
Hari ini adalah hari sabtu, bertepatan dengan hari Ulang Tahun sekolah Alvaro. Semua orang tua siswa diundang untuk menghadiri perayaan dan perlombaan yang diselenggarakan oleh pengurus yayasan setiap tahunnya. Diandra dan Alvaro pun bersiap untuk ke acara tersebut.
Perjalan menuju sekolah,
"Mama, sebentar mama fotoin Varo yah saat tampil dipentas." pinta Varo.
"Memangnya anak mama mau ikut lomba juga..?". Tanya Dian penasaran.
"Iya dong Ma..." jawabnya.
"Lomba apa sayang,,?" tanya Diandra penasaran.
"Lomba bercerita.." Jawabnya membanggakan diri.
"Wahh...anak mama memang hebat. Jangan lupa baca do'a sebelum lomba. Kamu semangat yah nak, Insya Allah bisa juara, Aamiin..". Kata Diandra berusaha menyemangati sang buah hati.
Merekapun tiba di sekolah dan memarkirkan mobilnya di halaman samping gedung sekolah. Dengan semangat Varo menarik tangan Diandra agar segera masuk ke dalam gedung. Ketika akan melewati pintu masuk, Alvaro menabrak seseorang yang berstelan jas rapi dan iapun terjatuh.
"Aaarrgghh...sakit..!!! kata Varo
"Varo gak papa nak..? Tanya Diandra dan membantu anaknya berdiri.
"Diandra..??" Ryan menatap heran pada Diandra.
"Pak Ryan.. Hendra.. kalian ada disini juga..??" Balik bertanya kepada calon rekan bisnis dan teman lamanya.
"Ia.. Kali ini kami mewakili Bibi untuk menghadiri Perayaan Ulang Tahun Yayasan. Kebetulan Yayasan ini adalah milik Almarhumah Oma kami." Jelas Hendra.
"Oow.. begitu. Kalau begitu saya kedalam dulu yah.. Permisi". Kemudian berlalu dari hadapan Hendra dan Ryan.
"Tunggu..!" kata Ryan sedikit meninggikan suaranya.
Dian dan Alvaro menghentikan langkahnya kemudian berbalik ke arah Ryan.
__ADS_1
Iya pak, ada apa ?" Kata Dian dengan wajah keheranan.
"Saya belum minta maaf. Maafkan saya". Ucap Ryan datar.
"Ooh.. gak papa kok pak. Lagian Varo anak yang kuat. Iyakan nak..?" Memberi kode kepada Alvaro sambil tersenyum.
"Iya Mama.. Varo gak apapa". Membalas tatapan ibunya.
"Mama ?" Gumam Ryan dalam hati.
Seakan tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Raut kecewa tampak di wajah Ryan Seolah tak bisa menerima kenyataan bahwa Diandra sudah berkeluarga dan memikiki seorang putra.
Satelah kejadian itu, mood Ryan seketika berubah. Yang tadinya bersemangat akan menyaksikan pertunjukan dan perlombaan anak-anak menjadi murung. Bahkan untuk tersenyumpun terasa sulit baginya.
Rangkaian demi rangkaian acara telah selesai, saatnya menyaksikan Lomba Bercerita yang akan diikuti oleh beberapa anak, diantaranya Alvaro.
Kini giliran Alvaro yang akan menuju pentas.
" Kita sambut peserta terakhir.. Alvaro dari kelas A3... Tepuk tangan semua.." Kata MC yang mengajak Alvaro menuju pentas.
MC : "Alvaro sudah siap sayang..? Tanya MC.
Varo : "Siap bu guru". Jawabnya mantap.
MC : "Ayo Alvaro, saatnya mencabut materi yang akan diceritakan." menyodorkan toples kaca yang berisikan kertas tema yang tergulung.
Alvaro pun mengambil salah satu gulungan kertas kemudian di serahkan kepada bu guru selaku MC.
MC : "Baik.. tema cerita yang akan di bawakan oleh Alvaro adalah.... AYAH..!!"
Semuanya bertepuk tangan, memberi semangat kepada Varo. Ruanganpun Henig kembali saat lampu telah dipadamkan kecuali lampu yang menyorot Varo.
Diandra melihat anaknya dari kejauhan yang tertunduk seperti sedang sedih. Diandrapun kini tak mampu membendung air matanya.
__ADS_1
Varo terus menunduk, sesekali terdengar suaranya yang sesenggukan, Ibu Guru pun menghampirinya dan berusaha menghibur Varo.
"Varo anak hebat.. pasti bisa ya sayang.. Ceritakan apa saja tentang ayah yang Varo ketahui." Kata MC membujuk Varo agar segera memulau bercerita.
"Tapi Varo gak bisa cerita bu Guru". Sesenggukam Menjawab pertanyaan ibu gurunya akhirnya iapun menangis.
Diandra berjalan perlahan menuju panggung. Semua mata pun tertuju padanya, termasuk Ryan dan Hendra.
Dian langsung naik ke atas panggung, berjongkok menghapus air matanya kemudian berkata pada Varo.
Dian : "Papa Varo adalah pahlawan kita. Papa orang yang sangat baik. Papa sayang sama Varo dan Mama. Meskipun kini papa telah tiada, tapi Papa Selalu menjaga kita dari atas. Jangan sedih sayang, Papa akan sedih kalau lihat Varo bersedih. Jadi anak yang kuat yah sayang...Papa akan selalu ada dihati Mama dan Varo".
Diandra kini tak mampu berkata apa-apa lagi, tangisnya pecah sembari memeluk anaknya. Semua penonton yang menyaksikan adegan itu turut hanyut dalam kesedihan kemudian bertepuk tangan menyemangati keduanya. Diandra dan Varo menatap ke arah penonton kemudian melangkah turun dari panggung. Keduanya berjalan menuju kursi yang diduduki sebelumnya oleh Diandra.
Disisi lain, Ryan terus menatap Diandra dan anaknya yang berjalan disampingnya. Entah kenapa dia merasakan sesak saat mengetahui keadaan Diandra dan anaknya.
"Jadi suaminya telah tiada ?" Gumam Ryan dalam hati.
Tiba- tiba Hendra berlari kecil ke arah Diandra dan Varo.
"Di... kamu yang sabar yah". kata Hendra sambil menepuk bahu Diandra perlahan.
"Iya.. gak apapa kok. Kita sudah terbiasa melewatinya." Jawab Diandra seadanya.
"Mama jangan nangis lagi yah.. Varo janji gak bakal buat mama nangis lagi". Diandra berjongkok memeluk putranya dan dibalas oleh Varo.
"Iya sayang... Varo juga jangan nangis yah nak. Kalau Varo sedih Papa Varo juga bakal sedih". Melepas pelukan dan Menghapus air mata putranya.
Ryan hanya menyaksikan adegan Hendra, Diandra dan alvaro dari kejauhan. Ingin sekali rasanya ia mendekati Diandra dan menghiburnya, akan tetapi langkahnya terasa berat. Dia merasa kurang pantas melakukannya mengingat hubungan keduanya belum sedekat hendra yang notabenenya memang teman semasa kukiah.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan sarannya yah..
Happy reading 🥰🥰🥰