
Belanda
Semenjak perceraian dan kepulangan Kavin ke Indonesia, banyak perubahan yang terjadi pada diri Salma, itu yang Opa Braymanto lihat.
Lebih banyak diam, tak banyak bicara walau tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, berangkat kerja dan mengurus baby Rayyan. Tapi ya begitu seperti tidak ada gairah di dalam diri wanita itu.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya bibi Tia, melihat wajah Salma terlihat pucat. Bibi Tia langsung menyentuh kening keponakannya.
“Agak pusing aja,” jawab pelan Salma.
“Badan mu panas, sebaiknya tidak usah berangkat kerja. Istirahatlah di kamar. Baby Rayyan biar bibi dan Emy yang mengurusnya,” pinta Bibi Tia.
“Kerjaan di kantor tidak bisa di tinggal kan, Bik.”
“Kamu itu lebih mementingkan pekerjaan dari pada kesehatan. Lagi pula ada Retno asisten mu yang bantu di kantor. Ayo habis kan sarapan mu lalu istirahat di kamar, nanti bibi antarkan obat demamnya ke kamarmu,” perintah Bibi Tia sedikit galak, kemudian mengangkat baby Rayyan dari pangkuan Salma. Wanita itu hanya bisa pasrah saja, memang benar badan kurang fit dalam beberapa hari.
Salma menghabiskan sarapan paginya, walau lidahnya terasa pahit. Setelahnya dengan langkah lambat, naik ke lantai dua menuju kamarnya.
“Bu, sepertinya Salma banyak pikiran,” ujar Paman Didit.
“Sepertinya begitu, tapi yang aku lihat semenjak bercerai, Salma lebih banyak diam,” balas Bibi Tia.
“Mungkinkah Salma merasa kehilangan Kavin?”
Bibi Tia mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah, hanya Salma yang tahu. Tapi biasanya kalau orang putus cinta, ya...seperti itu kehilangan semangat tiba-tiba. Apalagi kata Retno, selama satu bulan Kavin tidak ada kabarnya. Telepon nanyain kabar anaknya juga gak pernah,” tutur Bibi Tia.
“Huft......,” Paman Didit hanya bisa menghembuskan napas panjang.
Segala keputusan yang di ambil pasti ada resiko baik dan buruknya. Dan yang pasti tidak bisa menyalahkan orang lain, karena keputusan berdasarkan keinginan sendiri bukan permintaan orang lain.
Jika hatimu merasa sakit karena keputusanmu, maka nikmatilah rasa sakit mu. Tapi jika tidak ingin merasakan rasa sakitnya, maka segera perbaikilah jika masih bisa di perbaiki.
Sekarang Salma sudah berada di kamarnya, dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Sebelum memejamkan matanya, wanita itu terlihat mengecek handphonenya berulang kali, seperti mengharapkan sesuatu dari handphonenya, namun tetap tak ada, akhirnya di letakkan saja handphonenya sembarangan.
“Katanya mau jadi daddy yang bertanggung jawab buat Rayyan, ternyata bohong. Paling udah dapat pengganti nya. Laki-laki kan begitu gak bisa lihat cewek cantik, walau impoten, tetap aja matanya jelalatan...ck !” gumam Salma sendiri, berdecak kesal sendiri.
“Makanya jadi cowok tuh gak usah pakai janji-janji deh, bikin sakit hati aja. Untung udah cerai, coba kalau belum cerai, seenak jidatnya aja tuh orang!” gerutu Salma sendiri.
Ditariknya selimut yang ada di sisi ranjang, kemudian ditutupinya tubuhnya dengan selimut dan terlihat wajah pucatnya terlihat kesal. Kesal sama siapa?
“Salma...,” panggil Bibi Tia dari luar kamar.
__ADS_1
“Masuk aja Bik,” sahut Salma dari dalam kamar.
Bibi Tia segera masuk ke kamar Salma. “Ini obat demamnya, di minum dulu,” pinta Bibi Tia, sambil menyodorkan obat dan segera mengambil gelas yang ada di atas nakas.
“Makasih Bik.”
🌻🌻
Dua jam kemudian...
Salma terlihat tertidur pulas, mungkin efek dari obat penurun panasnya.
Derrtt.... Derrtt... Derrtt
Suara handphonenya berbunyi, membuat wanita itu terasa terganggu tidurnya, masih dengan kondisi matanya yang terpejam, salah satu tangannya meraba sisi ranjang nya, mencari keberadaan handphonenya.
