
Rumah Sakit Bunda
Setibanya di rmah sakit, Diandra langsung di jemput oleh para perawat kemudian di bawa ke ruang bersalin,sedangkan Ryan dan Mama Rika menunggu di luar karena tidak ingin menghalangi pekerjaan para petugas. Dokter yang bertugas langsung mengambil alih tindakan memeriksa keadaan Diandra. Tekanan darahnya pun di ukur, untung saja semuanya normal.
"Permisi sebentar ya bu, saya periksa dulu." Kata dokter yang hendak memeriksa di bagian jalan lahir untuk memeriksa pembukaanya.
"Wah, kontraksinya lumayan bagus bu, sekarang sudah pembukaan enam. Ibu tahan sedikit lagi yah." Kata dokter yang memberikan informasi kepada Diandra.
"Dok, apa boleh suami saya menemani saya disini dok ?" Pinta Diandra.
"Tentu saja bu, suster akan memanggilnya." Dengan cekatan suster keluar mencari Ryan. Ryan pun masuk dengan wajah yang sedikit panik.
"Apa kamu butuh sesuatu, sayang ?" Ryan sangat khawatir melihat raut wajah istrinya yang nampak kesakitan.
"Aku tidak butuh apa-apa. Tolong temani aku." Pintanya pada suaminya.
"Tapi aku takut melihatnya sayang." Jawab Ryan sedikit menolak permintaan istrinya.
"Janga dilihat, cukup dampingi aku disini. Beri aku semangat dan kekuatan. Dengan adanya kamu disampingku dan menggenggam tanganku, maka sesakit apapun rasanya aku pasti akan kuat." Tutur Diandra yang ingin meyakinkan suaminya. Saat dalam kondisi seperti ini, tentu saja semua wanita ingin ditemani oleh orang yang sangat di cintainya. Waktu melahirkan Varo, Diandra hanya seorang diri di Rumah sakit karena waktu itu Mario sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri. Dan ia berharap, proses lahirannya kali ini tidak seperti sebelumnya. Ia ingin agar suaminya selalu berada di dekatnya. Ia sudah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan tanpa di dampingi oleh suami.
"Aku akan menemanimu sayang." Ryan mengecup kening Diandra. Air matanya menetes mengingat kerasnya perjuangan istrinya untuk melhirkan anaknya.
"Kamu yang kuat yah, anak kita pasti anak yang hebat. Ia tidak akan menyusahkan mamanya. Benar kan son..?" Ryan kembali mengelus perut istrinya.
Tiba-tiba Diandra meringis, ia kembali merasakan sakit yang luar biasa dahsyatnya. Ia menggenggam tangan suaminya dengan sangat kuat. Ryan semakin panik.
"Dok, istri saya kesakitan. Tolong bantu dia." Pinta Ryan pada dokter.
"Bapak jangan panik. Harap tenang pak yah..." Jawab dokter.
"Apanya yang tenang..!" Ryan semakin terbawa emosi.
"Hhuuff...sakit dok..!" Kata Diandra lirih.
"Permisi saya periksa lagi bu." Dokter kembali memeriksa kembali jalan lahir.
"sepertinya sudah saatnya, Bu,... pembukaannya sudah lengkap. Ibu tarik nafas yang dalam kemudian dihembuskan. Nanti ibu ikuti instruksi saya lagi." Dokter mulai memberi arahan.
"Sayang... kamu yng kuat yah." Ryan memberi semangat.
"Dokter... sepertinya sudah akan keluar. Aku merasa ia mulai terdorong. Aahhh... hhuuuff... huff.....!" Diandra mulai merasa bahwa anaknya akan segera lahir. Nafasnya mulai tidak beraturan.
__ADS_1
"Baik... Ibu tarik nafas yang kuat kemudian dorong tanpa mengeluarkan suara biar ibu tidak kehabisan tenaga....!"
"Sebentar dok... Hhm.... hhuufftt...'' Diandra mulai berusaha mengejan.
"Ibu sekali lagi, lebih kuat yah bu... 1.. 2....3...!" perintah dokter memberi aba-aba.
"Hhmmhhh..... Huuuffttt.....!! Aaaakkhh....!"
"Oweekkk...oweekkk...!"
Akhirnya, perjuangan Diandra membuahkan hasil. Bayinya pun lahir dengan selamat. Setelah bayi lahir, tak butuh waktu yabg lama ari-ari sang bayi pun telah di keluarkan. Dokter langsung meletakkannya di atas dada Diandra. Ryan menangis haru melihat istri dan bayinya yang saling melekat satu sama lain. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan berurai air mata. Begitupun dengan istrinya.
