang telah membantunya mencari tau kebenaran itu.
Diandra dan Ryan berjalan menuju mobil masing- masing, namun Ryan mencegat Diandra.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh menyetir, ikut di mobil saya" Kata Ryan menarik tangan Diandra.
"Trus mobilku gimana ?" Tanya Diandra heran.
"Biar Marko yang bawa." Sambil mengambil kunci mobil di tangan Diandra dan menyerahkannya ke Marko.
"Trus...mobil kamu ??" Diandra semakin heran.
"Aku yang nyetir." kemudian membuka pintu mobil untuk Diandra.
"Kamu masih sakit Ryan.." Kata Diandra dengan nada memelas.
"Aku sudah sembuh. Asal kamu di sampingku, aku pasti kuat dan tidak merasakan sakit." Kata Ryan sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Diandra kemudian mengecup keningnya.
"Ryan..." Ucap Diandra Lirih, tak ada gunanya membantah perkataan pria keras kepala itu.
Ryan kini melajukan mobilnya menuju kota B dengan kecepatan sedang.
"Loh... kenapa arahnya kesini ?" tanya Diandra heran.
" Kita cari makan dulu sayang, aku lapar" tersenyum sambil memegang perutnya menatap Diandra.
Diandra terkekeh melihat tingkah Ryan.
Ryan memarkirkan mobil di salah satu restoran di kota B disusul Marko yang mengemudikan mobil Diandra.
"Tak ada yang berubah.." Ucapnya lirih.
"Kenapa sayang... ayo masuk !" Ryan menggenggam tangan Diandra dengan possesive dan mengajaknya ke dalam.
Mereka pun duduk di pojok, sedangkan Marko duduk di meja yang terpisah ingin memberi ruang kepada majikannya.
Seorang Waiters datang menyapa mereka dan menyodorkan daftar menu.
"Apa Ibu Anna ada ?" tanya Diandra pada wanita itu.
"Eehh... iya nona. Ibu Anna ada di ruangannya. Apa mau saya panggilkan nona ?" tanya waiters.
"Tidak usah, saya akan menyapanya langsung" kata Diandra kemudian pelayan itu berlalu.
"Kamu kenal dengan pemilik restonya sayang ?" Tanya Ryan keheranan.
"Iya... dia satu-satunya sahabatku di kota ini, dan restoran ini adalah tempat kesukaan Mario." Kata Diandra dengan suara bergetar.
"Maafkan aku sayang." Kata Ryan sambil menggenggam tangan Diandra.
"Kamu tunggu sebentar yah, aku mau ke dalam dulu ingin memberi kejutan pada Anna". Ryan mengangguk pelan kemudian Diandra menuju ruangan Anna.
__ADS_1
"Surprise.....!!!"
Diandra berhasil membuat Anna kaget.
"Diandra.....!!!" Anna berteriak histeris melihat kehadiran Diandra yang tiba-tiba.
Keduanya langsung berpelukan melepas rindu yang selama ini terpendam.
"Kenapa baru muncul..? Aku kangen banget sama kamu Dian...!!" Kata Anna sambil mencubit pipi Diandra.
"Aku juga kangen..!" Kembali memeluk Anna.
"Kedepan yuk... aku mau ngenalin kamu sama seseorang" Ajak Diandra.
"Siapa sih...!" Tanya Anna penasaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Terus ikuti lanjutan Kisah Diandra dan Ryan
Like
Comment
Share
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Add Favorite ❤
berikan Vite
__ADS_1
Terimakasih