
Ddrreett...drreettt...
Ponsel Ryan bergetar. Dengan segera ia meraih benda pipih yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, mengusap layarnya kemudian membuka pesan yang masuk dan membacanya.
📩 Bisakah kita bertemu ? Bella.
Setelah membaca pesan itu, tanpa membalasnya ia langsung melemparkannya ke arah tempat tidur. Tentu saja ia tak akan mempedulikan pesan dari Bella. Karena Ryan tau, Semakin ia meladeni Bella maka ia pun akan semakin bertingkah.
Layar posel itu menyala, getarannya teredam oleh selimut tebal yang mengalasinya. Ia pun kembali membaca isi pesan dari Bella.
📩 Ryan, aku mohon... Aku hanya ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya.
"Apa dia bersungguh-sungguh ? Awas saja kalau kamu berani mempermainkanku." Batin Ryan. Kemudian membalas pesan Bella.
📨 Datanglah ke kantorku besok Jam 2 siang. *Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu.
📩 Terima kasih Ryan. Aku akan datang besok*.
Ryan tak lagi membalas pesan Bella. Ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk ukuran king size miliknya. Dalam sekejap ia melupakan pesan dari Bella. Ia kembali berangan-angan, andai saja saat ini ia sudah tinggal se kamar dengan Diandra, pasti akan sangat menyenangkan. Ia pun berlabuh dalam alam mimpinya.
*****
Siang itu, sesuai dengan yang di janjikan Ryan, Bella menuju RW Hotel untuk menemui Ryan. Kali ini ia bersikap lebih ramah kepada Receptionis.
"Permisi, saya ada janji dengan Pak Ryan. Apa bisa saya ke ruangannya sekarang ?" Tanya Bella.
"Mohon maaf dengan nona siapa ?" Tanya Reception.
"Bella." jawab Bella singkat.
"Mohon tunggu sebentar nona." Kata reception, Bella mengangguk mengikuti.
"Nona Bella, anda sudah boleh ke ruangan Pak Ryan. Silahkan Nona Bella menaiki lift di sebelah kanan, menuju lantai delapan, nanti security akan mengantar nona ke ruangan Pak Ryan."
"Terima kasih." Bella segera berlalu menuju lift yang telah di tunjukkan oleh reception tadi.
Ting...!
Lift terbuka. Bella pun mengikuti langkah security yang mengantarnya menuju ruangan Ryan.
"Maaf nona, saya hanya mengantar sampai disini. Nona boleh bertemu dulu dengan asisten Pak Ryan, beliau yang akan mengantar anda."
"Terima kasih pak."
__ADS_1
Security berlalu, dan Bella mendekati meja Hendra. Tampaknya Hendra sedang fokus menatap layar computernya dan tidak menyadari kehadiran Bella.
"Permisi...!" Sapa Bella.
"Oh... maaf. Anda Nona Bella ?" Tanya Hendra.
"Iya.. saya Bella."
"Ooh... jadi ini mantan kekasih Bang Ryan yang di ceritakan Melda tempo hari...? Memang cantik sih..." Gumam Hendra dalam hati.
"Mari saya antar ke ruangan Pak Ryan."
Tok..tok..tok..!
"Pak ada tamu..!" sahut Hendra.
"Masuk saja."
Hendra masuk diikuti Bella di belakangnya. Perasaan Bella kini campur aduk, Antara takut, malu dan canggung karena adanya Hendra diantara mereka.
Ryan memberi kode kepada Hendra. Ia pun mengerti akan isyarat Ryan dan segera pamit kepada keduanya.
"Jika perlu sesuatu saya ada di depan. Saya permisi dulu nona, buatlah diri anda merasa nyaman. Permisi !" Hendra pun keluar dari ruangan meninggalkan Ryan dan Bella.
Bella pun langsung menuruti perintah Ryan duduk di sofa yang berhadapan dengan Ryan.
"Katakan, apa tujuanmu datang kesini. Aku cuma punya waktu sepuluh menit." Ketus Ryan.
"Ryan... aku...!"
"Bicaralah.. jangan membuang waktuku dengan percuma."
"Ma...ma..af... Aku kesini untuk minta maaf padamu. Aku sadar aku salah."
"Ooh..hanya itu ?"
"Apa kamu mau memaafkanku ?"
"Sudahlah... aku sudah memaafkanmu."
"Benarkah..?" Tanya Bella dengan mata berbinar.
"Forgive, not forgotten." Jelas Ryan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan menyudahi semuanya ?" kata Bella memelas.
"Akan menyudahi katamu ? We're all over Bella."
"Aku hanya meyakinkan diriku saja... Dan kini aku sadar. Sudah tak ada lagi diriku di hatimu. Betapa bodohnya aku waktu itu, menyia-nyiakan perasaanmu padaku. Aku Aku sangat bersalah padamu, aku memang tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Tapi aku sangat bersyukur, kamu bisa memaafkanku. Semoga kedepannya kita masih bisa berteman seperti dulu. I'm happy for you Ryan.."
"Hmm...." Sahut Ryan cuek.
"Kali ini aku benar-benar tulus Ryan. Aku tidak akan mengusik kebahagiaanmu lagi."
"Baguslah kalau kamu mengerti. Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu."
"Terima kasih. Sebelum aku kembali ke Negara S, apa boleh aku meminta sesuatu padamu ?" Pinta Bella seperti memohon.
"Katakanlah...!" Kata Ryan.
"Aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kali."
Ryan sangat kaget dengan permintaan Bella. Namun ia pun merasa kasihan pada wanita yang selama tiga tahun menjadi kekasihnya itu. Dengan berat hati ia pun berdiri dan memenuhi permintaan Bella.
Bella berdiri dan setengah berlari menghambur ke pelukan Ryan. Di dekapnya tubuh tegak Ryan dengan erat. Ia pun menangis sesenggukan, betapa ia sangat merindukan orang yang pernah menjadi kekasihnya itu. Bayang-bayang masa lalu saat mereka masih bersama kini menari-nari dalam benaknya. Air mata pun semakin mengucur deras di pipinya. Ryan pun membalas pelukan Bella, diusapnya dengan pelan rambut indah bergelombang milik Bella.
"Terima kasih Ryan... kamu sudah memenuhi permintaanku." Kata Bella lirih.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Ryan langsung melepas pelukannya. Bella pun dengan sigap mengusap pipinya yang basah karena air mata.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Mohon di Like dan berikan komentar agar author lebih semangat membuat ceritanya.
__ADS_1
Terimakasih