
Diandra meninggalkan rumah Ryan dengan tangisan.
"Ya Tuhan... kenapa aku bisa seperti ini ?? Kenapa melihatnya hancur juga membuatku terluka ? Aku tidak boleh mengkhianati Mario" Katanya sambil menangis.
"Aarrggh...." Ia semakin histeris.
Ditempat lain, Ryan hanya duduk menatapi hidangan yang sama sekali tidak tersentuh.
*ddrreettt...dreett...drreett...*
Teleponnya bergetar, di intipnya sejenak layar ponsel kemudian menjawab panggilannya.
"Halo Ma..." Sapa Ryan.
"Ryan... kenapa tidak pernah menghubungi Mama nak..?" tanya wanita paruh baya diseberang telepon.
"Maafkan Ryan Ma... belakangan ini banyak urusan yang harus Ryan selesaikan". Jawabnya memberi alasan.
"Kamu kenapa nak ? Apa ada masalah?" Ibu Rika penasaran mendengar suara Ryan yang sedikit serak seperti habis menangis.
"Iya Ma... tapi tidak apa-apa kok". Ryan berusaha tegar.
"Apa ini menyangkut wanita ?" Lidik Ibu Rika.
"Haahh... Mama... sudahlah. Jangan dibahas". Jawab Ryan.
"Mama tau nak... selama Mama masih hidup, kamu tidak akan pernah lolos dari pengawasan Mama". Katanya.
__ADS_1
"Apa Mama sudah tau ?" Ryan penasaran.
"Iya dong... bahkan semuanya. Siapa dia, bagaimana dia, dimana dia bekerja semuanya Mama tau" Jelasnya.
Ryan sudah menduganya. Dia tau persis bagaimana Ibunya mengawasinya. Meskipun dia sedikit khawatir jika Ibunya tidak akan menyukai pilihannya.
"Soal statusnya mama juga tau?". Bertanya lagi.
"S E M U A....." Jawab Ibu Rika.
"Mama gak marah ?" tanya Ryan.
"Tidak sayang, Mama percaya sama pilihan kamu. Besok Mama tiba di Kota M.. Jika kamu belum bisa mendapatkan calon mantu Mama, terpaksa Mama sendiri yang akan turun tangan" Ancam Rika kepada putranya.
"Mama.... sudahlah jangan dipaksakan. Mungkin belum jodoh". Pungkasnya.
Ryan menutup panggilan dari Ibunya yang amat dia sayangi.
"Andai saja kamu menerimaku Diandra, aku pasti jadi lelaki yang paling bahagia di dunia" Batinnya sedih.
******
Diandra mengurung diri di kamarnya, sedangkan Varo sudah tertidur di kamarnya sendiri di temani Ibu Mirah.
"Bu Dian... Ibu belum makan. Ada apa nak..? Coba cerita pada Ibu, siapa tau Ibu bisa membantu." Ibu Mirah mendekati Dian dan berusaha menghiburnya.
Suara tangis Diandra akhirnya pecah, ia berlari ke arah Ibu Mirah dan memeluknya. Ibu Mirah mengusap-usap punggungnya untuk memberinya ketenangan. Ia pun berhenti menangis, Ibu Mirah mengajaknya duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Kini Diandra sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dia pun tidak memiliki saudara. Kerabatnya pun jauh di Kota C. Hanya Ibu Mirah kini yang menjadi orang terdekat baginya.
"Ayo cerita.. ibu Dian kenapa ? Apa ini ada hububgannya dengan Pak Ryan..?" Diandra hanya mengangguk.
"Kalau bisa Ibu kasi saran, sebaiknya nak Dian membuka hati untuk Pak Ryan. Kelihatannya Pak Ryan itu orangnya tulus. Mau sampai kapan nak Dian seperti ini ? Kalau Ibu sudah gak ada, siapa yang akan menjaga Nak Dian dan Varo?". Kata Bu Mirah berusaha menasehati Dian yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Tapi saya gak mau mengkhianati Mario Bu...". Katanya.
"Tidak nak, kamu tidak mengkhianati nak Mario, justru nak Mario tidak akan tenang jika Nak Dian dan Varo tidak ada yang menjaga. Nak Mario pasti tersenyum melihat Nak Dian bahagia". Jelasnya lagi.
"Tapi Bu... apa kata orang nantinya, aku merasa gak pantas buat Ryan". Tuturnya.
"Jangan perdulikan perkataan orang lain. Tanyakan hatimu nak. Jika kamu merasa nyaman maka lakukan." sembari menggenggam tangan Diandra.
"Sekarang Ibu Dian makan dulu, nanti sakit" Ajak Bu Mirah dan diikuti Dian dari belakang. Keduanya menuju ruang makan.
Diandra masih terus memikirkan perkataan Ibu Mirah, Namun belum bisa mengikutinya. Dia masih ingin menjaga cintanya untuk Mario. Ia pun tidak ingin jika kebersamaannya dengan Ryan menimbulkan masalah bagi Ryan.
____________________________________
Bersambung...
Jangan Lupa Like Comment & Share yah readers..
Mohon kritik dan sarannya
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
❤ Author