“Siapa sih yang nelepon?” gumamnya, sembari mengerjapkan kedua netranya yang terasa berat. Dengan memicingkan salah satu matanya, wanita itu memencet tombol hijau.
“Halo Assalamualaikum, mommy Rayyan,” suara sapa seorang pria terdengar di handphonenya.
Seketika kedua netra wanita itu membulat, dan melihat wajah pria tampan yang ada di layar handphonenya.
Kavin terlihat mengernyitkan keningnya. “Wajah mommy kenapa pucat, sedang sakit kah?” tanya Kavin dengan perasaan mulai cemas.
“Iya lagi gak enak badan, tumben Kak Kavin baru telepon?” tanya Salma, nadanya terdengar memelas.
“Mommy Rayyan sakit apa? Sudah ke dokter? sudah minum obat kah? Kenapa bisa sakit mom?” cecar Kavin.
“Hanya demam aja, sudah minum obat barusan, Kak Kavin.”
“Ya sudah istirahat dulu, maaf kalau aku menganggu ya.” Ujar Kavin, kemudian pria itu langsung mematikan sambungan teleponnya.
Salma langsung terkesiap setelah menerima telepon singkat dari mantan suaminya. “Astaga udah sebulan gak kasih kabar, terus teleponnya begitu aja....ya ampun!”
Wanita itu jadi ngedumel sendiri dengan handphonenya, ngedumel yang gak jelas, tapi ada rasa sedikit senang ketika di telepon oleh sang mantan.
🌻🌻
Sehari kemudian...
Jam 17.30 waktu Belanda
__ADS_1
Keadaan Salma bukannya semakin membaik, malah tambah drop. Suhu badannya sudah naik turun, setiap makan selalu muntah...hingga wanita itu merasa tubuhnya lemas tak bertenaga. Sang dokter keluarga sudah memeriksa kondisinya dan diminta untuk bedtrest total, tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Hanya boleh beristirahat di kamar. Semua kebutuhan sudah di penuhi oleh para maid, dan Bibi Tia serta Retno bergantian menjaganya.
Untungnya baby Rayyan tidak terlalu rewel, seakan tahu jika mommy nya sedang sakit.
Sore menjelang malam, Salma sudah di suapi makan bubur dan minum obatnya, sekarang wanita itu sudah tertidur.
Pelan-pelan tanpa menimbulkan suara, kenop pintu kamar Salma ada yang buka. Terlihat sepatu pria masuk ke dalam kamar wanita itu. Di bukanya sepatu yang di kenakannya lalu kembali melangkahkan kakinya.
Sesampainya di ranjang, pria itu nampak sedih melihat wanita itu, di kecupnya dengan lembut kening Salma.
“Kenapa bisa sakit mommy Rayyan,” ucap lirih nya.
Pria itu kemudian naik ke atas ranjang, lalu merebahkan dirinya di samping Salma, kemudian mendekap wanita itu dengan hangat.
Sedangkan di lantai bawah....
Retno sedang sibuk menyajikan minum serta makanan kecil untuk Ari. Sang asisten yang baru pertama kali melihat Retno, pandangan nya selalu ke Retno, tidak putus-putus. Membuat saudara sepupu Salma salah tingkah jadi nya.
“Jadi Pak Ari, asisten nya Pak Kavin,” tanya Retno, setelah selesai menghidangkan jamuan kecil.
“I-Iya...saya asisten pribadi Tuan Kavin, kalau kamu siapa?”
“Oh iya sampai lupa, silahkan di minum. Pasti sangat melelahkan di perjalanan dari Jakarta ke Belanda,” ujar Retno, mempersilahkan.
“Iya sangat melelahkan dan ini perjalanan mendadak, kemarin Tuan Kavin minta di carikan tiket penerbangan ke Belanda, secepatnya! Katanya Salma sakit,” ucap Ari.
“Iya Salma sedang sakit dari kemarin, tapi tidak mau di rawat di rumah sakit. Akhirnya di rawat di rumah saja.”
Ari menyesap teh hangat yang di sajikan Retno namun masih menatap Retno lekat-lekat. “Kalau boleh tahu kamu namanya siapa?” tanya Ari kembali.
“Saya Retno, sepupu dan sekaligus asisten pribadi Salma.”
“Ooh berarti kamu anaknya Pak Didit ya?” tebak Ari.
“Iya betul, saya anaknya Pak Didit.”
Wajahnya ayu sekali, tapi kok jantungku berdebar-debar ya...
bersambung.....
__ADS_1