
"Mau apa dia kesini ? Bukannya meminta maaf, dia malah kesini dengan memamerkan kesombongannya."
Ryan terlihat geram setelah melihat Bella. Suasana hatinya kini berubah drastis. Seharian ia bahagia karena bersama Diandra dan Varo. Namun setelah pulang ke rumahnya ia harus bertemu wanita yang pernah menyakitinya.
"Mama kenapa dia bisa ada disini ? Bukannya dia masih di negara S ?" Tanya Ryan kesal.
"Menurut info yang mama dapat, kuliahnya sudah selesai disana dan baru pulang tadi siang."
"Aku khawatir, Ma..."
"Khawatir kenapa ?"
"Aku khawatir dia akan mengganggu Diandra. Mama tau sendiri kan, dia itu sangat manja. Apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Melihat tingkahnya tadi aku semakin yakin dia akan menyusahkan Ryan, Ma.."
"Jangan khawatir, Mama juga tidak akan tinggal diam nak." Kata Mama Rika berusaha menenangkan Ryan.
*****
Bella Pov.
"Ryan.... apa dia masih marah padaku? Ah... iyaa dia hanya marah sedikit. Aku akan bersikap baik padanya sampai kemarahannya hilang. Aku tau dia hanya sedikit kecewa. Kembalinya aku kepadanya akan membuatnya kembali ceria dan mau kembali bersamaku." Berkata pada dirinya sendiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya.
****
Pagi itu di RW Hotel.
"Selamat pagi nona, ada yang bisa dibantu ?" Sapa salah satu waiters.
"Aku mau bertemu dengan Ryan.."
"Mohon maaf apa anda sudah membuat janji sebelumnya ?"
"Kamu jangan kurang ajar yah.. Kamu tidak tau siapa saya ?"
"Mohon maaf nona, saya hanya mrnjalankan pekerjaan saya. Ini pesan dari Ibu Melda. Siapapun yang ingin bertemu dengan Tuan Ryan harus membuat janji terlebih dahulu."
__ADS_1
"Ooww... Melda... Panggilkan dia..!" Bella semakin ketus.
"Mohon maaf nona, saya tidak bisa meninggalkan tempat saya. Lebih baik nona duduk dulu disebelah sana. Saya akan sampaikan permintaan anda ke reception."
"Cepat...! Sepertinya kamu sudah bosan bekerja disini." Bella semakin geram.
"Apa-apaan nona ini... dasar sombong !" Gumam waiters dalam hati sambil menuju ke meja reception meminta bantuan untuk menghubungi Ibu Melda.
"Suruh dia masuk ke ruanganku." Perintah Melda pada reception yang baru saja menelponnya.
"Permisi nona, ibu Melda sudah menunggu anda di ruangannya. Mari saya antar." Kata salah satu pegawai hotel.
tok...tok...tok..! Bunyi ketukan.
"Masuk..!" Sahut Melda dari dalam.
"Hai Melda..." Sapa Bella ramah yang nampak di buat-buat.
"Bella... sudah kuduga yang membuat onar pagi-pagi pasti dirimu." Jawab Melda ketus.
"Apa ? teman..? Kita bukan teman lagi Bel..."
"Sudahlah Mel... lupakan yang lalu-lalu."
"Cih... kamu tidak berubah. Tetap saja sombong dan angkuh. Aku heran sama Ryan, bisa-bisanya dia menyukai wanita sepertimu."
"Itu karena Ryan hanya bisa terpesona pada wanita sepertiku. Selama aku masih ada, Ryan tak akan bisa melirik wanita lain." Kata Bella sombong.
"Oh ya...? Sepertinya tingkat percaya dirimu sudah diluar ambang batas." Melda Tersenyum kecut sambil memutar matanya seperti meremehkan.
"Tentu saja,... Kamu masih setia juga yah mendampingi Ryan. Aku kasian sih sebenarnya, seberapapun usahamu Ryan akan tetap menganggapmu seperti adiknya sendiri. Dia tidak akan melirikmu." Kata Bella.
"Tentu saja aku akan terus mendampinginya. Setidaknya aku akan selalu berada di sisinya, aku kan seperti adiknya, dan aku ini salah satu orang yang penting dalam hidupnya. Berbeda dengan wanita-wanita yang sudah di buangnya..." Melda Membalas ejekan Bella dan berhasil membuat Bella geram.
"Oh iya Bel... kamu kan baru pulang dari luar negeri, berarti kamu belum tau dong hot issue di kota ini..? Saya sarankan kamu cari tau aja dulu kabar-kabar di kota ini sebelum memamerkan ke pedeanmu yang bertaraf international itu. Aku khawatir, kesombonganmu itu akan membakar dirimu sendiri."
__ADS_1
"Apa maksud kamu...?" Bella geram akan perkataan Melda.
"Waktunya mendampingi Pak Ryan rapat, kalau tidak ada lagi, jangan lupa tutup pintunya dari luar." Melda tersenyum puas.
"Awas kamu Melda... kamu akan membayar semua ini." Kata Bella mengancam kemudian berlalu dari hadapan Melda dengan emosi yang meluap-luap. Dibantingnya pintu ruangan melda dengan kasar.
Melda tersenyum puas setelah berhasil membuat Bella marah. Ia juga heran, dari mana kekuatan itu berasal. Selama ini, dia diam saja jika mendapat perlakuan buruk dari wanita yang pernah jadi sahabatnya itu.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Terima kasih buat para reader yang sudah setia menunggu update kisah Diandra. Mohon partisipasinya untuk meninggalkan jejak setelah membaca.
Like
Comment
Share
Add Favorite
Rate 5⭐⭐⭐⭐⭐
Jika berkenan, mohon ke ikhlasannya untuk memberikan Vote pada novelnya.
Terima kasih
__ADS_1