
Keduanya kini berjalan menuju rumah kepala desa yang letaknya diseberang jalan.
Hanya beberapa menit, mereka pun tiba di kediaman Pak Bagus.
"Assalamualaikum..." Sahut pemuda itu.
"Waalaikum salam" Jawab wanita paruh baya yang berjalan ke arah sumber suara.
"Eh... ada tamu rupanya. Masuk nak.." Ajak Ibu itu yang ternyata istri dari Pak Bagus.
"Terimakasih bu... Bapak ada di rumah Bu ?" tanya pemuda itu.
"wadduuh... bapak baru saja keluar. Tapi gak akan lama kok nak... Kalau boleh tahu ada apa yah..?" Tanya istri pak Bagus.
Diandra kemudian membuka suara.
"Perkenalkan bu.. nama saya Dian. Tujuan saya ingin ketemu Pak Bagus karena ingin menanyakan sesuatu hal." Kata Diandra.
"Asalkan Nak Dian mau menunggu, mungkin bapak tidak akan lama". Kata istri Pak Bagus dengan ramah.
"Tidak apa-apa kan bu kalau saya menunggu Pak Bagas disini ?" Tanya Diandra penuh harap.
"Iya nak, tidak apa-apa. Ibu malah senang ada yang menemani di rumah." Jawab istri pak Bagas sembari menggenggam hangat punggung tangan Diandra.
Istri Pak Bagus beranjak dari duduknya menuju dapur membuatkan teh buat tamunya. Selang beberapa menit Ia pun keluar membawa nampan dengan 2 cangkir teh manis kemudian menyuguhkannya kepada Diandra dan pemuda itu.
"Diminum nak... ala kadarnya". Menawari Diandra minum.
"Ibu kenapa repot-repot... Dian jadi gak enak". Diandra tersenyum merasa dirinya sangat merepotkan tuan rumah, dan Istri Pak Bagas hanya tersenyum tulus membalasnya.
Mereka pun berbincang-bincang kecil sambil menunggu. Tak lama kemudian.....
"Assalamualaikum.." Sahutan dari luar rumah.
"Waalaikumsalam..." Ketiganya menjawab salam bersamaan.
"Nah.. itu bapak sudah pulang.." Ia langsung menyambut suaminya di depan dan menjelaskan bahwa didalam ada tamu dari kota M ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
Saat melihat sosok Pak Bagus Diandra langsung berdiri dan menyalaminya. Diandra memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud tujuannya datang menemuinya.
"Ohh... begitu nak. Memang jalan didepan itu sangat rawan terjadi kecelakaan karena medannya yang sedikit beresiko. Mungkin nak Dian bisa menunjukkan foto suami nak Dian, siapa tau bapak ada bayangan tentang kejadiannya. Maklumlah, bapak sudah tua jadi mulai pikun". Kata Pak Bagus setelah mendengar cerita Diandra.
Diandra kemudian menunjukkan foto Mario dan sepeda motor yang di kendarainya.
"Hmmm..... iya bapak ingat. Waktu itu bapak lagi dipekarangan memasang umbul-umbul dengan warga. Dari kejauhan bapak melihat sepeda motor yang dikendarai suami nak Dian kehilangan keseimbangan, akhirnya menabrak pembatas jalan. Setelah tubrukan itu terjadi, tubuh suami nak Dian terpental cukup jauh. Disaat yang bersamaan ada mobil dari arah yang berlawanan nyaris menabrak suami nak Dian. Dengan segera orang itu menelpon ambulance, setelah ambulance datang Bapak ikut menemani korban di ambulance menuju rumah sakit, pemuda itu juga ikut mengantar ke rumah sakit namun Ia mengendarai mobilnya sendiri. Setelah keluarga korban sudah datang, Ia pamit sama bapak." Cerita Pak Bagas.
Deg...!!!
Jantung Diandra seakan berhenti saat itu. Jiwanya menjerit merasa bersalah kepada Ryan. Namun Ia masih bingung kenapa Ryan menganggap bahwa dirinya yang telah menabrak Mario.
"Apa ini orangnya pak ?" Diandra menunjukkan foto Ryan kepada Pak Bagus.
"Sepertinya ini orangnya nak.. tapi bapak tidak begitu yakin. Kejadiannya sudah lama" Kata Pak Bagus sambil mengangguk-angguk.
"Ryan...." Bulir air mata kini berjatuhan membasahi pipi Diandra.
********
"Marko... cepat sedikit..!" Perintah Ryan.
"Baik pak..!" jawab Marko singkat.
Saat melewati tikungan tempat kecelakaan yang melibatkan dirinya, ia melihat sebuah mobil terparkir yang tidak asing baginya.
"Pelankan Marko,,!" kata Ryan sambil menepuk-nepuk pundak kiri Marko.
"Apaan sih si boss, tadi di suruh cepat, eehh sekarang dibsuruh pelan. Untung saja dia bossku" Gerutu Marko dalam hati.
"Putar balik mobilnya !" Perintah Ryan dan langsung dituruti Marko.
"Berhenti..!" Kemudian Marko memarkirkan mobil tepat di belakang mobil Diandra.
Ryan turun dari mobil kemudian berjalan ke arah Mobil Diandra. Ia memperhatikan sekitarnya, hanya ada 3 rumah yang paling dekat dari mobil itu. Ia mendatangi salah satunya, namun tampaknya penghuni rumah itu sedang keluar. Kemudian ia menuju rumah di seberang jalan.
Tok...tok..tok..!
__ADS_1
Ryan mengetuk pintu rumah Pak Bagas yang tidak tertutup. Semua yang ada di ruang tamu menatap sumber suara dengan serentak. Sontak Ryan melihat ke arah Diandra yang duduk dekat pintu, Diandra berdiri dari duduknya menatap nanar pada Ryan. Tanpa menunggu dipersilahkan Ryan langsung masuk dan menghampiri Ryan.
"Sayang... apa yang kamu lakukakn disini" Kata Ryan dengan nada cemas menghampiri Diandra.
Diandra tak menjawabnya, seketika tangisnya pecah dan menghambur ke pelukan Ryan.
Ryan yang tak tau apa-apa hanya membalas pelukan Diandra dengan hangat. Tak dapat Ia pungkiri bahwa Ia sangat merindukan wanitanya itu, ia mengusap punggung Diandra dengan pelan untuk memberinya ketenangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like
Comment
Share
Add Favorite
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote
__ADS_1