Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Salah faham.


__ADS_3

"Om Raka... waktu itu Om bilang sama Melda kalau ingin menjadikan Melda menantu. Iya kan Om ? Apa itu masih berlaku ?" tanya Melda dengan senyum ceria di wajahnya.


Deg..!


Jantung Diandra kembali berdegup tidak karuan. Sontak Ryan menoleh kepada Melda dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Maksud kamu apa Melda ??" Tanya Ryan dalam hati.


FLASH BACK ON.


Melda dan Hendra lebih dulu tiba di restoran.


"Sayang, malam ini aku akan bicara sama Om Raka tentang hubungan kita. Apa kamu tidak keberatan ?" Tanya Hendra.


"Iya, aku setuju. Aku juga tidak enak jika Om Raka terus-terusan menjodohkanku dengan Ryan. Ini semua karena permintaan Almarhum Papaku sebelum dia meninggal. Beliau menitipkanku pada Om Raka."


"Iya sayang aku ngerti, aku yang akan memenuhi kewajiban Om Raka pada alamrhum papa kamu. Mulai sekarang aku yang akan menjaga kamu, selamanya." kata Hendra penuh semangat.


"Papa belum datang ?" Ryan dan Diandra tiba-tiba muncul.


FLASH BACK OFF.


Melda mendekatkan kursinya dengan kursi Pak Raka kemudian menggenggam tangannya.


"Om Raka, Melda sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Om dan tante Rika sudah Melda anggap seperti orang tua sendiri. Melalui kesempatan ini Melda meminta restu Om. Tolong beri restu buat Melda untuk menikah dengan putra Om." Kata Melda hati-hati.


"Apa-apaan kamu Mel... kamu tau sendiri kan, aku menganggapmu hanya sebagai adik, tidak lebih !" Ryan emosi mendengar perkataan Melda.


Diandra menarik tangan Ryan agar kembali duduk di kursinya.


"Kamu yang tenang.." bisik Diandra pada Ryan.


"Bagaimana bisa tenang..? Dia sudah mengacaukan usahaku." Gerutu Ryan.


Hendra dan Melda saling bertatapan bingung.


"Om Raka... Maafkan Hendra. Bukankah Om Raka sudah menganggap Hendra seperti putra Om sendiri ?"

__ADS_1


Pak Raka mengangguk mendengar pertanyaan Hendra, perlahan ia mulai mengerti maksud dari perkataan Melda.


"Om...Melda dan Hendra saling mencintai. Apakah Om Raka mau merestui hubungan kami ?" Pinta Hendra.


Perasaan Diandra seketika lega, begitupun dengan Ryan. Keduanya telah salah faham akan pernyataan Melda pada Pak Raka.


"Cihh... dasar kalian ini. Hampir saja kubakar restoran ini gara-gara kalian". Gerutu Ryan.


"Ryan.. jaga bicaramu. Umur sudah kepala tiga tapi kelakuan seperti masih belasan."


Melda dan Hendra terkekeh mendengar perkataan Pak Raka.


"Lagian abang juga sih.. main marah aja." Hendra menimpali.


Pak Raka akhirnya membuka suara.


"Anak-anak papa sudah dewasa, Sebenarnya papa mengundang kalian hanya ingin memperjelas semuanya. Bukan Raka Wijaya namanya jika tidak mengetahui hal sebesar ini. Asalkan kalian bahagia, Papa juga bahagia."


"Terima kasih Om" Ucap Hendra.


"Dan kamu Ryan, belajarlah mengendalikan emosimu."


"Ryan... Papa sudah tau semua dari mamamu."


Perkataan Pak Raka sontak membuat Ryan mengangkat wajahnya karena kaget.


"Papa menyerahkan segala keputusan padamu. Asal kamu bahagia, papa akan mendukungmu. Awalnya Papa tidak percaya padamu, papa pikir kamu hanya main-main. Papa tidak setuju jika kamu mendekati nak Dian hanya untuk main-main. Papa hanya ingin melihat sampai dimana keseriusanmu." Pak Raka tersenyum.


"Jadi papa merestui kami ?" Tanya Ryan antusias dan dijawab dengan anggukan oleh Pak Raka.


"Dan kamu Dian...?"


"Eh.. Iya pak..!" Diandra kaget dan menatap Pak Raka dengan ragu.


"Mulai sekarang, panggil saya PAPA seperti kamu memanggil istri saya dengan sebutan Mama."


Diandra tersenyum bahagia. Ia merasa seolah kini kembali mempunyai orang tua yang lengkap.

__ADS_1


"Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan ini" Gumamnya dalam hati.


"Kebahagiaan papa kini sudah lengkap. Apa yang papa harapkan selama ini akan segera terwujud." Kata Papa Raka.


"Terima kasih pa... Sudah percaya sama Ryan. Maafkan Ryan, Pa.. Selama ini Ryan merasa papa tidak menyayangi Ryan."


"Hmm... dasar kamu ini. Mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Semenjak kepergian kakakmu, Papa memang menjaga jarak denganmu. Papa takut jika kamu juga pergi meninggalkan papa, maka Papa akan merasakan rasa sakit itu lagi." Air mata menggenangi pelupuk mata Papa Raka namun berusaha ia bendung.


"Papa... Ryan sayang sama Papa..!" Keduanya berpelukan.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa


LIKE


COMMENT


VOTE


SHARE


RATE 5⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


ADD FAVORITE


__ADS_2