Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku
Seorang Pembunuh


__ADS_3

Ketiganya kini tiba di rumah Diandra.


"Aku buatin teh atau kopi ?" Tanya Diandra.


"Teh aja sayang..." kata Ryan.


"Ya udah.. tunggu sebentar yah". Kemudian berlalu dari hadapan Ryan menuju dapur.


Diandra membawakan secangkir teh buat Ryan. Ia juga telah mengganti pakaiannya dengan pakain rumahan dan rambutnya di gulung keatas menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus.


Ryan mendekatinya kemudian melepas ikatan rambutnya.


"Loh, kenapa dilepas yan...?" tanya Diandra sedikit kesal.


"Lain kali jangan gulung rambutmu seperti ini didepan pria lain. Aku gak suka" Katanya.


"Aku kan mau beres-beres, biar gak ribet" Diandra hendak mengikatnya kembali namun tangannya ditahan oleh Ryan.


"Kamu cantik, dan kelihatan sexy jika seperti ini. Jangan menggodaku, aku tidak bisa menjamin diriku tidak akan tegoda" kata Ryan berbisik di telingan Diandra.


Lagi-lagi Ia berhasil membuat pipi Diandra merona memerah. Diandra kemudian masuk ke kamarnya dan mengambil bandana untuk menghalau rambutnya.


Ia pun kembali menemui Ryan.


"Kamu sama Varo main di kamar aja yah, aku sama Bu Mirah mau kerja bakti dulu". Kata Diandra.


Ryan pun masuk ke kamar diikuti Varo.


Setelah beberapa saat bermain dengan Alvaro, ia meraih figura kecil di nakas tempat tidur Diandra. Diperhatikannya dengan seksama sosok yang ada di gambar itu.


"Ini pasti papanya Varo, sepertinya tidak asing. Tapi dimana ?" Ryan mencoba mengingat-ingat kapan dan dimana Ia pernah bertemu dengan Mario.

__ADS_1


Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Seketika Ia merasa dunianya runtuh saat mengingat kejadian tiga tahun silam.


"Kecelakaan itu..?" Ia mencoba mengingatnya.


"Tidak mungkin dia..." Gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba Diandra masuk ke dalam kamar.


"Kamu kenapa ?" Tanya Diandra sambil meraih foto yang tengah dipegang oleh Ryan dan meletakkannya kembali di posisi semula.


"Ma...maaf sayang..." Ucap Ryan sedikit terbata.


"Iya gak apapa... kamu kok pucat gitu..? Seperti abis liat hantu." Kata Diandra mengejek.


"Sayang... aku mau tanya soal papanya Varo. Apa boleh ?" Tanya Ryan sedikit ragu.


"Boleh... mau tanya apa ?" Kata Diandra.


"Apakah dia meninggal karena kecelakaan ?" Tanya Ryan.


Ryan mendekatinya dan mengusap pelan air mata di pipi Diandra.


"Maafkan aku.." Kata Ryan sambil memeluk Diandra.


"Tidak apa-apa" kata Diandra sambil melepas pelukan Ryan.


"Tapi kamu kok tau kalau dia kecelakaan ? Perasaan aku belum pernah cerita" Kata Diandra.


"Bisa kita bicara berdua ?" Kata Ryan sambil menatap ke arah Varo.


"Varo... main sama Bu Mirah dulu yah sayang" kata Diandra pada anaknya dan Varo pun langsung keluar.

__ADS_1


Ryan menggenggam tangan Diandra dan mengajaknya duduk ditepi ranjang. Ada banyak pertanyaan di benak Diandra melihat tingkah kekasihnya itu.


"Kamu ingat saat pertama kali ke rumahku aku menceritakan soal Bella. Saat memorgokinya selingkuh aku benar-benar kacau dan saat perjalan pulang aku tidak sengaja menabrak seorang pengendara". Ryan berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Diandra hanya menganga mendengar penuturan Ryan. Ia melepas genggaman tangan Ryan dengan kasar. Ia kini mengerti meskipun Ryan belum menjelaskannya secara rinci.


" Sayang, aku benar-benar tidak sengaja. Aku juga bingung, tiba-tiba motornya sudah didepan mobilku. Kejadiannya begitu cepat. Aku tidak bisa menghindar" Kata Ryan sambil mencoba meraih tangan Diandra namun Diandra enggan untuk di sentuh.


"Cukup tuan Ryan... jangan di jelaskan lagi. Jangan mengobrak abrik luka dalam yang berusaha untuk kusembuhkan. Apa kamu tau bagaimana penderitaanku selama ini ? Bagaimana usaha ku untuk bangkit dari keterpurikan ini ? Aku mengerti sekarang. Kamu hanya kasihan padaku, kamu merasa bersalah kan pada keluarga korban yang sudah kamu bunuh ?" Kata Diandra dengan tatapan dingin. Air matanya kini sudah mengalir se jadi-jadinya.


" sayang... aku benar-benar tidak sengaja. Aku mencintaimu, aku tidak ada maksud lain.tolong percaya padaku " Kata Ryan.


"Cukup...! Jangan berkata apa-apa lagi. Sekarang juga kamu pergi dari sini. Aku tidak sudi lagi melihat seorang pembunuh. Apa kamu sadar siapa yang kamu bunuh ? Dia adalah Suamiku. Ayah dari anakku. Sekarang peegi !!!" Diandra berteriak mengusir Ryan agar segera pergi dari hadapannya.


"Sayang, aku mohon tolong dengarkan aku" Ryan mencoba memeluk Diandra namun ditolak mentah-mentah oleh Diandra.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa Like, comment dan share.


Terus ikuti kisah Diandra dan Ryan

__ADS_1


Tambahkan ke favorit dan rate 5⭐⭐⭐⭐⭐


Terima kasih ❤


__ADS_2