
Ryan keluar dari kamar mandi, matanya nampak menyapu seisi ruangan karena tidak menemukan sosok dua wanita yang sangat ia cintai.
"Kemana mereka ? Apa dokter Jenny sudah datang ?" Ryan membatin. Ia pun bergegas memakai kaos polos yang ia ambil dari dalam lemari dan memadukannya dengan celana pendek selutut, pakaian yang menjadi ciri khasnya saat berada di rumah.
Ryan nampak celingak-celinguk mencari istrinya, ia ke kamar Varo namun tak dijumpainya sang istri disana. Kemudian menuju ruang keluarga namun hasilnya tetap sama.
"Sayang, kamu cari apa ?" Tanya Diandra yang melihat suaminya seperti sedang mencari sesuatu.
"Kamu dari mana ? Apa dokter Jenny sudah datang ?" Bertanya sambil mencari-cari sosok dokter Jenny.
"Dokter Jenny ? Ooh.. dia baru saja pergi." Jawab Mama Rika.
"Terus apa katanya ? Kamu sakit apa sayang ?" Mendekati istrinya dan menggenggam lengan atasnya.
Diandra malah membalik posisi mereka, kini ia yang bergeluyut manja di lengan suaminya kemudian mengajaknya duduk di sofa. Mama Rika pun mengekor duduk di sofa sebelah Ryan dan Diandra.
"Aku baik-baik saja sayang, tidak ada masalah yang serius. Jangan khawatir yah.. Kamu tunggu disini aku mau bantu bibi nyiapin makan malam." Diandra hendak berdiri namun di tahan oleh Ryan.
"Tidak usah bekerja, baru saja kamu mengeluh karena merasa pusing, sekarang sudah mau bekerja lagi. Pokoknya kamu diam dan istirahat." Perintah Ryan seolah tak ingin di bantah.
"Tapi aku baik-baik saja sayang." Tolak Diandra.
"Aku tidak suka penolakan, mengerti ?" Kata Ryan lagi.
"Iya, nak... suami kamu benar. Dengan kondisimu yang seperti sekarang ini, kamu harus lebih banyak beristirahat dan perhatikan pola makanmu. Kamu harus makan makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup." Nasihat Mama Rika.
"Memangnya ada apa ini ? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku ?" Ryan mulai terbawa emosi, wajahnya agak memerah karena merasa di bohongi.
"Jangaan marah dulu sayang." Diandra mencoba menenangkan.
"Mama, kita kasi tau sekarang aja yah ? Takut dia keburu mengganas." Pinta Diandra, Mama Rika mengangguk pelan menyetujui permintaan menantunya.
"Ayo cepat katakan, aku tidak suka penasaran." Gerutu Ryan.
"Iya..iya... sabar dulu. Jangan kaget yah,,, Tapi sebelumnya kamu janji dulu, setelah ini kamu tidak akan berlebihan menyikapinya..!?" Diandra mencoba bernegosiasi karena ia tau persis bagaimana sifat suaminya yang pemaksa dan over protective itu.
"Ya tergantung...!" Jawab Ryan singkat.
"Pokonya janji dulu..!" Diandra ngotot.
__ADS_1
"Iya..iyaa.. aku janji. Cepat katakan..!" Ryan semakin penasaran.
"Hhuuuhh... Bismillah... Sayang,,, sebenarnya... a..ku...!"
"Ayo katakan... jangan aku aku saja." Gerutu Ryan.
"Iya makanya jangan di potong kata-kata aku." Diandra mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Mama Rika sendiri sangat gemes melihat tingkah kedua suami istri itu.
"Ya cepat, katakan..!" Kata Ryan.
"Sayang... a..ku.. HA-MIL...!?" Mengembangkan senyum di bibir tipis nan sexynya. Sesekali ia mengedip-ngedipkan matanya menggoda suaminya yang hanya ternganga mendengar penuturannya barusan.
Entahlah, Ryan sepertinya tidak percaya akan kata-kata istrinya. Meskipun sebenarnya kabar itu membuat jantungnya berjoget ria dibalik dadanya.
"Heii...kenapa diam saja ? Apa kamu bahagia sayang ?" Diandra menggoyang-goyangkan tubuh suaminya seolah menyadarkannya dari kebungkamannya.
"Kamu serius sayang ? Kok bisa ?" Tanpa sadar Ryanpun menggoyangkan tubuh mungil istrinya itu.
"Iya sayang... aku serius !" sambil menunjukkan alat tespeck berukuran kecil yang menunjukkan dua garis merah.
Sontak Ryan memeluk tubuh istrinya dan menghujani wajahnya dengan kecupan. Ia sangat bahagia, bangga dan terharu. Akhirnya ia akan benar-benar menjadi seorang ayah yang sesungguhnya. Meskipun kini ia berperan menjadi ayah bagi Alvaro, namun tak mengurangi keinginannya untuk memiliki anak lagi, anak yang memang buah cintanya sendiri dengan istrinya.
"Hey... ada apa ini ?" Papa Raka tiba-tiba datang bersama Varo mendekati Ryan dan Diandra.
"Ada kabar yang sangat menggembirakan pa... Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu." Tutur Ryan.
"Siapa yang mau datang ?" Tanya Raka lagi.
"Aahh... papa ini." Sambil menunjukkan gaya menggendong kepada ayahnya.
"Apa sih maksudnya... Papa gak mengerti." Kata Pak Raka bingung.
"Iya nih... Papa ada-ada saja." Sambung Varo.
"Sini sayang,,, Varo mau punya adek bayi ?" Tanya Ryan dengan lembut kepada anaknya sambil memeluknya dipangkuannya. Varo mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan papanya.
"Nah, Sebentar lagi Varo bakal punya adik. Di perut mama sudah tumbuh adiknya Varo." Jelas Ryan.
"Kamu serius Ryan? Apa benar yang dikatakan suamimu yang gila ini sayang ?" Pak Raka balik bertanya kepada Diandra memastikan perkataan Ryan. Diandra hanya mengangguk senang.
__ADS_1
"Papa apa-apaan sih. Ngatain Ryan gila. Gini-gini Ryan berhasil loh mencetak bayi di perut istri Ryan." ucap Ryan bangga.
"Iya nih papa kebiasaan sama anak sendiri." Mama Rika menimpali.
"Iya, Pa... Dian lagi hamil. Kata dokter Jenny usia kandungan Dian sudah jalan tiga minggu." Diandra menjelaskan.
Semuanya kegirangan mendengar kabar baik itu, Varo tidak berhenti bersorak karena merasa senang akan memiliki adik bayi. Sedangkan Ryan dan Papa Raka tidak usah di tanyakan lagi. Keduanya memang sangat menantikan moment ini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Author Mohon maaf bila update Babnya sedikit dan kadang lama. Sebisa mungkin akan update rutin. Maklum, author juga punya kesibukan yang lain.
Jangan lupa tetap meninggalkan jejak setelah membaca. Ditunggu masukannya.. Komentar positif yang sifatnya membangun sangat outhor butuhkan biar lebih semangat lagi. Jangan di bully please...
Jangan lupa:
LIKE
COMMENT
VOTE
ADD FAVORITE
RATE 5 BINTANG.
Terima kasih 😍🙏
__ADS_1