
"Hhmm.... selamat malam semua !"
"Malam pa...!" kata Ryan.
"Malam Om..!" Kata Hendra dan Melda
"Selamat malam pak !" Jawab Diandra.
Mereka langsung berdiri dan menjawab sapaan Pak Raka dengan bersamaan. Hendra dan Melda menjawab dengan kata yang sama, sedangkan Ryan dan Diandra menjawab dengan jawaban masing-masing.
"Ayo.. semua duduk. Maaf papa terlambat, tadi ada urusan mendadak."
"Gak apa-apa kok Pa, kami juga baru sampai."
"Melda, kamu kesini diantar Ryan nak ?"
Belum sempat Melda menjawabnya, tapi Hendra lebih dulu menjawab pertanyaan Pak Raka.
"Tidak Om, Hendra yang mengantar Melda kesini."
"Loh Ryan... kenapa bukan kamu yang mengantar Melda ?"
Semuanya kaget dengan pertanyaan Pak Raka, termasuk Diandra.
"Ada apa ini ? Perasaanku jadi tidak enak." gumam Diandra dalam hati.
"Gak apa-apa Om... Yang penting Melda bisa ikut makan malam sama Om." Melda menimpali.
"Hmm.. oh iya pa.. Kenalkan ini Diandra, kekasih Ryan."
Diandra kaget mendengar penuturan Ryan yang blak-blakan. Raka menoleh ke arah Diandra dan memperhatikannya dengan sekasama.
"Halo Om,, perkenalkan nama saya Diandra." Diandra berdiri mengulurkan tangannya ke arah Raka namun tak ada sambutan oleh Raka. Diandra pun menarik tangannya dan kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Raut kecewa nampak di wajah Diandra. Ryan tersenyum mengangguk meraih tangan Diandra dan menggenggamnya. Diandra membalas senyum Ryan dengan terpaksa.
"Apa mungkin Pak Raka tidak bisa menerima statusku ?" Pertanyaan itu muncul dalam benak Diandra.
"Oh iya Om,, Diandra ini teman kampus Hendra dulu. Dia adalah mahasiswi terbaik di angkatan kami. Sekarang dia bekkerja di Bank X sebagai manager penjualan." Imbuh Hendra mencairkan suasana. Raka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Papa...sebentar lagi aku sama Diandra akan bertunangan. Saya harap Papa mau memberi kami restu." ucap Ryan.
"Minta restu tapi sudah memutuskan sendiri ?"
"Ryan mencintai Diandra pa... Sudah waktunya Ryan membangun rumah tangga Ryan sendiri."
"Apa kamu sudah memikirkannya ? Bagaimana jika nanti kamu papa pindahkan ke kota lain ? Bukankah papa sudah bilang ingin menugaskanmu mengelola perusahaan papa di kota S. Mau sampai kapan kamu mengelola perusahaan kecil ? Kamu tidak akan bisa berkembang jika tidak mencoba sesuatu hal yang lebih besar."
"Ryan mengerti, Pa. Tunggu sampai Ryan mengembangkan RW Hotel. Jika Ryan sudah merasa pantas, Ryan akan menerima tawaran Papa. Bukankah segala sesuatunya harus dimulai dari hal kecil ?" Ryan menimpali.
"Bagaimana dengan pekerjaan Dian ?" Tanya Raka.
"Kami belum berpikir kesana, Pa. Diandra akan tetap bekerja selama Ryan masih mengelola RW Hotel. Jika nanti kami sudah menikah dan Ryan harus pindah, maka Ryan akan membawa serta Diandra." Jelas Ryan.
Raka hanya terdiam mendengar penuturan anak semata wayangnya.
"Apa Ryan benar-benar tulus pada wanita ini ? Tidak biasanya dia seserius ini dengan seorang wanita." Gumam Raka dalam hati.
"Om Raka... waktu itu Om bilang sama Melda kalau ingin menjadikan Melda menantu. Iya kan Om ? Apa itu masih berlaku ?" tanya Melda dengan senyum ceria di wajahnya.
Deg..!
Jantung Diandra kembali berdegup tidak karuan. Sontak Ryan menoleh kepada Melda dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Maksud kamu apa Melda ??" Tanya Ryan dalam hati.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Terima kasih sudah mengikuti Ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Like
Comment
Share
Vite
Add Favorite
__ADS_1
Rate 5⭐⭐⭐⭐⭐