
Merekapun tiba di cafe.
Diluar dugaan, ternyata tempat ini sudah di reservasi oleh Ryan tadi pagi. Satu ruangan VIP sudah di booking. Diandra sama sekali tidak mempedulikannya.
"Diandra... "
"Iya kenapa,.?" Heran melihat ekspresi Ryan.
"Kalau PK nya sudah kutanda tangan, terus aku dan pegawaiku sudah bisa menggunakan layanan echannel kalian dengan lancar, apa kamu masih mau menemuiku ?" Tanya Ryan sedikit ragu.
Sebenarnya Diandra sedikit terganggu dengan pertanyaan Ryan, akan tetapi dia berusaha untuk tetap bersikap tenang dihadapan pria itu. Ia pun membuka suara.
"Yaaa tergantung sih..". Jawab Diandra asal.
"Tergantung apanya ??". Ryan Memperbaiki posisi duduknya.
"Siapa tau saja besok-besok kami punya produk baru dan cocok di pasarkan di perusahaan kamu, yaahh tentu saja aku akan menemuimu lagi". jawab Diandra kemudian meminum Cappucino dingin yang ada dihadapannya.
Ryan memajukan sedikit tubuhnya kemudian meraih tangan Diandra yang menganggur diatas meja.
"Tolong ijinkan aku dekat denganmu". Ryan Menatap dalam penuh harap kepada Diandra.
Sesekali Diandra menarik tangannya namun di tahan oleh Ryan. Diandra malu karena kini Ia pun merasakan detak jantungnya semakin kencang dan tangannya mulai terasa dingin.
"Bu...bu..kannya kita sudah berteman Ryan ? " Jawabnya terbata.
"Aku tau, tapi aku ingin lebih dekat denganmu, lebih dari kedekatanmu dengan Hendra dan Doni atau pria manapun". Pungkas Ryan.
"Maksud kamu..?" Tak melanjutkan pertanyaannya. Diandra hanya menunduk.
Ryan : "Mungkin sekarang kamu mengerti.. dan aku harap kamu bisa memikirkannya".
Diandra mengangkat pandangannya menatap ke arah Ryan.
"Ryan... Jika kamu ingin bermain-main, maaf kamu salah orang. Aku tidak punya cukup waktu untuk meladeni permainanmu". Ucapnya tegas.
__ADS_1
"Aku tidak pernah main-main, aku serius sama ucapanku Diandra". Nada bicaranya sedikit meninggi dan membuat Diandra kaget.
"Kamu tau kan siapa aku, bagaimana masa laluku dan statusku apa ?" Diandra pun meninggikan suaranya.
"Aku tau.. tapi itu tidak masalah bagiku". Kata Ryan.
"Aku ini seorang Janda beranak satu Ryan. Entah apa yang akan orang-orang katakan jika aku menjalin hubungan denganmu". Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku gak peduli, Diandra. Kita yang akan menjalaninya, bukan mereka". berpindah tempat ke samping Diandra dan kembali menggenggam tangannya.
"Tidak... lupakan semua ini. Ini tidak boleh terjadi." Diandra mulai emosi.
"Kumohon jangan menolakku sekarang, pikirkanlah dulu. Aku tak akan memaksamu, hemm ??" Berbicara pelan untuk meredam emosi Diandra.
"Makanannya sudah datang, aku mohon jangan marah. Setelah makan kita ke kantorku mengambil berkas kemudian aku akan mengantarmu kembali ke kantormu" kata Ryan menawarkan makanan ke Diandra.
Diandra berusaha menenangkan pikirannya, namun Ia sama sekali tidak berselera makan. Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Mereka makan dengan khidmat sampai akhirnya mereka menyelesaikan makan siang mereka.
Ryan pun akhirnya mengemudikan mobilnya menuju hotel. Diandra yang duduk disampingnya tak pernah mengeluarkan suara sedikitpun.
*****
Dengan elegan, Ryan melangkah masuk ke dalam Hotel diikuti Diandra dari belakang. Sapaan demi sapaan terdengar dari para pegawai yang melihatnya.
Melda dan Hendra yang melihat Ryan datang dengan Diandra pun terkaget. Keduanya pun langsung menyusul ikut melangkahkan kaki ke Ruangan Ryan.
"Di... kamu ada disini ?tanya Hendra.
"Aku yang membawanya kesini" Seolah menjelaskan pada Hendra bahwa wanita itu adalah miliknya.
"Iya.. aku mau ambil PK yang sudah di tandatangan Pak Ryan". Jawab Diandra.
"Kalian datangnya barengan ? Tanya Melda sedikit kecewa dan dibalas dengan anggukan oleh Diandra.
Ryan mengambil map berlogo Bank XXX yang ada di mejanya.
__ADS_1
"Diandra... bisa tunjukkan dimana aku harus tanda tangan ?". Ucap Ryan datar.
Diandra mendekati Ryan dan menunjukkan di kolom mana saja yang harus ditandatanganinya.
Hendra memicingkan matanya, seolah mengerti apa yang tengah terjadi.
Berkas pun telah beres, Diandra menyusun kembali lembar demi lembar sesuai urutannya. Kemudian pamit pada Hendra.
"Sudah selesai, Hen aku pamit dulu yah..!" kata Dian.
"Kamu sama siapa ? aku anter yah..." Hendra menawaekan bantuan.
"Gak usah, Aku bisa naik Taxi online" kata Dian.
"Gak boleh... kamu saya antar". Hendra ngotot.
"Tidak perlu. Aku yang bawa dia kesini aku juga yang harus mengantar dia pulang". Ryan tiba-tiba menyela kemudian berlalu menggenggam tangan Diandra.
Diandra hanya menunduk melihat tangannya yang di genggam oleh Ryan, mau tidak mau ia pun mengikuti langkah Ryan.
Melda nampak sedih, kedua pria yang dekat dengannya kini terang-terangan mengincar wanita yang sama.
Tiba-tiba....
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungan para readers.
Ikuti terus kelanjutan kisahnya
Like, Comment dan share
❤ dan ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
thank you 😘
❤Author