
Ryan membawa Alvaro ke dalam kamar tidurnya. Diandra duduk di sisi kanan ranjang sembari menyelimuti Alvaro, sedangkan Ryan duduk di sisi kiri menatap wajah Alvaro yang kini terbuai dalam tidurnya.
Diandra berjalan ke arah jendela dan menatap taman yang dihiasi lampu berwarna warni sambil melipat kedua tangannya. Ryan pun berjalan ke arahnya kemudian memeluknya dari belakang.
"Hei...kamu melamun ?" Tanya Ryan.
Sontak Diandra kaget karena mendapatkan pelukan yang menurutnya tiba-tiba.
Diandra mencoba melepas dekapan Ryan namun Ryan semakin mempererat dekapannya. Diandra pun pasrah akan tingkah kekasihnya itu.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja..." Pinta Ryan dan Diandrapun mengangguk pelan.
"Nanti ada yang liat...gak enak.." Kata Diandra.
"Gak apa-apa... mereka pasti mengerti" Ucap Ryan dengan suara seraknya.
"Kamu suka kamar ini..?"Tanya Ryan lagi.
"Iya..aku suka" jawab Diandra.
"Kamar ini akan jadi kamar kita nanti" Ucap Ryan sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Lagi-lagi Diandra terdiam. Tak ada kata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Ada rasa bahagia, takut, haru, ragu dan bimbang bercampur jadi satu.
Ryan membalikkan tubuh Diandra dan kini keduanya saling berhadapan.
"Sayang...kamu mau kan hidup denganku ? Menghabiskan masa tua bersamaku ?" tanya Ryan dengan menatap kedua mata Diandra dengan dalam.
__ADS_1
Diandra tak menjawab. Ada genangan air disudut matanya namun dengan sekuat tenaga ia membendungnya.
"Kenapa dari tadi kamu diam aja ?" Tanya Ryan lagi.
"Aku harus jawab apa ?" Diandra bingung.
"Sayang... Will you merry me ?" Ryan berlutut dihadapan Diandra sambil menunjukkan sebuah Cincin berlian yang bentuknya sederhana namun tetap berkesan elegan dan mewah.
Air mata Diandra kini tak bisa ia bendung lagi.
"Apa ini Ryan... bukankah ini terlalu cepat ?" Tanya Diandra dan meraih tangan Ryan dan menyuruhnya berdiri.
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk niat baik. Aku takut kamu akan berubah pikiran dan meninggalkanku. Aku takut, seseorang akan merebutmu dariku. Aku tidak bisa kehilangan kamu Diandra.." Ucap Ryan panjang lebar dan berhasil meluluhkan hati Diandra.
"Kamu serius ?" Tanya Diandra ingin meyakinkan hatinya.
Lagi-lagi Diandra terdiam tak bisa menanggapi perkataan Ryan.
"Aku menyayangimu, akan menjagamu seumur hidupku".
Tangan kiri Ryan menggenggam tangan Diandra, sedangkan tangan kanannya masih memegang cincin yang akan dilingkarkan di jemari Diandra.
"Bagaimana... apa kau mau menerimaku menjadi pendampingmu?" Tanya Ryan menunggu jawaban Diandra.
"Ya... aku mau" Jawab Diandra singkat, air matanya semakin deras membasahi pipinya.
Ryan melingkarkan Cincinnya di jari manis Diandra. Keduanya kini berpelukan kemudian Ryan mengajak Diandra menemui Mamanya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Mama... aku berhasil !" Kata Ryan dengan girangnya.
Ryan memegang tangan Diandra dan menunjukkan jari yang kini dihiasi cincin darinya.
"Syukurlah sayang... Mama bahagia untuk kalian" Kata Rika dengan perasaan haru.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil Ibu Rika atau tante lagi. Panggil M-A-M-A !" kata Rika menegaskan.
"Iya tante... Eh, Mama" Kata Diandra diikuti tawa dari semuanya.
Rika memeluk Ryan dan Diandra bergantian. Hendra pun berjalan mendekati Ryan dan memberinya ucapan selamat. Setelah itu ia mendekati Diandra.
"Kamu hati-hati yah sama Ryan, dia itu beringas !" Ucapnya setengah berbisik di telingan Diandra namun terdengar jelas oleh Ryan.
" Awas kamu yah..!" gerutu Ryan.
Diandra hanya terkekeh geli melihat tingkah 2 bersaudara itu.
Malam ini Diandra nginap di rumah Ryan karena dipaksa oleh Mama Rika. Diandra tidak enak jika menolak permintaan calon mertuanya. Diandra tidur di kamar Ryan bersama Alvaro, sedangkan Ryan tidur di kamar yang berbeda. Tentu saja, mereka belum bisa tidur bersama karena belum resmi menikah.
--------------
Bersambung...
Terus dukung author, dengan memberi saran, comment, like, dan share. Tambahkan ke Favorit dan kasi rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐.
Terimakasih
__ADS_1