Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Calon Customer


__ADS_3

RW Hotel.


Diandra tiba di Lobby Hotel langsung menuju reception. Dengan ramah si reception menyapanya dan Ia pun mengutarakan maksud dan tujuannya. Reception langsung mengarahkan Diandra ke ruang Ibu Melda, karena sebelumnya Ibu Melda sudah menginformasikan jika ada tamu dari Pihak Bank XXX agar langsung dingantar ke ruangannya.


Diandra mengetuk pintu ruangan Melda, dari dalam terdengar sahutan pertanda Ia memperbolehkannya masuk.


"Hi Ibu Dian.. duduk dulu."


"Makasih Bu Melda..".


"Kita sudah beberapa kali bertemu, jangan panggil Ibu yah.. Panggil saja Melda. Serasa udah berumur aku dipanggil Ibu". Tutur Melda sambil tertawa kecil.


"Iyaa yah.. kalau gitu panggil saya Dian, jangan pake Ibu. Biar impas". Balas Dian sambil tersenyum.


" Berkasnya sudah kamu bawa,?"


"Iya.. nih sudah aku siapin jauh-jauh hari". menyerahkan map ke arah Melda.


"Kalau gitu kita langsung aja ke ruangannya Pak Ryan". Sambil berdiri mengajak Dian keluar ruangan menuju ruangan Ryan.


****


Tiba di depan ruang kerja Ryan, Melda mengetuk pintu dua kali, beberapa saat kemudian Melda pun langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Dian sempat takjub melihat Melda yang menerobos tanpa aba-aba.


Tik..tik..tik...


Terdengar suara mouse yang di klik beberapa kali. Ryan asyik menatap layar komputernya kemudian merubah posisi duduknya saat melihat kedatangan Melda dan Diandra.


"Pak Ryan, Ibu Dian sudah datang." menatap ke arah Dian dan dibalas oleh senyuman hangat dari Dian.


"Selamat sore Pak Ryan". Sapanya.


" Sore,,". Menatap ke arah Melda.

__ADS_1


"Melda... kamu tunggu saya di depan. Jika ada ada yang ingin bertemu katakan untuk kembali besok. Saya tidak mau diganggu, termasuk Hendra".


"Baik pak". kemudian berlalu dari hadapan Ryan dan Diandra. Sangat nampak risih, dan mulai merasakan titik-titik api cemburu yang merasuk ke dalam hatinya.


Dia tau betul watak sahabatnya itu. Sekali dia berkata A, maka tak mungkin bisa ditawar dengan berkata B.


Deg..Deg...!!!


Diandra sedikit kaget saat Melda mulai menitup pintu ruangan dan meninggalkan mereka berdua disana.


"AC nya kurang dingin..?". Tanya Ryan.


"Eh... dingin kok pak".


"Kenapa kamu keringatan ?". Menyodorkan tissue ke arah Dian. Dian pun meraih tissue kemudian mengelap bulir-bulir keringat yang membasahi dahinya.


"Terima kasih pak".


"Bagaimana keadaan Varo?". Tanyanya berusaha mencairkan suasana.


"Maaf saya lupa bahwa anda sangat profesional. Saking profesionalnya anda sama skali tidak ramah kepada calon customer anda." Membalas sindiran Diandra.


"Apa-apaan ini, benar-benar manusia bipolar". Umpatnya dalam hati.


"Maaf pak". Hanya itu kata-kata pamungkas yang bisa diucapkannya saat berada di posisi sekarang ini.


Ryan hanya terkekeh melihat ekspresi wanita didepannya. Senyum kemenangan tampak tersungging di bibir tipisnya.


"Kalau begitu mana berkas-berkas yang harus saya tanda tangani ??.


"Ini pak. Jadi bapak tanda tangan dlu disebelah sini". Menunjukkan kolom tanda tangan kepada Ryan, namun Ryan hanya melihatnya.


"Trus yang mana lagi ?"

__ADS_1


Diandra heran melihat tingkah Ryan yang hanya bertanya tanpa membubuhkan tanda tangannya.


"Masih ada beberapa lagi pak di lembaran berikutnya."


"Kamu tunjukkan saja dulu".


Dian pun menunjukkan dimana saja kolom tandatangan yang harus di tanda tangani oleh Ryan. Setelah melihatnya Ryan pun menutup map tersebut kemudian menepikannya.


"Loh...kenapa berkasnya disimpan pak ? Saya harus membawanya kembali ke kantor". Tuturnya sedikit heran.


"Bukankah saya harus memeriksanya terlebih dahulu ? Saya harus memastikan Perjanjian kerjasama ini tidak hanya menguntungkan buat kalian, harus ada feedback juga ke perusahaan saya".


Penjelasan singkat dari Ryan sempat mebuat Diandra ternganga.


"Jadi anda mau mempermainkan saya, awas saja kalau gak di tandatangan". Gumamnya dalam hati.


Diandra menarik nafas kemudian melepasnya dan tertunduk. Dia sadar akan posisinya tidak seharusnya bersikap seperti ini dihadapan calon costumernya. Diapun mengangkat kembali wajahnya disertai senyum semangat yang kini menghiasi wajahnya. Ryan solah tak percaya melihat ekspresi Diandra yang tiba-tiba berubah.


"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada hal yang ingin bapak tanyakan bisa menghubungi saya". Mengambil kartu nama dari dalam tas nya dan meletakkan di meja, kemudian berlalu dari hadapan Ryan.


Ryan seakan tak percaya melihatnya. Semakin kagum dia pada Diandra. Dia memang wanita cerdas, dia tau harus berbuat apa jika sedang dipermainkan. Yah, memang saat ini Ryan tengah mempermainkannya. Dia Sengaja menarik ulur keputusan kerjasamanya dengan Bank X agar bisa bertemu dengan Diandra. Dengan alasan Urusan Bisnis, Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa menemuinya.


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


Bersambung...


Jangan Lupa terus ikuti kelanjutan ceritanya yah...


Tolong di komen, berikan masukan buat Author.


Jangan lupa Like dan kasi lambang ❤.


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐ biar author semangat updatenya.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2