
Hari-hari berlalu, Ryan menyibukkan dirinya dengan fokus bekerja. Dia berusaha mengalihkan perhatiannya dari Diandra agar tidak terbawa perasaan.
Semakin Ia berusaha melupakan, semakin dalam rasa cintanya.
Pagi itu, ia berniat mengunjungi Alvaro di sekolahnya. Ia pun melajukan mobil sportnya menuju sekolah Alvaro.
Ryan memarkirkan mobilnya di bawah pohon, Ia bermaksud bersembunyi dari Diandra. Ia tidak ingin Diandra merasa terganggu akan kehadirannya. Dari kejauhan Ryan melihat mobil Diandra melaju ke arah sekolah kemudian menepikan mobilnya.
Alvaro kemudian turun dari mobil, Diandrapun kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
Dengan segera Ryan turun dari mobil berlari ke arah Varo dan memanggilnya.
"Jagoan...!" Teriak Ryan, kemudian Varo menoleh saat mendengar panggilan Ryan yang tidak asing baginya.
"Om Ryan...!" Berlari ke arah Ryan kemudian memeluknya dan Ryan pun berjongkok membalas pelukannya.
"Om Ryan dari mana saja, kenapa gak pernah lagi main sama Varo". Sedikit merajuk pada Ryan.
"Maaf sayang, Om lagi banyak kerjaan. Kapan-kapan kita jalan-jalan yah.." Bujuk Ryan.
"Janji Om..?" Menyodorkan kelingkingnya.
"Iya.. Om Janji" Mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Varo.
"Ryan....". Tiba-tiba Diandra muncul.
Sontak Ryan kaget mendengar suara yang sangat dirindukannya kemudian menoleh dan berdiri.
"Mati aku.." Gumamnya sedikit takut melihat pancaran wajah Diandra yang sedikit menyeramkan.
"Diandra... maaf. Aku hanya ingin bertemu Alvaro. Kuharap kamu tidak marah" Katanya sambil menunduk.
"Varo... ini bekal kamu nak ketinggalan di mobil. Sekarang Varo masuk kelas yah.." Perintah Diandra pada Varo.
"Ryan... tolong, jangan menjanjikan apapun pada Varo" Ucapnya sedikit kecewa.
__ADS_1
"Maaf Diandra, aku tidak bermaksud begitu" menatap Diandra.
"Lalu apa..? Kenapa menjanjikannya jalan-jalan ?? Aku mohon Ryan, jangan membuatku seperti ini. Jangan membuatku merasa berat untuk menolakmu. Tolong mengertilah keadaanku". Diandra berlalu.
"Berat untuk menolak ?? apa maksudnya ??" Gumam Ryan dalam hati sambil berpikir.
"Diandra... tunggu ! dengarkan penjelasanku" Mengejar Diandra sampai ke mobilnya.
Ryan berlari dengan cepat kemudian segera masuk ke dalam mobil Diandra.
"Apa yang kamu lakukan Ryan, keluar dari mobilku" Usir Diandra.
"Tidak, kali ini kamu harus mendengarkanku". Jawab Ryan.
"Aku mau ke kantor Ryan !" Teriak Diandra.
"Okeehhh... fine..! Aku turun, tapi sebentar malam aku ingin bertemu denganmu. Kita harus bicara Diandra". Ucapnya dengan nada tinggi.
"Mau bicara apa lagi Ryan,,, aku mohon jangan seperti ini" Mulai menurunkan nada bicaranya yang sedari tadi ngegass.
"Kalau begitu aku tidak mau turun". Ryan mengancam.
"Terimakasih Diandra "
Cup...!!!
Refleks Ryan mengecup pipi Diandra dan Segera turun dari mobilnnya.
"Aaarrggghhh Ryan..." Emosi dengan tingkah Ryan yang seperti anak kecil.
"Maaf, kelepasan" Ryan cengengesan tidak ditanggapi Diandra.
Diandrapun berlalu... Dalam hatinya kesal akan tingkah Ryan yang suka tidak permisi. Ia pun menarik nafas panjang, dan membuangnya perlahan.
Tiba-tiba pipinya merah merona mengingat tingkah Ryan tadi. Ia pun tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Apaan sih... kenapa aku jadi senyum-senyum... Apa aku mulai menyukainya ?? Dasar Ryan". Berkata pada dirinya sendiri namun senyumnya semakin lebar dan meraba pipinya yang masih merasakan kehangatan bibir Ryan yang telah mengecupnya.
Ryan pun melajukan mobilnya menuju kantor. Ia memasuki Lobby RW Hotel dengan suasana hati yang tak dapat digambarkan. Tidak seperti biasanya, ia membalas sapaan dari para karyawan yang menyapanya. Tak lupa ia menyunggingkan senyum termanisnya.
Malampun tiba...
Tepat Pukul 07.00 Ryan hendak menuju rumah Diandra. Namun sebelum berangkat, ia mengirim pesan kepada Diandra.
📨 "Aku menuju ke rumahmu. Kita makan diluar yah, ajak Varo juga"
📩 "Memangnya mau membicarakan apa, kenapa harus mengajak Varo ?"
📨 "Memangnya gak boleh ?"
📩 "Gak boleh, Varo harus istirahat".
📨 "Kita gak jadi ketemuan ? 😥 Kalau gita aku ke rumah kamu saja, gak kemana-manapun gak masalah"
📩"Oke" Jawab Diandra Singkat.
"Apa seperti ini rasanya ? " Batin Diandra.
Ia mulai melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Semenjak kepergian suaminya, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi. Dia tidak ingin menodai pernikahannya dengan mendiang suaminya. Dia hanya ingin, di sisa hidupnya ia tetap menjadi Istri dari Mario, meskipun kini Mario telah tiada.
"Maafkan aku Mario" memejamkan matanya berharap Mario mendengarkan suara hatinya.
____________________________
Bersambung...
Terima kasih buat para readers yang telah mengikuti cerita ini.
Mohon maaf jika masih banyak kekurangan.
Jika updatenya lambat, itu dikarenakan Author juga harus bekerja dan mengurus si kecil. Mohon pengertiannya 🥰
__ADS_1
Terima kasih lagi untuk Like dan Commentnya.
Tetap klik ❤ dan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