
Akhirnya, Ryan pun bercerita kepada Hendra dan Melda. Mulai dari kecelakaan yang melibatkannya tiga tahun lalu sampai kejadian tadi yang memang sengaja dia lakukan karena stress.
"Wajar jika Dian seperti itu Ryan.. jika aku di posisinya mungkin aku pun bersikap demikian." kata Melda.
"Iya bang... biarkan dia menenenagkan pikirannya dulu. Beri dia waktu." Timpal Hendra.
"Tapi mau sampai kapan ? Semuanya sudah terjadi, aku bisa apa ? Tindakannya hanya akan melukai hatiku." Kata Ryan sedikit emosi.
"Bagaimana dengan hati Dian ? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya ? kamu jangan egois Yan..." Kata Melda berusaha menasihati.
"Kenapa kalian tidak mendukungku ?" Kata Ryan dengan kesal.
"Bukan begitu Ryan..." Melda tidak tau lagi harus berkata apa pada sahabatnya.
"Sudah, lebih baik kalian pulang aja. Aku baik-baik saja tidak butuh bantuan kalian". Gerutu Ryan kemudian menutup wajahnya dengan selimut.
Hendra dan Melda akhirnya keluar dari ruang perawatan Ryan.
"Ada baiknya kita mendiaminya agar dia bisa berpikir jernih" Kata Hendra.
"Iya... aku juga heran kenapa dia sampai nekat menabrakkan dirinya ke tiang listrik.. Benar-benar gila tuh Ryan" Timpal Melda.
Keduanya berjalan menyusuri lorong Rumah sakit dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Melda berkata;
"Apa jangan-jangan ia sengaja ingin menarik perhatian Dian ?" Kata Melda sambil berpikir.
"Iyaa yah... bisa jadi. kalau begitu kita kasi tau Diandra aja !" kata Hendra mengutarakan idenya dan diangguki oleh Melda.
Hendra akhirnya mengambil ponsel dari saku celananya kemudian mengirim pesan kepada Diandra.
__ADS_1
📨 Di... Kamu dimana ? Aku cuma mau memberitahumu kalau tadi Ryan kecelakaan dan sekarang di rawat di Rumah sakit.
Pesan Hendra terkirim dan sudah dibaca oleh Diandra namun tak ada balasan. Hendra memperlihatkan layar ponselnya kepada Melda.
"Gak di balas sayang.." Kata Hendra.
"Gak apa-apa... yang penting Dian sudah tahu". Kata Melda.
*****
"Apa lagi yang dia lakukan ? Aku tidak akan mempedulikannya" Kata Diandra saat membaca pesan dari Hendra.
Diandra memutuskan untuk menenangkan diri di kamarnya. Ditatapnya wajah Alvaro dengan lekat. Diusapnya rambut lebat putra semata wayangnya.
"Maafkan Mama sayang, kamu masih kecil tapi sudah harus merasakan penderitaan" Kata Diandra sambil mengusap rambut anaknya.
Malam itu terasa sangat panjang bagi Diandra. Perasaannya semakin tidak nyaman setelah mendapat pesan dari Hendra yang memberitahukan bahwa Ryan di rawat di Rumah Sakit. Tak dapat dipungkiri bahwa jauh di lubuk hatinya ia masih mencintai Ryan dan sangat mengkhawatirkan keadaannya. Ia sangat gelisah, diliriknya jam dinding yang kini menunjukkan pukul 23.15. Malam semakin larut namun ia belum juga dapat memejamkan matanya.
"Ibu... maaf bangunin ibu malam-malam. Titip Varo yah.. aku mau keluar sebentar." Kata Diandra membangunkan Ibu Mirah.
"Tapi mau kemana toh nak... sudah larut begini" kata Bu Mirah.
"Ada urusan mendesak bu... Dian jalan dulu yah" Kata Diandra meyakinkan Bu Mirah.
"Ya sudah hati-hati nak" Timpal Bu Mirah.
Diandra Keluar dari kamar Bu Mirah kemudian mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dekat pintu.
Diandra melajukan citycarnya menuju Rumah Sakit. Perasaannya semakin kacau. Sebenarnya ia enggan untuk menemui Ryan, akan tetapi rasa khawatirnya terhadap lelaki yang membuatnya jatuh cinta lebih besar di banding rasa bencinya.
__ADS_1
Diandra tiba di Rumah Sakit langsung menuju ke reception guna menanyakan dimana kamar Ryan di rawat. Setelah mendapatkan informasi, Diandra langsung menuju kamar yang disebutkan oleh receptionis.
Diandra tiba didepan kamar yang disebutkan oleh receptionis, Ia hanya mengintip dari kaca pintu yang transparan. Dilihatnya Ryan yang tengah tertidur dengan kepala yang dibalut perban dan tangan yang di gips. Ia pun mengeluarkan air mata, tidak tega melihat pria yang dicintainya merasa kesakitan. Namun rasa bencinya menghalanginya untuk masuk kedalam.
"Melihatmu dari sini sudah lebih dari cukup, kamu harus segera sembuh Ryan" Batin Diandra dengan linangan air mata di pipinya.
Dengan berat hati, Ia pun melangkahkan kaki meninggalkan Rumah sakit itu.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Terimakasih readers ketcehku 😍😘
Terus ikuti lanjutan ceritanya.
Like, Comment, dan Share
__ADS_1
Add Favorite & Rate 5⭐⭐⭐⭐⭐
❤Author