
Seperti biasa rutinitas Diandra dipagi hari yaitu mengurus Alvaro sebelum berangkat ke Sekolah.
Pukul 06.00 Diandra sudah mandi, hanya saja belum memakai stelan kerjanya. Dia masih harus memandikan Alvaro dan menyiapkan sarapannya jadi ia hanya menggunakan baju rumahan yang menurutnya nyaman. Saatnya membangunkan Alvaro, kemudian memandikannya. Alvaro pun siap untuk sarapan.
Tiba-tiba...
Bbeeppp....beeeppp....!
Bu Mirah langsung lari kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu sepagi ini.
"Siapa bu ??" Tanyanya setengah berteriak.
Kemudian Bu Mirah masuk ke dalam mempercepat langkahnya sedikit berbisik pada Diandra.
"Anu Bu.. itu ada temennya Bu Dian". Jawabnya.
"Maksud Ibu Doni..?".
"Buk......." belum menyelesaikan bicaranya tapi Diandra langsug memotongnya.
"Langsung disuruh kesini aja bu biar sekalian ikut sarapan".
Ibu Mirah membalikkan badan dan menyuruh tamunya masuk langsung ke ruang makan.
Sontak Diandra kaget melihat siapa tamunya sepagi ini.
"Uhhukk..uhukk... Ryan..?" Kaget melihat sosok yang berdiri di depan ruang makan.
"Hi Jagoan..." Ryan Menyapa Varo terlebih dahulu kemudian melanjutkan bicaranya.
"Yah... aku pikir mobil kamu masih dibengkel, jadi sekalian aja kujemput. Kebetulan kan arahnya sama." Jawabnya cuek langsung duduk di salah satu kursi makan.
"Sepagi ini ??" Tanyanya sedikit tidak percaya.
"Kebetulan aku belum sarapan, bosan dengan makanan di hotel". Sambil menopang dagu dengan kedua tanyannya.
__ADS_1
"Eeh... sekalian aja ikut sarapan". Sedikit memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Iya Om... makan sama kita aja. Varo juga bosan sarapan bertiga terus sama Mama dan Bu Mirah" Ucapnya mengerucutkan bibirnya.
" Oh yaah... kalau begitu tiap pagi Om bakal kesini nemenin Varo sarapan". Keduanya tertawa bersamaan.
Sedangkan Diandra, Ia merasa sedih dan kehilangan selera makan. Tiba-tiba teringat akan mendiang Suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca dan pamit ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan stelan kerja.
Diandra sudah rapi, siap dengan stelan kerja dan rambutnya yang dikuncir satu kemudian berjalan menuju ruang makan.
"Varo sudah siap nak ?" Varo dan Ryan menoleh ke arah Diandra bersamaan.
Sesaat Ryan menatap takjub tak berkedip melihat penampilan Diandra yang baru saja menghampirinya.
"Cantik" Batin Ryan.
"Maaf Pak Ryan, apa anda sudah selesai ?"
"Ah iya.. sudah kok". Kemudian berdiri dan menghampiri Dian.
"Ya sudah kita berangkat, nanti Varo sama Mama terlambat lagi". Ajak Dian.
"Ini pasti suaminya, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ??" Gumamnya dalam hati kemudian melanjutkan langkahnya menyusul Diandra.
Ibu Mirah yang melihat pemandangan pagi ini merasa terharu.
"Andaikan saja mereka bisa jadi satu keluarga" Do'a Ibu Mirah dalam hati.
Dian sempat kaget melihat mobil yang dibawa Ryan, berbeda dengan yang dikendarai semalam. Ryan sengaja membawa mobil Jenis MVP karena ia tahu kalau Alvaro juga harus berangkat kesekolah pagi ini.
*Masa iya emaknya diantar, trus anaknya diterlantarkan* Batin Author π€π€π€.
Ryan membuka pintu mobil dan menggendong Varo ke dalam mobil. Kemudian membukakan pintu depan untuk Diandra.
"Kamu jadi repot pagi ini, maaf yah..!?". Kata Dian.
__ADS_1
"Bukankah kita teman..? Jangan sungkan". Jawabnya sambil fokus menatap kedepan.
Ryan menepikan mobilnya. Diandra hendak turun mengantar Varo namun di cegat oleh Ryan. Ia berniat mengantar Varo sampai ke depan kelasnya.
Ryan dan Varo berjalan menuju kelas, di dalam mobil lagi-lagi Diandra menitikkan air matanya. Dia menyadari, betapa Varo membutuhkan figur seorang ayah saat ini.
"Maafkan mama sayang" gumamnya dalam hati.
"Oke... Jagoan sudah sampai di kelas. Belajar yang rajin yah biar mama bangga". Mengusap kepala Varo.
"Om... boleh gak nanti Varo minta Om ikut lomba sama Varo ?? Dua minggu lagi lombanya akan di gelar." Ryan terdiam berusaha mencerna kata-kata Varo kemudian bertanya.
"Boleh sayang... Lomba apa?".
"Nanti bakal ada lomba yang diikuti siswa dan ayah siswa. Tahun lalu Varo gak ikut karena kata Mama papanya Varo sudah di surga gak bisa temanin varo lomba". Ucapnya sedih.
Ryan merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan Varo. Rasa ingin melindungi dan menjaga Varo kini tumbuh dalam hatinya.
"Oke deh.. Om janji nanti bakal ikut lomba sama varo. Nanti kabarin om aja yah.. Om berangkat dulu sayang, tos dulu dong !". Mereka pun tos mempertemukan kepalan tangan keduanya.
ππππ
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Bersambung...
Author aja sedih ngetiknya.
Mohon maaf bila masih banyak kekurangan.
Terus ikutin lanjutan ceritanya yah...
Jangan lupa like, comment dan share beri masukan buat Author.
Klik tombol β€ dan Rate 5 βββββ
__ADS_1
Vote Please... ππ
β€Author