Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Ucapan Selamat Malam.


__ADS_3

" Jarang sekali kamu memanggilku sayang. Sepertinya aku harus sering menakut-nakutimu agar kamu mau memanggilku SAYANG." Gumam Ryan dalam hati.


"Mama ayo dong... gak apa-apa..! Mama gak akan terjatuh." pinta Varo.


"Sayang kita naik yuk, masa kamu kalah sama Varo ?!" ledek Ryan.


"Tapi aku takut sayang...please... aku tungguin kalian aja yah..!" Kata Diandra memelas.


"Pokonya Mama harus ikut kita keatas." Varo menunjuk ke arah Bianglala.


"Jangan khawatir... ada aku !" Kata Ryan berusaha meyakinkan Diandra.


"Ya sudah... tapi kamu duduk di samping aku yah..!" Pinta Diandra pada Ryan.


"Iya, princess...?!" Kemudian meraih tangan Diandra.


Ketiganya menuju pintu masuk wahana Bianglala. Seperti permintaan Diandra tadi, Ryan duduk disampingnya sedangkan Alvaro duduk berhadapan dengan Ryan. Saat wahana mulai naik, jantung Diandra seakan berpacu dengan waktu. Peluhnya mulai bercucuran, tangannya mulai gemetar dan Ia pun memejamkan matanya karena takut.


"Coba buka matamu." pinta Ryan.


"Gak mau..!" Jawabnya


"Pemandangannya bagus loh sayang, kan ada aku disini." Ucap Ryan.


"Pokonya aku gak mau Yan..." Kata Diandra dengan suara bergetar menahan rasa takut.


Sontak Ryan mendekat tubuh Diandra dari samping, Diandra pun membelalakkan matanya karena kaget.


"Bagus kan...!?" kata Ryan.


Diandra kembali menutup matanya, kemudian membukanya perlahan.


Ia menatap sekelilingnya takjub. Baru kali ini Ia melihat pemandangan kota M dari atas. Ia memang sangat takut pada ketinggian. Saat perjalanan dinas keluar daerahpun Ia akan memilih jalur darat ketimbang udara. Kecuali jika harus menyebrang pulau yang mengharuskannya menaiki pesawat terbang, Ia tidak akan mau duduk di kursi penumpang yang berdekatan dengan jendela.


"Mama yang tenang yah, jangan takut, kan ada Om Ryan sama Varo disini" Kata Varo menenangkan ibunya.


Saat posisi mereka ada di puncak, tiba-tiba putaran berhenti. Sontak Diandra terkaget saat menyadarinya.


"Ryan.....huuhuuhuu" Tangis Diandra pecah kemudian memeluk tubuh Ryan dengan erat.

__ADS_1


"Hei... gak apa-apa... Berhentinya cuma bentar kok. ! jelas Ryan.


"Kenapa putarannya berhenti ? Apa listriknya mati ? Bagaimana kita bisa turun kalau mesinnya mati ? Apakah kita akan mati disini ?" Kata Diandra yang semakin panik.


"Ya ampun sayang... bisa diam gak sih..! Kita gak akan kenapa-napa disini." Ryan mulai frustasi akan tingkah Diandra yang tidak bisa tenang.


Alvaro terkekeh melihat tingkah Ryan dan Diandra yang seperti anak kecil.


"Andai saja Varo tidak ada disini sudah kumakan kamu mentah-mentah !" Bisik Ryan di telinga Diandra dan berhasil membuat Diandra terkaget dan membelalakkan matanya.


"Mama... kayak anak kecil aja !" Ledek Varo.


"Awas saja kalian berdua." Diandra mendumel dalam hati merasa diremehkan.


Tak lama kemudian, mereka pun turun. Diandra melangkahkan kakinya menuju bangku kosong. Ia terlihat pucat dan sangat lemas.


"Kamu baik-baik saja sayang..?" Tanya Ryan.


"Sudah, jangan perdulikan aku." Diandra tampak kesal.


" Jangan marah-marah, mau aku cium ?" Ryan mendekatkan wajahnya ke arah Diandra namun Diandra dengan sigap mendorong wajah Ryan dengan tangannya.


Ryan hanya tertawa melihat tingkah Diandra, Ia sangat suka menggoda Diandra apalagi jika wajah Diandra tiba-tiba memerah karena malu.


Hari mulai petang, merekapun meninggalkan taman bermain. Alvaro yang duduk di kursi belakang pun tertidur karena kelelahan, tak lama kemudian Diandra pun menyusul Alvaro menuju alam mimpinya.


"Sayang... sudah sampai." Ryan membangunkan Diandra, mengusap pipinya pelan.


"Ehh... sudah sampai. Biar aku bangunkan Varo dulu." Diandra turun dari mobil berniat membangunkan Varo.


"Jangan di bangunkan, kasihan dia pasti kelelahan." Kata Ryan kemudian menggendong tubuh kecil Varo menuju kamar Diandra.


Diandra menatap lekat wajah Ryan yang tengah membaringkan Varo di tempat tidur dan memakaikannya selimut.


"Kenapa ? mau kugendong juga ?" Mendekat ke arah Diandra bersiap ingin menggendongnya.


"Isshh... Ryan...! Gak mau !" tolak Diandra.


"Iddiihh... siapa juga yang mau gemdongin kamu ? Pasti berat !" kata Ryan mengejek.

__ADS_1


"Iihhh... awas yah !" Diandra kesal.


" Ya udah, aku langsung pamit ya sayang..!" Kata Ryan kemudian mengecup kening Diandra.


Saat hendak melangkah pergi, Diandra menahan tangan Ryan kemudian Ryan pun berbalik.


"Apa begini caramu mengucapkan selamat malam padaku ?" Goda Diandra.


Ryan semakin mendekat menarik pinggang Diandra dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk Diandra.


Ia pun mendaratkan bibirnya ke bibir Diandra dengan lembut, keduanya terhanyut dengan sentuhan masing-masing. Ciuman panas berlangsung cukup lama hingga keduanya ngos-ngosan karena kekurangan oksigen. Diandra tersenyum malu, pipinya kembali merona.


"Selamat malam sayang..!" Ryan kembali mencium kening Diandra dengan mesra, Diandra hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan Ryan.


Ryan pun melangkah, namun lagi-lagi Diandra menahan tangannya.


"Masih belum cukup ?" Tanya Ryan bersemangat.


"Bukan itu...! Anu, eh.. apa aku kelihatan gendut ?" Tanya Diandra sedikit ragu.


.


.


.


.


.


Bersambung....


LIKE


COMMENT


SHARE


VOTE

__ADS_1


RATE ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2