Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Dikira mimpi


__ADS_3

Mendekap penuh kehangatan, jemarinya menyisiri wajah cantik yang terlihat memucat, mulai dari kening turun ke hidung mancung lalu ke pipi yang begitu halus jika di sentuh. Hati yang galau setelah kemarin baru mengetahui sang mantan sakit, membuat pria itu secepat mungkin datang ke Belanda, meninggalkan semua pekerjaan dan jadwal yang sudah di susun rapi oleh asisten nya.


Ada rasa kecewa yang menyelinap hati pria itu, setelah selama satu bulan pria itu gagal menempati janji nya agar selalu berkomunikasi dengan sang mantan istri demi tumbuh kembang buah hatinya.


Rasa penyesalan datang kembali, kenapa berulang lagi! Kenapa tidak bisa memegang janji nya sendiri, padahal dia ingin mengejar kembali sang mantan istri. Tapi untuk menelepon nya saja, selama satu bulan absen.


Sekarang pria itu kembali memeluk erat wanita itu dengan rasa penyesalan, yang terulang kembali. Seharusnya dia berpegang teguh dengan janji nya sendiri. “Maafkan aku, sayang,” ucapnya terdengar lirih.


Hampir selama dua jam, Salma tertidur pulas dalam dekapan Kavin, ada rasa hangat dan nyaman, itu lah yang di rasakan oleh Salma. Akan tetapi indra penciumannya semakin lama agak terganggu dengan wangi maskulin yang menyeruak, wangi yang sangat familiar.


Wanita itu mulai menggeliat, dan melenguh dalam dekapan Kavin. Sang pria yang merasakan tubuh wanita mulai bergerak, terlihat mengulas senyum tipisnya, lalu menatap wajah cantik itu yang terlihat sedang mengerjap-ngerjapkan kedua netranya.


Sebelum membuka kedua netranya, salah satu tangan wanita itu meraba-raba badan Kavin, dan merasa aneh dengan bantal guling yang di peluknya. Wanita itu mulai memicingkan matanya yang terasa berat. Mulailah terlihat wajah seseorang yang persis ada di depan mata wanita itu.


“Assalamualaikum, mommy Rayyan,” sapa Kavin dengan suara beratnya namun terkesan lembut.


“Kak......,” terkejut Salma, yang awalnya memicingkan kedua netranya langsung membulat sempurna.


Pria itu kembali tersenyum hangat melihat keterkejutan wanita itu.


Aah...ini pasti mimpi, sebaiknya tidur lagi, kemudian baru bangun lagi. Sepertinya gara-gara demamku tinggi, dunia haluku semakin tinggi.


Bukannya membalas salam, wanita itu justru kembali memejamkan kedua netranya, berharap orang yang di lihatnya menghilang dari wajahnya.


“Kenapa pejamkan matanya lagi, aku mengkhawatirkanmu, mom,” ucap Kavin.


Kedua kalinya Salma membuka kedua netranya, dan kembali membulat sempurna.


“Ini beneran Kak Kavin kah?” tanya Salma, masih ada rasa tak percaya, reflek tangannya menyentuh wajah Kavin. Dikira mimpi ternyata bukan mimpi.


CUP


Pria itu mengecup kening Salma dengan lembutnya, dan lama melepaskan nya.


“Berasa tidak kecupannya? Atau perlu kecup bibirnya juga?” tanya Kavin sedikit bercanda dan menggoda.

__ADS_1


Salma langsung menyentuh keningnya yang habis di kecup Kavin.


“Basah...,” jawab polosnya.


Salma menatap sendu wajah daddynya Rayyan, yang sudah ada di samping nya. Perasaan nya jadi bingung sendiri, namun yang jelas takjub melihat pria yang kemarin menelepon nya hanya sebentar, sekarang tiba-tiba ada di sini, sangat dekat, tak ada jarak di antara mereka berdua. Jarak tempuh Jakarta ke Belanda itu jauh, bukan seperti jarak tempuh Jakarta ke Bandung. Namun dia benar ada di sini!


“Kenapa jadi bengong, mom?” Salma hanya bisa tersenyum tipis.


Kavin kembali menyentuh kening dan bagian dagu Salma. “Mom, badan mu masih panas, minum air putih dulu ya,” ucap Kavin.


“Ya...,” jawab singkat nya. Kavin bisa melihat jika di wajah Salma, banyak hal yang ingin di tanya kan pada dirinya. Mungkin yang pertanyaan utama, kenapa tiba-tiba datang ke Belanda?


Kavin menyibak kan selimutnya, kemudian beringsut dari atas ranjang. Lalu mengambil gelas dari atas nakas.


