Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Demam


__ADS_3

Hujanpun turun dengan derasnya, alam seolah merasakan apa yang tengah di hadapi Ryan. Ia terus berdiri di halaman rumah Diandra, berharap Diandra akan iba melihatnya. Namun sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa Diandra akan membuka pintu.


"Mama..mama.. kenapa Om Ryan ujan-ujanan diluar ? Kasian Om Ryan mama.. Disuruh masuk aja." Bujuk Varo menarik ujung baju ibunya.


Diandra tidak menanggapi permintaan Varo. Sesekali diintipnya Ryan dari balik jendela.


"Kenapa kamu begitu bodoh Ryan..?" Gumamnya dalam hati.


Waktu kini menunjukkan pukul 8 malam. Hujan tak juga reda, namun Ryan masih belum beranjak dari halaman rumah Diandra.


Diandra pun mulai goyah, membuka pintu rumahnya dan menatapnke arah Ryan. Ryan pun segera berdiri dari duduknya, kemudian Diandra berlari ke arah Ryan membawakannya payung.


"Apa kamu sudah gila..? bagaimana jika kamu sakit, haahh ???" Bentaknya pada Ryan.


"Yah... aku memang sudah gila. Aku gila karena kamu Diandra". Balas membentak Diandra.


Diandra memayungi Ryan yang sudah basah kuyup kemudian menarik lengannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ryan melangkah mengikuti Diandra tak sedetikpun mengalihkan pandangannya.


"Keringkan badanmu !" kata Dian menyerahkan handuk dan pakaian miliknya yang ia perkirakan akan muat di badan Ryan.


"Kamar mandinya dimana " tanya Ryan.


"Ikut aku". Jawab Diandra kemudian berjalan menuju kamar mandi diikuti Ryan.


Beberapa saat kemudian, Ryan keluar dari kamar mandi mengenakan baju Diandra. Diandra seketika terbahak tak mampu menahan tawa melihat penampilan Ryan.


Ryan cuek, tak mempedulikan Diandra yang mengejeknya.


Ryan duduk di ruang tamu, tiba-tiba...


"Haaattcchii...! haaaaattcchhiii....!" Menggosok hidungnya.


"Ini akibat kebodohan kamu, siapa suruh hujan-hujanan.." Diandra mengomel.


"Kenapa kamu tega, membiarkanku kehujanan ?" Balas Ryan.


"Bukan urusan saya". Jawab Diandra.

__ADS_1


Kemudian Ryan mendekatkan dirinya ke Diandra. Diandra pun merubah posisi duduknya menjauhi Ryan namun sia-sia karena posisinya sudah berada di sudut kursi dan bersandar ke tembok.


"Dan kenapa kamu membuka pintu dan membawaku ke dalam,heemm... Sejak kapan kamu mempedulikanku ?"


Diandra hanya menatap mata Ryan yang semakin mendekat dengan wajahnya. Bibirnya kelu tak mampu berkata apa-apa.


"Apakah kamu mulai mencintaiku ?" Tanya Ryan.


Sontak Diandra mendorong tubuh Ryan kemudian beranjak dari duduknya menuju dapur.


Diandra ke dapur melihat Bu Mirah yang di temani Varo menyiapkan makanan. Rupanya makan malam telah siap. Diandra kembali ke ruang tengah mengajak Ryan untuk ikut makan malam.


"Makan malam sudah siap, Bu Mirah membuatkan Sup untuk menghangatkan badanmu" Ajaknya.


Ryan pun mengikuti ajakan Diandra dan berjalan mengikutinya menuju dapur. Merekapun makan malam bersama.


Usai makan malam, Diandra menuju kamar tidur untuk menidurkan Alvaro.


"Aku mau menidurkan Alvaro, bagaimana dengan kamu ??" Tanya Diandra bermaksud mengusir Ryan secara halus namun tak di peduli Ryan.


"Apakah kamu ingin menidurkanku juga ?? haahaa... Maaf, aku cuma becanda. Bolehkah aku menunggu disini ??" tanya Ryan.


Diandra menidurkan putranya, rasa kantuk pun mulai datang menghampirinya. Tak terasa ia pun mulai ikut terbuai dalam mimpi.


Ryan yang menunggunya di luar pun telah terlelap di sofa. Ibu Mirah yang melihat Ryan merasa kasihan kemudian ke kamar Diandra dan membangunkannya.


"Maaf bu... itu Tuan Ryan ketiduran di sofa" kata Bu Mirah.


"Ya ampun Bu... aduh, aku ketiduran" beranjak dari tempat tidur menuju ruang tengah dan melihat keadaan Ryan.


Sontak kaget melihat bulir-bulir keringat di dahi Ryan dan langsung mengecek dahinya.


"Astaga... demamnya tinggi sekali".


"Bu Mirah..." Panggilnya setengah berteriak dan Bu Mirah pun datang menghampirinya.


"Kenapa Bu..?" tanya Bu Mirah

__ADS_1


"Ibu tolong bantu saya memapah Pak Ryan ke Kamar Alvaro, badannya panas". Jawabnya panik.


Diandra dan Bu Mirah memapah Ryan yang masih belum sadar ke kamar Alvaro. Sebenarnya Alvaro punya kamar sendiri namun Ia masih suka tidur dengan Ibunya.


Diandra mengompres dahi Ryan dengan telaten, rasa bersalah mulai merasukinya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Ryan.. Aku jadi bersalah padamu. Andai saja tadi aku tidak membiarkanmu kehujanan, kamu tidak akan sakit".


Pukul 02.00


Mata Diandra sudah tidak dapat berkompromi. Setelah mengompres kembali dahi Ryan, Ia pun tertidur di sisi ranjang dalam posisi duduk dan berbantal lengan Ryan.


Pukul 06.00


Ryan terbangun, panasnya mulai turun. Ditatapnya wanita yang ada disisinya itu dengan seksama.


"Ternyata semalaman kamu menjagaku. Aku tau, kamu peduli padaku. Suatu saat aku pasti membuatmu jatuh cinta padaku". Gumamnya dalam hati.


Dirapikannya rambut Diandra kemudian diselipkan ke belakang telinganya. Diandra merespon, dan terbangun dari tidurnya.


Ryan kembali pura-pura tertidur.


Diandra langsung meraba dahi Ryan.


"Syukurlah panasnya sudah turun" kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan badannya.


_____________________________________________


Bersambung...


Terimakasih atas partisapasi para readers tercinta.


Ikuti terus kisahnya yahh


Jangan lupa klik, comment dan share 😘


❤ dan ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


❤Author


__ADS_2