"Permisi, Bu... saatnya bayi dibersihkan terlebih dahulu." Bidan menggendong bayi Diandra menuju meja khusus bayi dan membersihkannya kemudian memakaikannya baju dan membungkusnya (dibedong) dengan selimut khusus bayi. Suster memanggil Ryan agar mengadzani bayinya. Sementara itu, suster yang lain pun memeriksakan kembali tekanan darah Diandra dan dan membersihkan darah disekitar pahanya.
"Permisi, Bu... waktunya ibu dan bayi pindah ke ruang perawatan." Dua orang perawat hendak mendorong brankar Diandra menuju ruang perawatan VVIP, sedangkan Ryan bingung dengan bayinya karena ia masih ragu untuk menggendongnya.
"Suster bayi saya...!" Kata Ryan melihat ke arah bayi.
"Saya yang akan menggendong bayi anda tuan." Kata Bidan yang baru saja masuk ke ruangan itu.
Akhirnya mereka kini berada di ruangan perawatan, kamar yang sangat mewah bak hotel bintang lima. Di dalam kamar tersedia sofa, TV, kulkas, bahkan ada dua tempat tidur yang disediakan. Satu untuk pasien, dan satunya lagi untuk penjaga pasien. Diandra masih lemas dan berbaring di ranjang king size, dan Bidan yang sedari tadi menggendong sang bayi meletakkannya ke dalam box yang berada di saping ranjang pasien.
"Tok...tok...!"
"Kenapa lama sekali baru di buka !" Mama Rika langsung masuk dengan ngomel-ngomel karena tidak sabar ingin melihat cucunya.
"Ya ampun mama... Baru juga mama mengetuknya sebanyak dua kali, mama sudah bilang lama." Ryan mengoceh.
"Bagaimana keadaan kamu sayang..?" Mama Rika duduk di tepi ranjang menantunya.
"Alhamdulillah baik, Ma.. Persalinannya lancar tanpa ada penyulit." Jawab Diandra yang masih nampak pucat.
"Ini tadi di bawa sopir, katanya Bu Mirah yang suruh. Kamu makan yah nak... Biar kondisi kamu segera pulih." Mama Rika membuka tutup kotak makanan yang ia bawa kemudian menyuapi Diandra.
"Terima kasih yah Ma.." Kata Diandra.
"Kamu harus kuat makannya, biar ASI kamu banyak." Kata Mama Rika sambil menyuapi menantunya.
"Sudah habis, mama mau liat cucu mama dulu." Berdiri kemudian menggendong bayi Diandra yang tertidur pulas di dalam box.
"Uuuhhhh cucu oma.. Ganteng sekali kamu sayang.. Mirip kakak Varo yah.. Ada lesung pipinya seperti mama, Hidung dan Alisnya persis kayak papa. Bibirnya kayak Opa..." Mama Rika menyebutkan satu persatu bagian wajah sang bayi mirip siapa, tapi ia sedikit kecewa karena sedikitpun tidak ada kemiripan dengannya.
__ADS_1
Pintu tiba-tiba terbuka, ternyata Papa Raka yang datang bersama Varo.
"Mama.... apa adik bayi sudah lahir ?" Tanya Varo yang lanhsung menghambur ke pelukan ibunya yang tengah duduk di tempat tidur.
"Iya sayang, tuh adiknya di gendong sama Oma." Diandra menunjuk ke arah Mama Rika.
"Oma... Varo mau lihat adik..!" Mama Rika duduk di tepi tempat tidur agar Varo lebih mudah untuk melihat adiknya. Papa Raka pun mendekat, ingin menggendong cucunya.
"Gantian, Ma.. Papa Juga mau menggendong Ryan kecil."
"Pelan-pelan yah pa... Liat tuh bibirnya mirip papa...!" Kata Mama Rika.
"Ohooo.... cucu kakek... Sekarang Varo sudah punya teman main yah..!" Kaka Papa Raka sambil memperlihatkan sang bayi ke arah Varo.
"Papa akan memberinya nama ALVINO PUTRA WIJAYA. Apa kalian suka ?" Kata Papa Raka menatap Ryan dan Diandra secara bergantian.
"Terserah papa saja, iya kan sayang ?" Kata Ryan kemudian bertanya kepada istrinya. Diandra pun mengangguk setuju.
"Nama yang bagus Opa, namanya mirip nama Varo. ALVARO dan ALVINO..!" kata Varo bahagia.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung......
Jangan lupa
LIKE
COMMENT
SHARE
__ADS_1
RATE 5⭐⭐⭐⭐
Mohon di Vote biar author lebih semangat lagi**.