
"Ke ruanganku sekarang.!"
Tok...tok...tok..!
Tanpa menunggu perintah Hendrapun langsung membuka pintu ruangan Ryan kemudian masuk ke dalam.
"Ada yang bisa saya bantu pak ?"
"Sejak kapan Papa tiba di kota ini dan kenapa kamu tidak memberi tahuku ?"
"Maaf bang, Saya hanya menuruti perkataan paman !" Ucap Hendra sedikit merasa bersalah.
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan !"
Pertanyaan Ryan penuh penekanan.
"Kemarin siang kami tiba disini, usai membawakan berkas yang beliau minta saya langsung pamit ingin kembali kesini dan ternyata dia ingin ikut. Dia melarangku untuk memberi tahumu."
"Papa tau darimana soal Diandra ? Apakah sekarang kamu sudah mulai gemar bergosip ?"
"Soal itu maafkan aku, paman sudah tau dari awal, aku hanya menjawab pertanyaan saja."
"Pergilah...!"
"Sebentar malam paman mengajak kita makan malam dengan rekan bisnisnya, katanya kamu harus ikut !"
"Iya...!"
Hendra meninggalkan ruangan Ryan dengan perasaan bersalah kepada sepupunya itu.
****
"Halo Ma..."
"Iya sayang... kenapa tumben-tumbennya telepon mama ? Apa semuanya baik-baik saja ?"
"Apa Mama juga ada di kota M bersama papa ?"
"Tidak sayang, mama minta maaf tidak bisa ikut. Ada proyek yang harus mama selesaikan disini."
"Ooh... padahal aku sangat merindukan Mama."
"Ayo ceritakan sama Mama, kamu ada masalah ?" Lidik Mama Rika curiga pada anaknya.
__ADS_1
"Gak apa-apa mama, Ryan baik-baik saja" titah Ryan.
"Apa ini soal papamu ?"
"Hhmm... Aku akan berusaha meyakinkan papa."
"Papamu itu memang sedikit keras. Sifatnya itu yang turun sama kamu. Tapi hatinya baik, teruslah berusaha."
"Aahh... Mama.. Aku kan mirip mama, baik juga seperti mama."
"Kamu ini, ada maunya baru baik sama mama. Dimana-mana orang mengatakan Ryan Wijaya itu copyan dari Tuan Raka Wijaya. Wajahnya mirip, apalagi sifatnya, sama-sama sedingin salju."
"Mama bisa aja."
"Bagaimana keadaan Diandra dan Varo sayang ?"
"Mereka baik Ma.."
"Sampaikan salam Mama buat mereka yah..!"
"Baik, Ma. Kalau begitu Ryan tutup dulu teleponnya yah.. Daah Mama..!?"
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan ibunya, Ryan mengusap wajahnya kasar.
***
Di tempat lain, Raka Wijaya berbincang dengan staff hotel menanyakan bagaimana keseharian mereka selama bekerja di hotel yang di pimpin oleh putranya. Kebanyakan dari mereka memuji cara Ryan memanage Hotel, namun tidak sedikit dari mereka yang mengeluhkan tingkah Ryan yang terkadang kurang ramah kepada pegawai.
"Hhmmm... anak ini memang cerdas, tapi angkuh dan dinginnya aku tidak heran. Benar-benar mirip Raka Wijaya" Gumam Raka dalam hati sambil tersenyum.
"Om Raka... Kenapa ada disini ?" Melda menghampiri Raka kemudian menyalami dan mencium tangannya.
"Heeii... Putri Om yang cantik. Sejak kemarin Om tiba disini, Bagaimana kabar kamu sayang? Apa kamu senang bekerja disini ?" Mengusap kepala Melda dengan pelan.
"Berarti Om datangnya sama Hendra ? Alhamdulillah aku baik Om dan senang skali bekerja disini."
"Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana kabar tante Rika om ?"
"Hmmm... kamu tau kan kalau tante kamu orangnya tidak bisa diam. Selama dia bekerja, maka dia akan baik-baik saja."
Keduanya tertawa berjalan beriringan menuju resto karena ingin berbincang-bincang lebih banyak. Setelah memilih tempat duduk, merekapun melanjutkan kembali perbincangan mereka.
__ADS_1
"Melda, bagaimana hubunganmu dengan Ryan..?"
"Seperti biasa, Kami baik-baik saja Om !"
"Apa dia merepotkanmu ?"
"Om Raka... Ryan sudah dewasa. Tentu saja dia tidak merepotkanku."
"Sebenarnya Om ingin sekali menjadikanmu menantu Om, bagaimanapun juga alhmarhum ayahmu menitipkanmu pada Om."
"Meskipun Melda tidak bisa menjadi menantu di rumah Om, bukankah Melda bisa menjadi putri Om ?"
Mata Melda seketika berkaca-kaca, sontak Raka memeluk gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
"Ternyata putri kecil Om sudah dewasa." Raka mengusap pucuk kepala Melda dengan lembut.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mohon bantu Author dengan meninggalkan jejak setelah membaca.
Like
Comment
Share
Vote
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Add Favorit ❤
__ADS_1