
Pintu kamar mulai terbuka. Di dorongnga pelan-pelan daun pintu berwarna putih itu. Ia melangkah perlahan mendekati tubuh istrinya yang terbaring di ranjang. Tanpa aba-aba ia pun memeluk istrinya dari belakang. Diandra yang baru saja terlelap merasakan pelykan hangat dari suaminya yang ia nantikan sehak tadi pagi.
"Kenapa lama sekali ?" Katanya dengan suara serak.
"Banyak kerjaan sayang. Ya udah, kamu lanjutin tidurnya, aku bersihin badan dulu. Lengket..!" Pamit Ryan.
"Mmmhh... gak..gakk boleh... Kamu ganti baju aja. Gak usah mandi. Aku mau meluk kamu, tubuhmu wangi sayang.." Rengek Diandra.
"Whaattt ? tapi aku gerah sayang. Bentar aja kok. !"
"Pokonya gak boleh, seharian aku kangen sama arima badan kamu sayang." Rengek Diandra.
"Iya..iya... Aneh banget istriku ini." ucapnya pelan namun tetap di dengar oleh Diandra.
"Kamu ngatain aku aneh..?" Suaranya sedikit bergetar, nampak raut kecewa di wajah cantiknya mendengar perkataan Ryan yang mengatainya aneh. Ia pun menangis dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan kasar kemudian menutup wajahnya dengan selimut.
Ryan tak mempedulikan istrinya yang menurutnya aneh, ia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Usai mandi, ia baru sadar bahwa tadi Diandra memintanya untuk tidak membersihkan badannya.
"Wadduuhh... mati aku !" Ryan menepuk jidatnya kasar. Ia pun mengendap-endap keluar menuju tempat tidurnya dan menyusup masuk kedalam selimut. Diandra yang mencium aroma khas sabun cair suaminya langsung berbalik. Didapatinya Ryan dalam selimut yang hanya bertelanjang dada hanya mengenakan handuk untuk menutupi area sensitifnya.
"Kamu mandi..?" Tanyanya sedikit berteriak dan diangguki oleh Ryan. Entah kenapa ia merasa sakit hati mendapat jawaban dari suaminya.
"Kamu jahat... tidak memikirkan perasaanku..!" Diandra berdiri dengan kasar kemudian mengusap pipinya yang kini di banjiri air mata. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali kemudian meninggalkan Ryan menuju kamar Varo. Ryan tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya ternganga menatap tingkah aneh istrinya.
"Salahku apa..? Wanita benar-benar makhluk Tuhan paling sexy... Salah, A-N-E-H !" Seru Ryan.
Iapun memutuskan untuk tidur meskipun tanpa istrinya malam ini. Seharian ia bekerja tanpa jeda membuatnya merasakan capek yang luar biasa. Tak butuh waktu lama, ia pun terlelap dalan tidurnya.
********
Pagi Hari.
Seperti hari-hari biasanya, pagi itu Diandra di sibukkan dengan menyediakan sarapan buat anak, suami dan mertuanya. Setelah membuat sarapan, ia membangunkan Alvaro kemudian memandikannya. Setelah siap dengan seragam sekolahnya, Diandra mengajak Alvaro menuju dapur untuk sarapan. Karena masih kesal, Diandra tidak berniat untuk mengurus keperluan Ryan pagi ini.
__ADS_1
"Hmm.... apa dia masih marah ?" Gumam Ryan saat keluar dari kamar mandi dan tak dijumpainya pakaian kerja yang biasa di siapkan oleh istrinya.
Ryan mengambil setelan jas dari lemari, kemudian mencari dasi dengan warna senada. Kali ini ia pun memasang dasinya sendiri. Setelah itu, ia pun turun menemui yang lain untuk sarapan.
"Pagi sayang...!" Ryan hendak mencium kening istrinya namun Diandra menepis sentuhannya, Ia pun menghampiri Varo kemudian menyapa kedua orang tuanya.
Mama Rika yang memperhatikan keduanya merasa aneh atas penolakan Diandra.
"Dian... kamu baik-baik saja sayang ??" Tanya Rika.
"Iya, Ma... aku baik-baik saja. Ada apa Ma..." Diandra balik bertanya merasa tidak nyaman akan teguran mertuanya.
"Tidak, mama perhatikan pagi ini kamu pucat dan matamu sedikit sembab." Jawab Rika.
"Ooh... aku kecapean aja, Ma..." Jawab Dian asal.
"Hmm... kalau begitu kamu istirahat saja dulu. Biar Mama yang antar Varo ke sekolah hari ini." Kata Rika.
"Tidak apa-apa. Sekali-kali Mama juga mau mengantar cucu Mama ke sekolahnya. Benar kan Varo..?" Rika menatap ke arah Varo.
" Iya, Ma.. Hari ini Varo sama Oma aja..!" Varo tersenyum ke arah Diandra.
"Baiklah... Varo sama Oma, tapi jangan menyusahkan Oma yah sayang.." Ucap Diandra.
"Beres, Mama..!" Jawab Varo.
"Ryan... kamu antar istri kamu ke dokter yah, Papa takut nanti Dian sakit." Perintah Pak Raka pada Ryan.
"Hari ini Ryan gak bisa pa... Ada meeting penting untuk project baru di pinggir kota." Tolak Ryan.
Diandra yang mendengarkan ucapan suaminya langsung berdiri, kemudian berlari meninggaljan meja makan menuju kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Apa aku salah lagi ?" Ucap Ryan lirih dan mendapat sorotan mata yang tajam dari Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa menghargai sedikit saja perasaan istrimu ?" Bentak Pak Raka.
"Taoi, Pa... Ryan memang lagi sibuk-sibuknya sekarang. Papa tau sendiri kan projectnya baru saja akan di mulai dan itu menguras banyak waktu ku pa." Ryan mencoba membela diri.
"Tapi tidak segitunya juga kamu menolak secara langsung di depan istrimu." Jawab Raka lagi.
"Sudah...sudah... kalian ini ayah sama anak sama saja. Gak baik berdebat di meja makan apalagi disaksikan anak kecil. Ryan, sekarang kamu bujuk istri kamu. Masalah di kantor kamu hubungi asisten kamu dulu untuk menghandle yang bisa di handle. Mengerti ?" Rika memberikan solusi.
"Baik, Ma... Varo, nanti ke sekolah bareng Oma yah sayang...!" Ryan bangkit dari duduknya kemudian mencium pucuk kepala anaknya.
"Baik, pa.. Papa, Varo minta Papa jangan buat Mama nangis lagi yah...?" Ucap Varo memelas.
"Maafin papa sayang, papa benar-benar gak sengaja buat Mama sedih. Papa akan buat Mama tertawa lagi." Tersenyum dan mengusap rambut anaknya kemudian berlalu.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Tolong...!!!
Tinggalkan jejak setelah membaca.
Author sudah capek² berfikir dan mengetik lanjutan kisah tapi like nya dikit banget.
Mohon di like, add favorite dan di mohon keikhlasannya memberikan Vote. Terima kasih
__ADS_1