Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Pulang Larut Malam


__ADS_3

Diandra dan Ryan kini hidup bahagia, merekapun memutuskan untuk Hijrah ke kota J mengikuti permintaan kedua orang tuanya. Mama Rika meminta kepada anak dan menantunya untukntinggal bersama mereka. Ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama anak dan cucunya. Pak Raka pun mulai pensiun dari pekerjaannya, dan kini Ryan yang menjabat sebagai CEO di Wijaya Group. Sedangkan RW Hotel yang ada di kota M kini di kelola oleh Hendra atas permintaa Pak Raka.


Diandra kini hanya fokus mengurus rumah, anak, dan suaminya. Meskipun di kediaman keluarga Wijaya mereka tidak pernah kekurangan asisten, namun sebisa mungkin Diandra mengurus sendiri secara langsung kebutuhan anak dan suaminya.


"Sayang, aku berangkat dulu yah." Kata Ryan sambil mengecup kening istrinya.


"Kamu udah sarapan ?" Tanya Diandra karena tidak biasanya Ryan sepagi itu berangkat ke kantor.


"Nanti aja pas di kantor. Aku buru-buru soalnya. Sekretarisku tidak masuk hari ini, jadi aku harus cepat-cepat ke kantor untuk menyiapkan bahan presentasinya." Jawab Ryan menjelaskan.


"Apa perlu aku bantu ?" Kata Diandra menawarkan bantuannya.


"Tidak usah sayang, kamu di rumah aja... Aku bisa kok mengatasinya." Sambil mengusap pucuk kepala Diandra.


"Ya sudah, kamu hati-hati yah..." Mengantar suaminya sampai ke pintu.


"Mungkin aku pulang larut, kamu tidur duluan yah.. Bye sayang.." Ryan melambaikan tangannya di balas oleh lambaian tangan dan senyum dari Diandra.


*************


"Varo, sudah siap, nak ?" Diandra menuju kamar putranya yang tengah bersiap-siap untuk ke sekolah.

__ADS_1


"Sudah, Ma... ayoo !" Berjalan menghampiri Diandra.


"Hhhmm... anak Mama rapi banget, ganteng dan wango lagi.!" Berjongkok menoel hidung Varo.


"Iddiihh mama... Varo udah gede, Ma... jangan di goda terus. Nanti Varo diejekin sama teman-teman dikatai anak Mami." Varo kesal akan tinvkah mamanya.


Diandra hanya terkekeh melihat anaknya yang mendumel kesal. Semakin hari sifatnya semakin mirip dengan Ryan. Meskipun Ryan bukan ayah biologisnya, namun tidak menutup kemungkinan keduanya memiliki sifat yang sama. Biar bagaimanapun juga, keduanya masih sedarah. Dalam darah Varo dan Ryan sama-sama mengalir darah keturunan Wijaya.


"Ayo, Ma... nanti Varo telat !" Ajak Varo.


"Eh iya... ayo sayang..!" Berjalan bergandengan menuju garasi.


Diandra memutuskan untuk mengantar dan menjemput Varo di sekolahnya. Meskipun di rumah mereka telah mempekerjakan supir, namun Diandra tidak ingin hanya berpangku tangan dan berdiam diri di rumah. Begitulah rutinitasnya setiap hari.


"Sudah jam segini, kenapa belum pulang ? Apa kah dia dan pekerjaannya baik-baik saja ? Ponselnya juga gak bisa dihubungi, tidak biasanya seperti ini.." Bergumam kecil dengan raut yang cukup gelisah.


Ia pun akhirnya tertidur karena mengingat pesan suaminya agar tidak menunggunga. Kurang lima menit pukul dua belas malam Ryan tiba di rumahnya. Sesampainya di rumah ia bergegas menuju kamarnya karena rampak dari depan lampu kamarnya masih menyala. Ia pikir, Diandra belum tidur.


Ceklek...!


Pintu kamar mulai terbuka. Di dorongnga pelan-pelan daun pintu berwarna putih itu. Ia melangkah perlahan mendekati tubuh istrinya yang terbaring di ranjang. Tanpa aba-aba ia pun memeluk istrinya dari belakang. Diandra yang baru saja terlelap merasakan pelykan hangat dari suaminya yang ia nantikan sehak tadi pagi.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali ?" Katanya dengan suara serak.


"Banyak kerjaan sayang. Ya udah, kamu lanjutin tidurnya, aku bersihin badan dulu. Lengket..!" Pamit Ryan.


"Mmmhh... gak..gakk boleh... Kamu ganti baju aja. Gak usah mandi. Aku mau meluk kamu, tubuhmu wangi sayang.." Rengek Diandra.


"Whaattt ? tapi aku gerah sayang. Bentar aja kok. !"


"Pokonya gak boleh, seharian aku kangen sama arima badan kamu sayang." Rengek Diandra.


"Iya..iya... Aneh banget istriku ini." ucapnya pelan namun tetap di dengar oleh Diandra.


.


.


.


BERSAMBUNG.......


Terus Like da Vote sebanyak-bangayaknya yah...

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2