
Ryan menggandeng istrinya keluar meninggalkan Gedung Wijaya Group. Sesuai janjinya, siang ini ia berniat memanjakan sang istri dengan mengajaknya jalan-jalan.
"Kita mau kemana sayang ? mau makan dulu atau gimana nih ?" Tanya Ryan pada istrinya.
"Makan dulu, sudah lapeer..." Kata Diandra manja.
"Makan apa ?" Tanya Ryan lagi.
"Makan apa yah..? Kayaknya Makan RUJAK siang-siang seru juga." Jawab Diandra.
"Rujak ? siang-siang ?" Ryan keheranan.
"Iya... Mang kenapa ?"
"Sayang, nanti kamu sakit perut,!" Ryan memperingatkan.
"Tapi aku maunya makan rujak buah sayang. Udah ngiler nih." Diandra memberi alasan.
" Kita makannya di foodcourt mall aja, kayaknya disana ada tuh yang jualan rujak." Ajak Ryan.
"Gak mau... aku maunya yang di pinggir jalan." Tolak Diandra.
"Gak boleh... gak higienis." Nada Ryan mulai meninggi.
Lagi-lagi Diandra meneteskan air matanya mendengar bentakan dan penolakan dari Ryan. Ia hanya menunduk menyembunyikan tangisannya. Sesaat suasana di dalam mobil hening. Ryan menoleh ke arah istrinya yang sedari tadi diam seribu bahasa.
"Loh... kenapa ?" Ryan keheranan melihat Diandra yang terdiam. Diandra pun mulai tidak tahan menahan tangisannya. Ia terisak karena rasa kecewanya kepada Ryan.
"hiks...hiks....hiks..!"
"Sayang, kenapa nangis ? Apa karena rujak ?" Tanya Ryan. Diandra mengangguk pelan tanpa menatap suaminya.
"Sejak kapan istriku ini jadi cengeng kayak gini ? Huhhh...wanita... wanita... Memang ribet jalan pikirannya." Ryan menggerutu dalam hati.
"Stoppp...!!" Diandra tiba-tiba berteriak.
"Ada apa sayang ?" Ryan menatap heran kepada Diandra yang tiba-tiba berhenti menangis dan menyuruhnya mengehentikan mibilnya. Seketika Ryan pun menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Sayang, mamang Rujaknya ada disana !" Menunjuk pada bapak paruh baya yang tengah mendorong gerobak yang berisikan buah-buahan segar. Diandra menatap penuh harap kepada suaminya agar menuruti permintaannya. Ryan pun tidak kuasa untuk melawan keinginan istrinya yang amat ia cintai. Yah, kali ini ia pun mengalah.
"Oke sayang, aku aja yang turun, Kamu tunggu saja di mobil. Mau berapa porsi ?" Tanyanya sambil tersenyum hangat kepada Diandra.
"Hmmm.... Dua porsi cukup sayang." Jawabnya.
"Oke..." Ryan membuka pintu mobil hendak turun namun tiba-tiba Diandra menahannya.
"Cup...!"
Diandra mendekatkan dirinya kepada Ryan dan segera mengecup pipi mulus Ryan.
"Aku mencintaimu, terima kasih sayang." Kata Diandra malu-malu.
Ryan kemudian turun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, senyumnya pun merekah melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil padahal usianya kini menginjak usia dewasa.
"Hmm... hanya karena rujak saja bisa membuatnya semenggemaskan ini." Batin Ryan.
Tak memakan waktu yang lama, Ryan kembali ke mobil dengan kantong yang berisi 2 porsi Rujak buah di tangannya. Diandra meraih kantong tersebut dengan wajah yang sumringah.
"Salah makan bagaimana ? ini tuh buah sayang. Tapi baiklah, aku mau makan nasi padang aja." kata Diandra yang tetap memperlihatkan senyum bahagianya.
"Good girl." seraya mengusap pucuk kepala istrinya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Restoran khas masakan padang kesukaan Diandra. Setibanya disana, keduanyapun langsung memesan makanan kesukaan masing-masing. Tak lama kemudian, makanan pun terhidang di meja.
"Waahhh... banyak sekali makanannya. Apa ini akan habis ??" Diandra bergumam lirih melihat hidangan yang begitu banyak tersaji diatas meja, namun gumamannya tetap kedengaran di telinga Ryan.
"Bukankah kamu sendiri yang memesannya ?" Ryan hanya geleng-geleng kepala.
"Kalau begitu makanlah !" Seru Ryan mengajak istrinya untuk makan.
Diandra nampak mencicipi menu makanan saru per satu. Namun tak ada satu hidangan pun yang ia habiskan. Sesekali ia melirik ke arah Rujak yang telah di belinya di pinggir jalan tadi.
"Kenapa hanya di icip-icip saja ? Makanlah, setelah ini kita jemput Varo dulu baru ke mall." Kata Ryan.
"Sepertinya aku tidak berselera." Sambil mengaduk-aduk makanan yang ada dipiringnya. Kali ini Ryan tidak mau berkomentar. Ia takut jika istrinya akan tersinggung lagi, karena ia merasa bahwa belakangan ini dia lebih perasa dari biasanya.
__ADS_1
"Kita bawa pulang saja makanannya." Setelah menghabiskan makanannya, Ryan kemudian memanggil pelayan agar membungkus makanan yang di pesan oleh Diandra tadi. Setelah usai, keduanya melanjutkan perjalanan untuk menjemput Varo di sekolah.
Lalu lintas siang itu sangat padat, jalanan lumayan macet. Saat melewati lampu merah, Diandra melirik ke arah spion. Dilihatnya dari kaca spion anak-anak jalanan yang berteduh di bawah pohon.
"Sayang, bisakah kamu menepikan mobilnya ?" Pinta Diandra. Tanpa bertanya Ryan pun menepikan mobilnya.
"Sayang, tunggu sebentar yah, aku tidak akan lama."
"Tapu kamu mau kemana ?" Tanya Ryan yang tak di gubris oleh Diandra. Seketika Ryan pun keluar dari mobil mengikuti istrinya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat apa yang telah di lakukan istrinya. Diandra nampak sibuk membagikan makanan yang tadi ia bungkus kepada anak-anak jalanan.
"Kamu benar-benar wanita berhati malaikat sayang, tidak salah aku memilihmu." Ucap Ryan dalam hati.
"Kenapa bengong, ayo sayang..!" Ajak Diandra yang berjalan mendahului Ryan dan masuk kedalam mobil.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung...
Jangan Lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tolong hargai usaha author.
like
Comment
Vote
Terimakasih**
__ADS_1