
Masih awal bulan. Biasanya pekerjaan Diandra belum padat. Diandra akan bekerja extra saat memasuki pertengahan bulan hingga akhir bulan. Begitu seterusnya.
"Hari ini makan siang bareng yah..? aku traktir" Ajak Doni.
"Ckckck... tajir kamu yah..?" Goda Dian.
"Apa salahnya berbuat baik ke sahabat sendiri ??"
"Iyaa dehh..". Jawab Dian kemudian memeriksa kembali berkas-berkas yang ada dihadapannya.
Jam istirahatpun tiba, Doni mengingatkan Diandra untuk makan siang bersama susuai yang dijanjikannya tadi.
"Dian.. udah selesai ?? yuk..!!" ajak Doni.
"Iya udah.. pakai mobil aku aja yah. Kita ajak Jihan juga, dia udah mau istirahat".
"Tapi....!!?"
"Gak ada tapi-tapian.. masa sama teman sendiri pelitnya minta ampun. Lagian kita udah lama gak makan bertiga".
Doni rada kesal, niatnya mengajak Diandra makan berdua tujuannya untuk mengutarakan isi hatinya. Namun ia pun tak mampu menolak keingan pujaan hatinya itu yang ingin mengajak Jihan.
"Jihan... ayok kita makan di tempat biasa. Doni mau nraktir kita tuh..!". Ajak Dian.
J"Gak ah.. aku makan di kantor aja. Kalian aja yang pergi. Maaf yah..".
"Kok gitu sih... kan udah lama kita gak makan bertiga."
"Lain kali aku pasti ikut kok".
"Ya udah kalau gitu.." sedikit kecewa dan berjalan ke arah pintu keluar gedung kantor.
Doni menarik nafas lega, akhirnya bisa berdua dengan Diandra meskipun merasa sedikit aneh dengan tingkah Jihan. Keduanya kemudian menuju Restoran yang cukup terkenal di Kota M. Karena Jihan tidak ikut, Mereka ke restoran menggunakan Sepeda motor milik Doni biar lebih cepat dan tanpa hambatan.
Pengunjung restoran lumayan padat, tak didapatinya meja dan kursi yang kosong.
"Penuh Don, kita cari tempat yang lain aja yuk..!" Mengajak Doni untuk meninggalkan tempat itu.
"Baiklah..ayok.. !
__ADS_1
Tiba-tiba sesseorang berlari kecil menghampiri mereka.
"Di....!". Diandra berhenti melangkah saat mendengar seseorang memanggil namanya dan membalikkan badan.
"Hendra...!".
"Kamu mau makan disini juga..?"
"Sebenarnya iya, tapi kami lupa reservasi terlebih dahulu jadinya gak dapat kursi. Kami mau cari tempat yang lain aja."
"Gabung aja di tempatku, masih kosong kok, kami cuma bertiga." Menunjuk ke arah meja yang ada di pojok.
Diandra menoleh kearah meja yang ditunjukkan Hendra, disaat yang bersamaan Ryan pun tengah menatap Diandra dari jauh. Sesaat keduanya saling bertatapan namun langsung di tepis oleh Diandra.
"Gimana, ayoklah...!"
"Don... gimana ?". Bertanya pada Doni yang terlihat resah.
"Terserah kamu aja..!"
" Ya udah, teman kamu gak masalah jadi kamu harus ikut". Menarik tangan Dian menuju ke Meja makan.
"Mereka mau makan juga disini, tapi gak kebagian tempat. Ya aku ajak sekalian".
"Duduk Ibu Dian.. nih masih ada kursi yang kosong."
Dianpun berjalan ke arah kursi kosong disamping Melda dan tepat berada di hadapan Ryan. Kemudian diikuti Doni yang duduk disebelah Dian.
"Kalian langsung pesan aja". seraya memanggil pelayan.
Diandra dan Doni pun memesan menu yang akan mereka makan. Diandra dan Doni nampak canggung berada5 satu meja dengan Hendra dan kawan-kawannya. Kali ini, raut wajah Ryan kelihatangan sangat tidak bersahabat. Sifat dingin dan angkuhnya mulai kumat.
Tiba-tiba Hendra membuka suara dan mencairkan suasana.
"Di... dari tadi kamu kok gak kenalin pacar kamu ke kita..?" Tanya Hendra cengengesan.
Uhuk..uhuk..uhuk..!!!
Ryan, Diandra dan Doni batuk bersamaan.
__ADS_1
"Maaf... Dia Doni rekan kerja saya. Kami hanya berteman". Jelasnya kepada Hendra, namun tampak seutas senyum tersungging di bibir Ryan. Suasana hati Ryan tiba-tiba berubah.
Doni merasa sedikit kecewa akan pernyataan Diandra.
"Yahh.. hanya sebatas teman, Tidak lebih. Mungkin selamanya akan seperti ini". Batin Doni.
"Huuhhh.... syukurlah.. Hatiku sedikit lega mendengarnya. Hi Doni, aku Hendra teman kuliahnya Diandra dulu, yang itu Pak Ryan pimpinan RW Hotel dan wanita cantik dihadapanku ini namanya Melda sekretarisnya Pak Ryan." ucap Hendra memperkenalkan Ryan dan Melda kepada Doni.
Doni sempat tak percaya berada satu meja dan makan siang dengan Ryan Wijaya pimpinan RW Hotel.
Melda dan Diandra hanya terkekeh mendengar penuturan Hendra.
Semuanya melanjutkan makan siang sesekali terdengar candaan diantara mereka. Kalau Ryan jangan ditanya lagi. Dia hanya fokus pada makanan dan Smartphonenya.
Semuanya telah menyelesaikan makan siangnya. Hendra pun menuju kasir disusul oleh Doni. Saat Doni hendak membayar, di tahan oleh Hendra.
"Gak usah... semua nya sudah dibayar".
"Gak usah repot-repot pak."
"Lain kali aja yah.. kali ini biar saya yang bayar".
" Baiklah pak, terima kasih banyak".
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Hi readers...
Terimakasih sudah mampir di Novel ini.
Jangan lupa terus ikuti update episodenya yah...
Jangan lupa like, comment dan share yah..
Bantu ❤ dan rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote nya jangan lupa yahh 🔥🔥🔥
❤Author
__ADS_1