Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Kita Impas.


__ADS_3

Keduanya berjalan menyebrangi jalan menuju ke tempat dimana Ryan memarkirkan mobilnya.


Ryan berjalan didepan disusul Diandra berjalan dibelakangnya.


Saat hendak menyebrang jalan, dari kejauhan terlihat seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mereka.


Refleks Dian mempercepat langkahnya guna mendorong tubuh Ryan agar tidak tertabrak.


Buuggggghhh...!!!


Ryan kaget, badannya terpental ke arah mobil. Diandra kehilangan keseimbangan tubuhnya dan menubruk tubuh Ryan yang membelakanginya.


Deg...!!


Posisi keduanya terlihat canggung. Seolah Diandra memeluk Ryan dari belakang. Keduanya kaget, Diandra memejamkan matanya dengan kuat, sedangkan Ryan spontan menoleh kebelakang.


Ryan membalikkan badannya dengan segera, namun Diandra masih memejamkan matanya.


Saat membuka mata, keduanya terpaku dan saling bertatapan.


"Kenapa kamu begitu bodoh ? Hampir saja kamu mencelakai dirimu sendiri." Ryan marah.


Diandra hanya diam, tak terasa air matanya keluar dari pelupuk matanya.


"Kenapa kamu menangis ?? Apa hanya ini yang bisa kamu lakukan..??" Ryan semakin emosi karena tak ada jawaban dari Diandra.


Diandra kemudian mengusap air matanya dengan kasar.


"Apa kamu hanya bisa marah-marah hahhh?? Tadi aku hanya berusaha menyelamatkan kamu. Aku bahkan tidak mempedulikan keselamatan aku sendiri. Kalau tadi aku gak dorong kamu, apa kamu bisa yakin bahwa kamu tidak tertabrak ? Apa kamu yakin bisa selamat dari maut, hahhh ?? Sekarang jawab aku!!!" Dengan suara yang bergetar dia berteriak ke arah Ryan.


"Kamu cukup menjaga diri kamu sendiri. Kenapa kamu mempedulikan aku ?? Jawab Diandra !!!

__ADS_1


"Aku gak tau !! Cukup, jangan bentak aku lagi". Dianpun semakin menangis se jadi-jadinya.


Tiba-tiba Ryan menarik tangan Diandra dan memeluknya. Diandra hanya terpaku, tak bergeming dengan perilaku Ryan.


"Maaf, Aku cuma gak mau kamu terluka. Aku mohon jangan lakukan hal bodoh lagi yang bisa mengancam keselamatanmu.". Ryan Berucap pelan di dekat telinga Dian.


Diandra meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Ryan, namun tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Ruan. Ryan akhirnya melonggarkan pelukannya.


"Ayo..aku antar kamu pulang sekarang". berjalan berniat membukakan pintu mobil untuk Diandra.


"Tunggu... bisa kah kamu membawaku ke suatu tempat sepi?". Ryan menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya.


"Kenapa ?" Ryan Masih bingung dengan maksud perkataan Diandra.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak mau pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini. Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu".


"Masuklah..!".


Tiba di rumah Ryan.


"Ayo masuk... maaf disini tidak ada siapa-siapa. Rumah ini baru selesai di renovasi. Minggu depan aku berencana pindah kesini." Jelasnya.


"Maaf, saya merepotkan anda".


"Kita tidak lagi bekerja, bisakah kamu memanggilku Ryan saja, hemmm ??" Tersenyum membungkukkan badannya menatap wajah Diandra.


Diandra hanya mengangguk menanggapi permintaan Ryan.


"Sebenarnya kamu kenapa ?? Maaf bukannya meremehkanmu, tapi sepertinya tadi kamu terlalu berlebihan".


Diandra langsung mengangkat wajahnya menatap Ryan dengan heran.

__ADS_1


"Yang berlebihan siapa ?? Bukannya kamu yang duluan marah-marah ke aku ??" Sambil menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Kamu pikir coba, demi menyelamatkan aku kamu rela korbankan dirimu sendiri. Kalau kamu kenapa-napa kan aku juga yang repot". Jawabnya asal.


"Anggap aja kita impas. Sebagai balasan kamu nolongin aku bawa mobilku ke bengkel". Tutur Dian.


Ryan hanya tertawa mendengar ucapan Dian.


"Belum tau dia apa rencanaku selanjutnya. Setelah PK kutandatangani, dia akan semakin terikat denganku" Gumam Ryan licik.


"Kenapa cengar-cengir ?? Apa lagi yang kamu rencanakan ??" Lidik Dian curiga.


"Gak.. kamu lucu". kemudian.....


Cup...!!!


Dengan sigap Ryan mengecup pipi Diandra kemudian berlalu ke arah dapur. Wajahnya tiab-tiba merah merona dan hanya menganga, diam tak bergeming atas apa yang baru saja dilakukan Ryan kepadanya. Ingin marah tapi takut jangan sampai Ryan akan berbuat lebih padanya. Jika di diamkan, jangan sampai Ryan akan menjadikannya kebiasaan. Diandra benar-benar bingung.


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


Bersambung...


Terimakasih untu para readera.


Terus ikuti Novel ini yah..


Like, comment dan Sharingnya sangat membantu.


Klik tombol ❤ dan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Jangan lupa di vote

__ADS_1


❤Author


__ADS_2