Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Kita Harus Berteman, Diandra


__ADS_3

M Town Squre.


Diandra memarkirkan mobilanya di parkiran M Town Square. Satu-satunya mall yang ada di Kota M.


Lumayan jauh Diandra memarkirkan mobilnya, sepertinya pengunjung mall lumayan padat hari ini.


Diandra langsung menuju L*tteMart untuk membeli kebutuhannya. Beberapa saat ia berkeliling, memilih barang yang dibutuhkan kemudian di masukkan kedalam keranjang.


Tiba-tiba seseorang berjalan di sampingnya membuat Diandra kaget.


"Pak Ryan...!" Diandra kaget.


"Hi Diandra.. Lagi belanja ?" Ryan Bertanya dengan ramah.


"Iya..." Diandra menjawab singkat.


"Kamu sendirian ?" tanya Ryan lagi.


"Iya..". Dian menjawab seadanya.


"Masih lama belanjanya ?" Ryan mulai kepo.


"Gak tau". jawab Diandra.


Sesaat Ryan merasa aneh melihat tingkah Diandra dan berusaha mencairkan suasana.


"Padahal aku mau nemenin kamu belanja, kebetulan aku juga masih ada keperluan yang harus aku cari" Kata Ryan berusaha mencairkan suasana.


"Maaf Pak Ryan, kita tidak sedekat itu jika harus belanja bareng". Ucap Diandra datar rada cuek sambil memilih beberapa cemilan buat Varo.


"Berarti kita harus lebih dekat lagi dong". Kata Ryan sekenanya.


Diandra menghentikan langkahnya menatap Ryan keheranan, kemudian melanjutkan aktifitasnya.


"Kamu kok beda yah.. kemarin di kantor kamu luar biasa ramah. Tapi kok sekarang juteknya minta ampun ??". Kata Ryan polos.


Lagi-lagi Dian menghentikan langkahnya menatap ke arah Ryan, menarik nafas panjang kemudian melepasnya dengan kasar.


"Ooh yahh ?? Bapak juga berbeda, kemarin di kantor bapak sangat cuek dan dingin, bahkan bapak tidak memperhatikan saya yang lagi menjelaskan, kenapa sekarang tiba-tiba seolah kita adalah teman ?" Jawab Diandra sinis membalas perkataan Ryan.


"Itu kan di kantor... sebagai pimpinan saya harus jaga wibawa saya biar disegani bawahan". Ryan memberi alasan.

__ADS_1


"Maaf, Saya bukan bawahan anda. Lagian sekarang kita lagi di mall dan saya lagi tidak bekerja. Saya rasa bapak mengerti maksud saya". Diandra berlalu dari hadapan Ryan. Dengan segera dia menuju cashier dan membayar semua belanjaannya.


Ryan hanya menatap punggung Diandra yang berjalan menjauhinya. Dia semakin sadar bahwa Diandra memang wanita yang berbeda. Meskipun rada ketus, tapi tak sedikitpun Ryan menaruh sakit hati atas ucapan Diandra barusan.


"Kita harus berteman, aku ingin mengenalmu lebih dekat Diandra" Batinnya.


**********


Diandra meninggalkan parkiran mall menuju rumahnya.


Alvaro yang sedang bermain diteras ditemani Ibu Mira kegirangan mendapati Ibunya pulang cepat.


"Mama kok pulangnya cepat?" Tanya Varo.


"Jadi gak senang nih kalau Mama pulang cepat ?"


Alvaro hanya ketawa menanggapi perkataan Ibunya dan membuka kantong belanjaan yang disodorkan ibunya.


"Eiitss... cuci tangan dulu dong anaknya Mama". Kata Diandra.


"Ehh.. iyaa lupa Ma..!". Varo cengengesan.


Varo berjalan mengekori Ibunya masuk kedalam rumah. Diandra ke kamar mengganti pakaiannya, sedangkan Varo ke arah dapur mencuci tangan kemudian kembali ke teras menikmati cemilannya.


Tiba-tiba...


Pip....pip...piippp...!!!


Sebuah mobil sport Hitam berhenti didepan rumahnya.


Alangkah kagetnya Diandra melihat siapa sosok yang baru saja turun dari mobil itu. Varo pun melihat ke arah pria jangkung berbadan tegap yang baru saja melepas kacamata nya itu.


"Om Ryan..!!"


"Pak Ryan..!!" Sontak Keduanya berseru bersamaan.


"Apa boleh aku mampir sebentar ?" Tanya Ryan setengah berterik dari luar pagar.


"Silahkan masuk pak". Kata Diandra sedikit canggung.


Ryan pun mengunci mobilnya kemudian berjalan menuju teras rumah Dian.

__ADS_1


"Pak Ryan ke dalam yuk". Ajak Diandra.


"Gak usah disini aja" tolak Ryan.


"Masa diluar, gak enak pak diliatnya". ucap Diandra.


"Tadi kamu jutek sama aku, sekarang kok ramah banget..?" Ledek Ryan.


"Maaf, bapak ke rumah saya artinya bapak adalah tamu saya. Dan disini saya sebagai tuan rumah harus bersikap ramah pada tamu saya". Jelasnya.


"Aku juga gak lama kok cuma bawa ini buat Jagoan". Sambil menunjukkan kotak mainan dan menyerahkannya ke Alvaro.


Alvaro kelihatan senang namun tidak menerimanya. Dia hanya menatap ke arah ibunya seolah memberi isyarat apakah boleh ia menerimanya atau tidak. Diandra mengerti maksud anaknya kemudian berkata ;


"Terima kasih Pak Ryan, tapi bapak tidak usah repot-repot. Varo masih punya banyak mainan." Ucap Diandra sedikit tidak enak.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya memberikan hadiah atas partisipasi lomba Varo kemarin". Terang Ryan.


Diandra menatap ke arah Varo dan memberikan isyarat kepada anaknya untuk menerima hadiah itu. Varo pun menerima hadiahnya dengan senang.


"Terima kasih Om atas hadiahnya". Varo kegirangan mendapatkan mainan dari Ryan.


"Iya sama-sama. Varo belajar yang rajin yah, Om pamit dulu". Sambil mengacak rambut Varo dia langsung berlalu tanpa berpamitan pada Diandra.


Diandra hanya mematung melihat kepergian Ryan.


"Dasar pria aneh, berkepribadian ganda" Gerutu Diandra dalam hati.


******************************


Bersambung....


Happy reading guys..


Saya selaku Author mengucapkan terima kasih atas partisipasi para readers.


Jangan lupa terus ikuti kelanjuata Novel ini yah...


Like, Comment & share


Jangan Lupa ❤ dan Vote nya.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2