Salma pun mengerakkan tubuhnya, bangun dari pembaringannya, kemudian menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang.


“Ini di minum dulu,” pinta Kavin, menyodorkan gelas.


“Makasih Kak.” Salma langsung meneguknya sampai tandas.


“Mommy Rayyan, sudah makan belum? Sudah minum obat belum?” tanya Kavin.


“Tapi badan mu masih panas, makan sedikit ya, nanti aku tanya sama dokter, boleh minum obat demamnya lagi atau tidak, ya,” pinta Kavin, penuh perhatian.


Ahh...Salma jadi terbawa suasana hangat ini, melting banget lihat Kavin yang begitu cemas dan perhatian dengan dirinya, padahal mereka bukan suami istri lagi.


Pria itu segera menghubungi pelayan melalu line telepon yang ada di atas nakas, meminta untuk di bawakan makanan untuk Salma. Setelahnya pria itu kembali duduk di atas ranjang, di samping Salma, kemudian menatapnya penuh kehangatan.


Aah...lagi-lagi Salma jadi tak enak hati di tatap seperti itu. Pria itu meraih tangan wanita itu, lalu menggenggamnya dengan erat, kemudian mengecup punggung tangan Salma


“Mom, aku kan sudah bilang jaga kesehatannya, pasti kamu lelah bekerja dan mengurus anak kita kan, maafkan aku ya telah membuatmu lelah mengurus anak kita."


“Kakak kapan sampai?” tanya Salma, belum menjawab pertanyaan Kavin, justru balik bertanya.


“Dua jam yang lalu, tiba di bandara...aku langsung menemuimu. Kamu tahu saat kamu bilang sedang sakit, hatiku cemas memikirkan kamu.” Kavin kembali mengecup tangan Salma, dan wanita itu tidak tampak risih. Mungkinkah terasa nyaman?

__ADS_1


“Kak Kavin, lebay banget, kayak cowok abg aja,” ucap Salma, sambil menyunggingkan senyum simpulnya.


“Mom, aku kan memang masih abg, abg tua,” jawab Kavin sambil terkekeh.


“Ehh...iya bener tuh Kak, kakak tuh abg tua...,” ikut terkekeh wanita itu, sambil memegang perutnya yang terasa geli.


Aku ingin membuatmu selalu bahagia, kamu semakin cantik jika tertawa seperti ini. Ya Allah mudahkan aku mengejar cintaku. Jika dia jodohku, mohon persatukanlah kami dengan ikatan pernikahan kembali.


🌻🌻


Lantai bawah


Kavin sepertinya lupa, kalau dia membawa asistennya dan ditinggalkan begitu saja di lantai bawah. Tuannya langsung berlarian ke lantai dua, ketika mereka baru sampai di mansion Opa Braymanto.


Namun untungnya aja gadis berparas ayu menemani dirinya setelah sampai. Walau sekarang dia tidak berdua lagi seperti tadi, sang asisten di temani juga oleh Bibi Tia yang sedang momong Baby Rayyan.


Masya Allah pantas saja Tuan Kavin membanggakan putranya semata wayang, ternyata baby Rayyan begitu tampan dan menggemaskan. Jadi kepengen punya juga, minimal satu lah.


“Pak Ari, ikut kita makan bersama yuk. Hidangannya sudah siap di ruang makan,” ajak Retno.


“Ooh iya...makasih sebelumnya.” Ari tidak  menolak kalau diajak makan, jadi manut aja sama tuan rumahnya.


Paman Didit, serta kedua adiknya Retno sudah pulang dan turut makan malam. Sedangkan Opa Braymanto dan Keanu belum kembali dari perusahaannya. Jadilah Ari perdana makan malam dengan keluarga Paman Didit, ayahnya Retno. Pria itu berasa lagi kunjungan ke rumah pacar, apalagi melihat Retno begitu ramah dan menyungguhkan makan malam untuknya. Oh... si Ari hatinya meleleh seketika.


Sang asisten Kavin, hatinya berbunga-bunga, baru kali ini berasa jadi seorang pria.


Mak....anakmu mau kawin sama wanita ini mak. Tolong kawinin mak....cepat lamarin mak....keburu di ambil orang!


Paman Didit tak sengaja melihat Ari yang sering melirik anak pertamanya. Kemudian Paman Didit juga menatap ke arah Retno, terlihat semburat merah merona di pipi kedua anak pertamanya.


Mungkinkah mereka jatuh cinta pada pandangan pertama??


 


bersambung.......

__ADS_1


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. makasih sebelumnya.


Love You sekebon 🌻🌻🌻🌻


__ADS_2