
"Sayang, aku mohon tolong dengarkan aku" Ryan mencoba memeluk Diandra namun ditolak mentah-mentah oleh Diandra.
"Sekarang kamu pergi, dan jangan injakkan lagi kakimu di rumahku. Pergi..!!!" Tangisan Diandra pecah sehingga Bu Mirah dan Varo datang dan menghampirinya.
"Mama kenapa ?" Tanya Varo dengan nada sedih.
"Varo dengerin mama yah sayang... Varo punya Mama, dan kita tidak butuh orang lain lagi. Varo sama Mama saja sudah cukup. Varo main lagi yah sama Ibu Mirah" Kata Diandra sambil menatap tajam ke arah Ryan.
"Apa lagi yang kamu tunggu hah ? Lebih baik kamu pergi sebelum aku panggil polisi." Kata Diandra dengan nada membunuh.
"Diandra, tolong kita bisa bicara baik-baik. Aku tidak bisa jika harus tanpa kamu" Ucap Ryan dengan memohon.
Diandra hanya tersenyum sinis sambil melepas cincin yang ada dijarinya kemudian menyerahkannya kepada Ryan.
"Ambil ini. Aku tidak butuh..!" Kemudian mendorong badan Ryan agar segera keluar dari kamarnya.
Saat Ryan sudah berada di luar kamar, Diandra membanting pintu dengan kasar dan menguncinya.
Ryan hanya menatap cincin yang diserahkan Diandra barusan. Air matanya kini mengalir deras. Digenggamnya cincin itu kemudian melangkah pergi.
Ia meninggalkan rumah Diandra dengan suasana hati yang benar-benar kacau. Hatinya sangat hancur.
Ia pun berlalu, mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi
***
"Nak Dian...!" Panggil Bu Mirah dari luar kamar.
Diandrapun membukakan pintu dan langsung memeluk Bu Mirah dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
"Bu.... dia seorang pembunuh.. Dia yang sudah membunuh suami Dian...Kenapa hidup begitu tidak adil kepada Dian bu..." Kata Diandra dengan tangisan yang tak henti-hentinya.
__ADS_1
"Sabar nak... Jangan bicara seperti itu, gak baik. Kamu tenang dulu, sekarang kamu istirahat dulu, tenangkan pikiranmu." pinta Bu Mirah.
*****
Ryan yang berkendara dengan kecepatan tinggi sesekali memukul stir mobilnya. Tak henti-hentinya Ia merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa aku begitu bodoh..? Diandra..aku mohon jangan pergi dariku" Tangisnya mulai pecah.
Tiba-tiba..
Prakk...!! Brrruuugghhh...!!
Ryan dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke tiang listrik di pinggir jalan. Darah segar mulai bercucuran dari lengannya akibat terkena pecahan kaca jendela mobil. Bagian depan mobilnya penyok akibat benturan keras. Airbag yang mengembang saat benturan itu terjadi hanya mampu melindungi bagian wajah dan dada.
Seseorang yang melihat kejadian itu langsung memanggil ambulance untuk penyelamatan. Selang beberapa menit ambulance pun datang, kemudian membawa Ryan ke Rumah Sakit.
****
Hendra dan Melda yang mendengar kejadian naas itu langsung menuju rumah sakit.
"Dokter bagaimana keadaan saudara saya ?" Tanya Hendra sedikit panik.
"Kami sudah mengambil tindakan, untuk perkembangannya kita tunggu beberapa saat. Lukanya tidak terlalu serius dan tidak ada luka dalam. Pasien hanya shock saja." jelas dokter kemudian berlalu.
"Apa kita harus memberi tahu Om dan tante ?" kata Melda.
"Tidak usah... aku gak mau mereka khawatir" Kata Hendra dan Melda pun mengangguk tanda setuju.
Hendra dan Melda masuk ke ruang perawatan Ryan. Ternyata Ryan sudah sadar dari pingsannya.
"Bagaimana keadaan kamu bang ?" Tanya Hendra dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" Kata Ryan sambil menunjukkan lengannya yang di gips.
"Lain kali harus lebih berhati-hati, jangan ceroboh bang..!" Kata Hendra sedikit kesal melihat tingkah sepupunya yang seakan tidak peduli dengan dirinya sendiri.
"Sebenarnya kamu kenapa Ryan..? Tidak biasanya kamu seperti ini". Tutur Melda dengan penuh cemas.
"Hhmmm....aku gak tau harus mulai dari mana menceritakannya Mel..". Kata Ryan.
Akhirnya, Ryan pun bercerita kepada Hendra dan Melda. Mulai dari kecelakaan yang melibatkannya tiga tahun lalu sampai kejadian tadi yang memang sengaja dia lakukan karena stress.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu author yah..
Like, comment, dan share.
Terus ikuti lanjutan kisahnya tambahkan ke favorit dan rate 5⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Terimakasih 😍🥰😘