Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Minta Maaf.


__ADS_3

Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diandra yang duduk di sampingnya nampak ketakutan dengan tingkah Ryan.


"Apakah kamu lebih senang bersama Hendra dibanding bersamaku ?" Tanya Ryan datar.


"Kalau kamu mengemudi seperti ini, siapapun tidak akan sudi duduk disamping kamu". Jawab Diandra kesal.


"Jawab aku dulu". Bentak Ryan.


"Harus aku jawab apa..? Kamu ini aneh" Diandra mengoceh.


Ryan menginjak pedal rem dengan tiba-tiba membuat tubuh Diandra sedikit terpental kedepan.


"Kamu sudah gila..? Kalau mau mati jangan ajak-ajak aku, aku masih punya anak yang harus aku jaga". Ucap Diandra kesal.


"Maafkan aku" Ryan merasa bersalah.


Ryan tiba-tiba mengingat sosok Alvaro dan mengingat janji yang telah mereka sepakati bersama. Akan tetapi dia tidak ingin memberi tahu Diandra soal kesepakatannya dengan Varo, tentu saja Diandra tidak akan setuju jika ia mengetahuinya.


Ia akan mecari tahu sendiri kapan perlombaan yang dimaksud Varo itu diadakan.


"Mau sampai kapan kita disini ? Tolong bawa saja aku bengkel". Kata Diandra.


"Mobil kamu belum selesai" Sahut Ryan


"Bengkel mana ? Biar aku sendiri yang menjemputnya". Diandra bertanya dan Ryan tidak menjawabnya.


Ryan melajukan mobilnya tanpa mempedulikan perkataan Diandra.


"Kenapa mendadak jadi jahat lagi ?? Dasar pria aneh" Umpat Diandra dalam hati.


Merekapun tiba di kantor Diandra. Diandra turun dari mobil Ryan langsung melangkahkan kaki ke dalam gedung Bank XXX tanpa menoleh ke Ryan. Ryan kemudian melajukan mobilnya.


Ryan berkendara tanpa tujuan, saat melewati gedung sekolah Alvaro, Ia pun berinisiatif mengunjungi anak itu.


"Diandra kan masih di kantor, tidak ada salahnya aku menemui Varo". Gumamnya dalam hati kemudian berbelok ke arah jalan menuju rumah Diandra.


Entah kenapa dia merasa akan lebih tenang saat bertemu dengan anak itu. Bagi Ryan, Alvaro anak yang baik, lucu, dan menggemaskan. Mungkin saja stressnya bisa hilang setelah bermain bersamanya.


Kediaman Diandra.


"Hi jagoan..!" Sapa Ryan mendapati Varo yang tengah bermain di halamannya ditemani Bu Mirah.


"Om Ryan..!!" berlari ke arah Ryan dan memeluknya, Ryan pun berjongkok menyambut pelukan dari Alvaro.


"Kangen gak sama Om..?" tanya Ryan ke PD an.

__ADS_1


"Idih... baru juga tadi pagi ketemunya." Ledek Varo.


" Ooh.. iya yah.. Om lupa" mengacak rambut Varo.


"Main yuk Om..!" ajak Varo


"Okeehhh..." kemudian membuka jasnya meletakkannya di kursi teras kemudian melipat lengan bajunya.


Mereka akhirnya lelah bermain, keduanya menuju kursi yang ada diteras.


Ibu Mirah merasa terharu melihat keduanya begitu dekat dan akrab.


"Baru kali ini Den Varo terlihat begitu bahagia". Katanya dalam hati.


Bu Mirah membawakan minuman dingin untuk melepas dahaga keduanya. Ryan dan Varo mengucapkan terima kasih dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Bu Mirah.


"Varo.. jadi nanti lombanya kapan di mulai ??" Tanya Ryan.


"Ibu Guru bilang lombanya minggu depan" jawab Varo.


"Varo mau gak bantu Om..?" bertanya ke Varo.


"Bantu apa Om..?"


"Siap Om...!" Jawab Varo.


Keduanya tertawa, sesekali Ryan mengacak rambut Varo kemudian memeluknya.


Pukul 16.30


Sebuah taxi menepi persis didepan rumah Diandra.


Ryan menatap ke arah taxi itu kaget melihat Diandra yang turun dari mobil.


"Mati aku" Mengumpat pada dirinya sendiri.


"Pak Ryan... kenapa ada disini ?" Diandra Keheranan


"Tadi cuma lewat, aku sudah mau pulang". Pungkas Ryan.


Varo yang melihat kedatangan ibunya langsung berlari dan memeluk ibunya.


"Tumben Mama cepat pulang". Tanya varo ke Ibunya yang baru saja pulang dari kantor.


"Iya sayang, Mama lagi gak sibuk. Lagian tadi ada orang aneh ke kantor Mama jadi Mama pengen cepat-cepat pulang ketemu Varo biar anehnya tidak tertular" Sindir Diandra.

__ADS_1


"Memangnya bisa menular yah Ma..?" bertanya polos.


"Sudah yuk nak, jangan dipikirin sekarang Varo mandi, bau acemm!" Sambil menutup hidungnya menggoda Varo.


Alvaro kedalam ditemani Bu Mirah kemudian membersihkan tubuhnya.


"Diandra... " Ryan berjalan menghampiri Diandra.


Diandra mematung mendengarnya kemudian berbalik menghadap Ryan.


"Soal yang tadi aku benar-benar minta maaf".


"Yang mana?" Tanya Dian sinis.


"Semuanya.. yang tadi". jawab Ryan.


"Bukannya kamu memang seperti itu..? Aku gak heran kok". kata Dian.


Ryan lebih mendekatkan dirinya ke Diandra, kemudian tangan kirinya menggenggam tangan kanan Diandra.


"Aku minta maaf, tak akan kuulangi lagi. Aku belum bisa mengontrol emosiku bila melihat Hendra mendekatimu". Ucap Ryan sambil menunduk.


"Tolong, jangan memperburuk keadaan. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun dan tak ingin menjadi penyebab permusuhan orang lain. Mengenai perasaanmu, tolong pikirkan baik-baik. Untuk saat ini


aku belum siap menjalin hubungan". kata Diandra.


"Aku akan menunggumu Diandra.. sampai kamu benar-benar siap menerimaku". tutur Ryan.


"Maaf, aku tidak bisa.." Kemudian berlalu dari hadapan Ryan.


Ryan yang mendengar kata-kata Diandra merasa sesak dan terpukul, rasa sakit yang dia rasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


Bersambung....


Bantu Author dong...


Caranya tetap ikuti ceritanya


Like, comment dan share


Klik ❤ dan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Terimakasih 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2