
Pak Raka sudah mengungkapkan kejadian dua puluh delapan tahun silam kepada Ryan. Kini Ryan mengerti akan sikap kedua orang tuanya, kenapa selama ini Pak Raka seolah cuek kepadanya. Hal itu di karenakan ia berusaha melawan kesedihannya karena kehilangan salah satu putranya. Begitupun dengan Mama Rika, mengapa selama ini ia sangat protective kepada Ryan. Bahkan di usia Ryan yang sudah menginjak kepala tiga masih saja diperlakukan layaknya anak kecil.
"Jadi setelah kecelakaan itu, tidak ada kabar lagi soal kak Revan ?" Tanya Ryan.
"Papa dan Mama mencarinya kemana-mana, bahkan kami membuat iklan di berbagai media untuk mencari kakakmu. Kami juga sudah melapor ke polisi bahkan ke detektif swasta, tapi hasilnya tetap saja nihil." Jelas Pak Raka.
"Sayang... apa kau baik-baik saja ?" Tanya Ryan pada Diandra yang sedari tadi mematung tak bergeming hanya menatap kosong ke satu arah.
"Bisa antarkan aku pulang ?" Pinta Diandra.
"Baiklah... aku akan mengantarmu."
"Ma..pa... Diandra pamit dulu."
"Kamu gak apa-apa kan sayang ?" Tanya Mama Rika dengan raut wajah yang khawatir.
Diandra tak menjawab pertanyaan Mama Rika dan segera berdiri menuju halaman parkir.
"Ryan, kamu hati-hati yah nak bawa Diandra. Pastikan dia baik-baik saja." Kata Mama Rika dan Ryan hanya menganggukinya.
Ryan pun segera mengantarkan Diandra pulang. Selama di perjalanan, Tak ada percakapan diantara mereka. Keduanya diam membisu.
Tiba-tiba Diandra membuka suara.
"Ryan... bisakah kau mengajakku ke Dermaga ? Aku ingin menenangkan diri disana." pinta Diandra.
"Baiklah.. kita kesana sekarang."
__ADS_1
Ryan melajukan mobilnya menuju pantai yang jaraknya dekat dengan RW Hotel. Setibanya disana, ia kemudian memarkirkan mobilnya di parkiran kemudian menemani Diandra berjalan menuju dermaga. Keduanya duduk di tepi dermaga menghadap ke laut lepas.
"Sayang, maafkan aku..!" Ucap Ryan lirih.
"Buat apa ?" Menjawab perkataan Ryan tanpa menoleh, hanya menatap lurus ke depan.
"Ya untuk semuanya.. Aku tidak menyangka hal ini akan terjada pada kita. Aku harap kebenaran ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita."
"Tapi sepertinya itu sudah terjadi. Sebaiknya kita harus memikirkannya kembali."
"Apa kamu lupa akan janji kamu padaku ?"
"Janji..?"
Diandra menghela nafas panjang. Pikirannya sangat kacau.
Sontak Ryan membalikkan tubuhnya menghadap ke Diandra dan memeluk tubuh mungil kekasihnya.
"Jangan menangis lagi, aku mohon." Ryan mengeka air mata Diandra dengan penuh perhatian.
"Aku akan menunggumu sampai kamu mengambil keputusan. Aku tidak akan apa-apa. Tapi aku minta satu hal, jangan pernah menghindariku." Pinta Ryan.
"Terima kasih... Tapi bagaimana dengan Mama sama Papa kamu ?" Tanya Diandra.
"Aku yang akan memberikan pengertian kepada mereka. Kamu tenang saja." Kata Ryan meyakinkan Diandra.
"Terima kasih... aku bingung harus memanggilmu bagaimana."
__ADS_1
"Maksudnya ?" Ryan tidak mengerti ucapan Diandra.
"Yaahh... kamu tau sendiri. Aku ini kakak iparmu." Diandra tampak bersedih.
"Hmmm.... jadi ini alasan Diandra mempertimbangkan hubungan kami." Batin Ryan.
"Terserah kamu saja. Yang jelas, siapapun kamu dan bagaimanapun kamu, aku akan tetap mencintaimu. Dan aku yakin itu tidak salah. Kak Revan akan sangat setuju jika yang menjaga anak dan istrinya kelak adalah adiknya sendiri." Kata Ryan dengan penuh percaya diri.
"Kita pulang sekarang yah... udaranya sangat dingin, nanti kamu sakit. Aku ingin bertemu Varo. Boleh kan ?" Tanya Ryan dan Diandra pun membolehkannya.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung....
Jangan lupa dukungannya buat author. Like dan Comment itu gratis.
Mohon bantu di Vote.
__ADS_1
Terimakasih**