
Di Kantor Diandra.
Diandra tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya kacau saat ini.
Ddrreett...dreett....!
Ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia pun membuka isi pesannya.
*Maaf jika aku melampaui batasku*
"Ryan...!" Gumam Diandra. Iapun membalas pesan Ryan.
*Aku ingin bicara, dimana aku bisa menemuimu ?*
Send....
*Sebentar malam datanglah ke rumahku. Aku sudah pindah*
Send...
*Baiklah, pulang dari kantor aku kesana*
Ryan pun tak membalas pesan dari Diandra. Ia segara beranjak dari kantor menuju rumahnya.
Ryan memerintahkan kepada asisten rumah tangganya agar membersihkan rumah. Kemudian menyiapkan makanan yang lezat untuk menyambut kedatangan Diandra. Tak Lupa Ia menambahkan lilin dan bunga-bunga untuk mempercantik dekorasi ruangan.
Jam pulang kantor, Diandrapun segera menuju ke rumah Ryan. Setibanya disana, Ia cukup takjub melihat bangunan didepannya itu, sangat jauh berbeda saat pertama kali Ia datang kesini.
ting..tong..!
Diandra memencet Bell hanya sekali kemudian pintupun di buka oleh pelayan Ryan.
__ADS_1
"Silahkan masuk nona, tuan menunggu di dalam". Kata pelayan.
Diandra melangkahkan kakinya kedalam. Ia Semakin terkejut melihat nyala lilin dan bunga-bunga yang menghiasi tiap sudut ruangan. Ia melangkah mendekati Ryan yang berdiri di depan jendala menatap ke arah taman. Ryan membalikkan badannya menatap Diandra dan tersenyum.
"Ayo duduk.." Ryan menggeser kursi lalu Diandra mendudukinya. Ryan pun duduk tepat di depan Diandra.
"Aku minta maaf soal tadi. Jauh-jauh hari aku sudah berjanji pada Varo untuk mendampinginya ikut lomba".
Diandra masih terdiam.
"Aku juga meminta Varo untuk tidak memberitahumu, karena aku tau kamu pasti tidak setuju". Kata Ryan.
Diandra masih diam membisu, tidak bisa berkata apa-apa.
Ryan memberanikan diri menggenggam tangan Diandra, Diandra membiarkan tangannya di genggam oleh Ryan. Jantung Diandra mulai berdetak tak menentu.
"Perasaan apa ini ?" batin Diandra.
"Diandra... aku tidak perlu menjelaskan dengan panjang lebar tentang perasaanku padamu. Aku yakin kamu bisa melihat dan merasakannya sendiri" kata Ryan.
"Entahlah,,,, mungkin saat di Perayaan Ulang Tahun Yayasan, mungkin di restoran, mungkin saat kamu menjelaskan tentang produkmu, mungkin juga saat kamu menabrakku di lobby hotel, atau mungkin saja saat kamu mengenakan Gaun hitammu menghadiri acara Lounching hotel". Mengingat satu per satu kenangan saat ia melihat Diandra.
Deg...!!!
Diandra semakin kaget. Nafas dan jantungnya berpacu seolah memperebutkan gelar juara.
"Apa benar dia sudah memperhatikanku saat di pesta?" Batinnya tak percaya.
"Saat di pesta, aku melihatmu dengan mengenakan gaun berwana hitam. Aku ingin mendekatimu, ingin mengenalmu, hanya saja waktunya belum tepat. Saat kamu ke hotel dan menabrakku aku sangat senang, akhirnya bisa melihatmu lagi. Dan saat bertemu di restoran siang itu, hatiku sedikit sakit melihatmu datang bersama Doni kemudian pulang bersama Hendra".
"Kenapa menyukaiku..?" tanya Diandra penasaran.
__ADS_1
"Bukankah Cinta itu dirasakan ? Tidak difikir dengan logika. Aku tidak bisa menjabarkan alasanku menyukaimu" Jawab Ryan.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita biasa, dan aku sudah memiliki anak. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang". Terang Diandra dengan suara yang mulai bergetar.
Ryan menggeser kursinya, mendekat ke arah Diandra.
"Diandra, aku sudah pernah bilang. Soal statusmu aku tidak pernah mempermasalahkannya. Apakah sulit bagimu berbagi kebahagiaan denganku ? Tolong pikirkan Varo, dia butuh figur ayah". Berkata dengan tegas.
"Tanpa seorang ayah aku bisa membahagiakan Varo, aku bisa menyerahkan semua sisa hidupku padanya, toh selama ini kami baik-baik saja". Jawabnya kemudian memalingkan wajahnya.
"Bagaimana dengan dirimu ? tidak kah kamu butuh seseorang disampingmu ? mendengar cerita dan keluh kesahmu ? Tidak kah kamu melihat kebahagiaan Varo saat bermain bersamaku ??" Berteriak ke arah Diandra.
"Aku tidak butuh siapa-siapa. Ini hidupku Ryan, kamu tidak perlu bertanggung jawab atas keluargaku. Tolong jangan membebaniku". Mulai terisak.
Sesaat keduanya diam dengan pikiran masing-masing.
"Baiklah.. jika kehadiranku membuatmu merasa terbebani, aku menyerah.. Aku hanya ingin kamu bahagia". Melepaskan genggaman tangannya.
Diandra berdiri, menghapus air matanya kemudian berlalu dari hadapan Ryan.
"Maafkan Ryan.." Batin Diandra dan air matanyapun terus mengalir.
"Inikah yang dinamakan patah hati..?" Gumam Ryan menatap kepergian Diandra.
_____________________________________________
Bersambung...
Maaf yah jika masih banyak kekurangan. Author masih dalam proses belajar. Terus ikuti Kisah Ryan dan Diandra...
Jangan Lupa Like, comment dan share.
__ADS_1
Tetap ❤ dan ⭐⭐⭐⭐⭐
Terimakasih 🥰🥰