
Bella berdiri dan setengah berlari menghambur ke pelukan Ryan. Di dekapnya tubuh tegak Ryan dengan erat. Ia pun menangis sesenggukan, betapa ia sangat merindukan orang yang pernah menjadi kekasihnya itu. Bayang-bayang masa lalu saat mereka masih bersama kini menari-nari dalam benaknya. Air mata pun semakin mengucur deras di pipinya. Ryan pun membalas pelukan Bella, diusapnya dengan pelan rambut indah bergelombang milik Bella.
"Terima kasih Ryan... kamu sudah memenuhi permintaanku." Kata Bella lirih.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Ryan langsung melepas pelukannya. Bella pun dengan sigap mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Ryan segera mengambil langkah menuju pintu. Di hampirinya wanita yang membuka pintu tadi dengan maksud ingin menjelaskan semuanya.
"Sayang... biar aku jelaskan." Kata Ryan panik.
"Apa ini jebakan kamu Bella..?" Bentak Ryan pada Bella.
Bella yang nampak bingung tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya kini semakin deras membasahi pipinya.
"Jangan salahkan siapa-siapa. Disini aku yang salah karena membuka pintu tanpa permisi." Kata Diandra berusaha tenang.
Diandra bingung, ingin rasanya ia mempercayai perkataan Ryan. Namun yang di lihatnya sudah cukup menjelaskan keadaan saat itu.
"Kalian lanjutkan saja, aku permisi dulu." Kata Diandra yang menatap nanar ke arah Ryan kemudian berlalu.
"Tidak mbak... tunggu dulu. Dengarkan penjelasan saya." Kata Bella yang berusaha mengejar Diandra.
Saat Bella berhasil menyamai langkah Diandra, ia menggenggam pergelangan tangan Diandra agar mau mendengarkan kata-katanya.
"Maaf mbak, mbak harus mendengarkan saya. Ini tidak seperti dengan yang ada di pikiran anda." Kata Bella.
"Memangnya anda tau apa yang ada dipikiran saya ?" Diandra balik bertanya.
"Maaf saya tidak tau. Ijinkan saya menjelaskannya kepada anda."
Bella mencoba mengajak Diandra masuk ke dalam ruangan Ryan, dan ia berhasil. Diandra mulai melemah mengikuti Diandra dan duduk disamping Bella.
"Sebelumnya saya minta maaf karena mengusik kehidupan kalian. Maksud dan tujuan saya kesini hanya untuk berpamitan dengan Ryan. Awalnya saya ingin meyakinkan Ryan untuk kembali bersama saya, tapi saya menyadari bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil. Ryan hanya mencintai mbak, tidak ada saya lagi di dalam hatinya." Jelas Bella.
"Yang tadi..?" Tanya Diandra lirih.
"Mbak salah faham. Tadi saya meminta untuk memeluk Ryan untuk yang terakhir kali. Saya akan kembali ke Negara S untuk melanjutkan study saya. Saya memeluknya hanya sebagai teman. Saya sudah berjanji bahwa saya tidak akan mengusik kebahagiaan kalian lagi." Bella menatap dalam mata Diandra sembari menggenggam tangannya.
Diandra hanya menunduk, menyadari akan kekeliruannya barusan. Seketika ia kembali menyadari akan arti Ryan baginya.
"Maafkan saya, saya hanya kurang percaya diri." Tutur Diandra polos.
__ADS_1
"Kurang percaya diri bagaimana ? Mbak adalah wanita yang hebat. Saya sudah tau semua semua tentang mbak. Justru saya yang merasa iri kepada mbak. Mbak bisa menaklukkan hati Ryan, wanita kuat dan seorang pekerja keras, mampu menjaga dan merawat anak seorang diri." Kata Bella mencoba menghibur Diandra.
Ryan hanya menatap kedua wanita itu dengan penuh haru. Sahabat sekaligus mantan kekasihnya yang terkenal manja dan egois kini terlihat sangat dewasa Sedangkan wanita yang kini dicintainya itu memperlihatkan sisi lemahnya. Diandra yang biasanya kuat, tegar dan terkesan cuek kini menampakkan kecemburuannya dengan jelas.
"Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Bella, karena dia aku bisa melihat wajah Diandra yang lagi cemburu." Gumam Ryan dalam hati.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Kalian baik-baik yah... Kabari aku saat pernikahan kalian akan di gelar. Aku pasti datang." Kata Bella.
"Tentu.. aku akan mengabarimu." Kata Ryan.
"Tapi jangan memeluknya lagi..." Kata Diandra yang bergeluyut manja di lengan Ryan.
"Haa.haa...haa..." Ketiganya tertawa mendengar tuturan Diandra.
*************
Flashback On :
"Bel... aku ada info tentang wanitanya Ryan." Kata Cindy yang tiba-tiba masuk ke kamar Bella.
"Oh yah..?"
"Janda beranak satu ? Mau juga tuh si Ryan sama jendes." kata Bella mendumel kesal.
"Tapi.... tau tidak... Dia itu meskipun seorang janda, dia sangat menjaga nama baiknya. Semenjak hidup sendiri dia tidak pernah dekat dengan lelaki manapun. Dia hanya fokus bekerja dan merawat anaknya."
"Tau dari mana kamu ?"
"Dari Om Adrian,,, adiknya Papaku. Om Adrian itu pimpinan di Bank X, bossnya Diandra. Kata Om Adrian, mama dan papanya Ryan sudah merestui hubungan mereka. Awalnya aku dukung kamu buat mengejar Ryan, tapi setelah mendengar cerita Om Adrian kayaknya bakal sia-sia saja kamu mengejarnya. Jadi kamu pikir-pikir lagi yah beb..!?" Kata Cindy memeluk sahabatnya. Bella hanya tertunduk lesu mendengar cerita Cindy.
"Yang tidak kalah penting nih ya... ternyata Diandra itu istrinya mendiang Revan."
"Revan...? Revan yang mana ?"
"Kamu gimana sih katanya dekat dengan keluarga Ryan. Revan itu kakaknya Ryan yang hilang sejak kecil karena di culik bibinya. Mereka pikir Revan itu sudah meninggal saat kecelakaan waktu itu, ternyata Revan itu diselamatkan seseorang."
"Yaa ampun... berita sebesar ini aku kok gak tau yah..? Kamu benar-benar hebat Cin bisa dapat info sebesar ini."
"Hmm.... siapa dulu dong.. Cindy..!!" kata Cindy berlagakn sombong.
"Aku akan menemui Ryan, dan memastikannya sendiri.." Kata Bella berusaha memantapkan hatinya.
__ADS_1
***Flashback Off.
.
.
.
_________________
Bersambung....
Jangan lupa meninghalkan jejak setelah membaca.
Klik Like, comment, add Favorite dan rate 5⭐⭐⭐⭐⭐.
Berikan dukungan sebanyak-banyaknya buat author agar lebih semangat menulis kelanjutan kisahnya.
Don't forget to VOTE
Terima kasih 🥰🥰***
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Mohon di Like dan berikan komentar agar author lebih semangat membuat ceritanya.
Terimakasih
__ADS_1