
Lalu lintas mulai padat, Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah menuju kantor Diandra. Dengan sengaja Ryan melambatkan laju mobilnya agar bisa berlama-lama duduk disamping Diandra meskipun dalam keadaan menyetir.
Tiba di kantor Diandra, Ryan menepikan mobilnya. Ryan hendak turun dari mobil guna membukakan pintu buat Diandra akan tetapi Diandra melarangnya.
"Gak usah, aku bisa turun sendiri". Ucap Diandra sambil menahan lengan Ryan.
"Baiklah, aku langsung ke hotel yah.." Kata Ryan.
Dian keluar dari mobil, dan Ryan menurunkan kaca mobilnya.
"Jangan lupa pelajari PK nya baik-baik. Kabari aku kalau sudah di tandatangan biar berkasnya langsung kujemput." Kata Dian sedikit membungkukkan badannya agar melihat wajah Ryan.
"Baik Ibu Diandra.. padahal berkasnya belum aku sentuh. Aku jalan yah.. Daaggh...". Melambaikan tangan seraya melajukan mobilnya.
Diandra mematung menatap kepergian Ryan.
"Awas saja kalau tidak di tanda tangan" mendumel dalam hati.
Dari kejauhan Doni melihat Diandra dan Ryan. Saat masuk ke dalam gedung kantor Doni menghampirinya dan menghujaninya beberapa pertanyaan.
"Kok kamu bisa sama dia ?" Tanya Doni.
"Iya.. mobilku di bengkel." Jawab Dian.
"Kenapa kamu gak telepon aku ? kan aku bisa nganterin kamu". Kata Doni kemudian.
"Tadi dia keburu datang duluan jadi aku belum sempat nelpon kamu". Dian mencari alasan yang tepat.
"Jadi dia sudah pernah ke rumah kamu?". Doni Penasaran.
"Udah 3 kali kalau gak salah. Emang kenapa Don ? Tanya Dian.
"Gak apa-apa.. aku cuma khawatir dia bermaksud jahat sama kamu. Kamu kan tau dia bagaimana orangnya.." Jawab Doni memberi alasan.
"Kita cuma berteman, seperti halnya aku sama kamu. Jadi jangan khawatir yah.." Diandra berusaha menenangkan Doni
Deg..!!!
__ADS_1
Raut kecewa terpancar dari wajah Doni.
"Aku dengar sih, Pak Ryan itu dikelilingi wanita-wanita cantik, tapi tak satu pun diantara mereka yang di seriusinya." Sambung Doni.
Ada rasa aneh yang dirasakan Diandra saat mendengarkan ucapan sahabatnya. Namun dengan segera ia melawan perasaan itu.
"Oh ya..? aku baru dengar. Udah ah, masih pagi. gak baik ngomongin orang". Diandra berusaha Menepis pembicaraan tentang Ryan.
Keduanya pun menuju kubikers masing-masing dan mulai mempersiapkan diri untuk beraktifitas.
****************
Pukul 11.00 di Bank XXX.
Pak Bahar menghampiri Diandra dan menyapanya. "Permisi Ibu Dian,.!". Pak Satpam menghampiri meja Kerja Diandra dan menefurnya.
"Eh Pak Bahar, kenapa pak ?" bertanya ke Pak Bahar namun masih mengetik di keyboard computernya.
"Itu Bu, di bawah di ruangan Pelayanan Prima ada seseorang yang nyariin Ibu". Kata Pak Bahar.
"Baik Pak Bahar saya segera turun". Diandra membereskan mejanya, mengambil ponsel kemudian menuju Ruang Pelayanan Prima di lantai 1.
"Pak Ryan..!". Diandra Berucap pelan namun tetap kedengaran ke telinga Costumer Service dan Ryan.
"Nah, Ibu Dian sudah datang". ucap CS kepada Ryan dan tersenyum ke arah Diandra.
"Selamat Siang Ibu Dian...". Ryan Menyalami Dian dan disambut oleh Dian.
"Maaf Pak Ryan sudah menunggu. Kita langsung saja ke ruangan Pak Adrian pimpinan saya. Beliau pasti senang melihat bapak disini". Kata Diandra seraya mengajak Ryan untuk ke ruang Pimpinan.
"Baiklah" Ryanpun beranjak dari duduknya.
"Ibu Yeni, saya permisi dulu,,,Mari pak ikut saya !" Dian pamit kepada CS kemudian mengajak Ryan untuk berjalan mengikutinya.
Mereka pun menaiki tangga menuju lantai 2.
"Bapak kok gak bilang-bilang mau kesini". kata Diandra setengah dengan suara pelan.
__ADS_1
"Memang harus yah ?". Kata Ryan lagi namun tak ditanggapi oleh Diandra.
"Kantor kamu asik juga, tapi agak sempit" Ryan Setengah berbisik disamping Dian.
"Ini cuma kantor sementara, kantor yang asli masih dalam tahap renovasi pak". balasnya berbisik
"Gak asik ah.. terlalu formal".
Diandra menoleh ke arah Ryan sambil membelalakkan matanya. Ryan menahan tawa memalingkan wajahnya seolah tak melihat tingkah Diandra.
Doni yang tengah membuat laporan ternganga melihat Ryan dan Diandra berjalan menuju ruang Pak Adrian.
"Ngapain dia kesini ?? Ah.. Doni... Pasti urusan bisnis" Doni menggerutu dalam hati.
Doni merasa tidak suka melihat kedekatan Diandra dengan pria lain selain dirinya.
Tok..tok..!
Mengetuk pintu Pak Adrian yang tidak tertutup.
"Permisi pak..!". Dian mencoba menyapa Pak Adrian yang tengah sibuk dengan tumpukan map di mejanya.
"Hm... kenapa Dian ??" Pak Adrian terlonjak kaget saat menatap ke arah Dian yang disampingnya telah berdiri Pimpinan RW Hotel.
"Dian.. ajak tamunya masuk". Pak Adrian akhirnya berdiri menyambut kedatangan Ryan kemudian menyalaminya dan disambut oleh Ryan.
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungan para readers.
Ikuti terus kelanjutan kisahnya
Like, Comment dan share
❤ dan ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
thank you 😘
❤Author