Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Selembar cek


__ADS_3

Keesokan hari...


Sebelum jam delapan pagi, Mama Rossa sudah mendatangi kamar Salma.


“Pagi Nyonya,” sapa Salma yang sedang merapikan meja.


“Duduk Salma, ada yang ingin Ibu bicarakan,” pinta Mama Rossa yang sudah duduk di sofa terlebih dahulu.


“Baik, Nyonya,” gadis itu bergegas duduk.


Tanpa bertanya tentang kesehatan Salma, Mama Rossa meletakkan lembaran kecil di hadapan Salma, membuat gadis itu merasa heran.


“Ini sebagai tanda ganti rugi atas pelecehan yang di lakukan Kavin, dan Ibu harap kamu tidak memperpanjang masalahnya,” pinta Nyonya Rossa.


Gadis itu mengambil dan membaca lembaran kecil itu.


Cek sebesar Rp. 100.000.000,00


Kemudian gadis itu meletakkannya kembali ke hadapan Mama Rossa.


Gadis itu mengulas senyum di wajahnya.“Nyonya seorang perempuan dan juga seorang ibu bukan?”


Mama Rossa menganggukkan kepalanya, tanda membenarkan ucapan gadis itu.


“Andaikan Nyonya memiliki anak perempuan dan ada pria yang melecehkan anak Nyonya dan berbuat kasar. Kemudian pria itu atau keluarganya tiba-tiba datang memberikan sejumlah uang sebagai tanda ganti rugi, apakah Nyonya menerima nya? sedangkan anak Nyonya psikisnya terganggu, trauma yang susah untuk di sembuhkan, dan itu pun dalam jangka waktu lama!” sungguh dengan tenangnya Salma berkata pada wanita tua itu.


GLEK!


Sesaat Mama Rossa tercekat dengan salivanya sendiri, dan agak susah untuk bernapas.


“Nyonya pasti tidak akan menerima uangnya bukan, karena uang itu pun tidak bisa membuat anak Nyonya sembuh dari rasa traumanya dengan cepat,” kata Salma yang masih tenang dan lembut, akan tetapi menusuk hati Mama Rossa sebagai seorang ibu dan wanita.


Setelah Salma berkata, mereka berdua pun terdiam, membeku, lidah Mama Rossa keluh untuk berkata. Setelah Salma berhasil memutar balikkan keadaan.


“Nyonya Rossa, tahukah saya merasa dejavu pagi ini, setelah melihat cek itu,” tunjuk Salma.

__ADS_1


Mama Rossa bergeming...


“Empat tahun lalu, bapak saya kecelakaan, di tabrak oleh seorang pria. Pria itu tidak pernah meminta maaf ke saya selaku anak korban dan melayat ke rumah ketika bapak saya telah dinyatakan meninggal di tempat.” Hati gadis itu mulai sedih, mengingat kejadian itu, akan tetapi dia berusaha melanjutkan ceritanya.


“Pria itu hanya mengutus seseorang untuk datang mengantarkan uang untuk keluarga saya. Begitu sulitkan pria itu datang dan meminta maaf, apakah semua orang kaya seperti itu Nyonya...susah berkata Maaf, padahal yang berbuat salah pria itu hingga menghilangkan nyawa orang yang tidak punya salah dengannya. Hanya mengantarkan sejumlah uang, lalu masalah selesai begitu saja!” tutur Salam dengan mata yang mulai berembun, gadis itu menatap Nyonya Rossa.


Mama Rossa kembali menelan salivanya dengan kasarnya, kedua tangannya pun saling meremat, karena tahu siapa pria yang dibahas oleh Salma yaitu Kavin.


Sejenak jemari gadis itu menghapus buliran bening yang sudah ada di ujung ekor matanya.


“Selama empat tahun saya hidup tanpa kedua orang tua, datang dari desa ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan, dengan tujuan untuk merubah kehidupan saya sendiri. Saya berjuang sendiri, tidak ada lagi tempat saya mengadu dan berlindung, hanya ada diri saya sendiri, Nyonya Rossa.” Sejenak gadis itu menjeda ucapannya.


“Kejadian yang menimpa saya kemarin, kepada siapa saya harus mengadu, mengatakan kalau saya kesakitan, Nyonya,” Salma menyentuh dadanya yang mulai terasa sesak, buliran bening pun mulai berjatuhan di pipi gadis itu.


“Nyonya tahu rasanya ketika selalu di hina, di lecehkan....sakit Nyonya! Dan semuanya saya tahan di sini, di dada saya, karena tidak ada tempat mengadu dan berbagi!” tutur gadis itu, sambil menahan rasa isak tangisnya agar tidak pecah.


Mama Rossa hanya bisa terpaku dan merasa bersalah.


Ada di satu titik seseorang akan meluapkan isi hatinya, karena tidak selamanya seseorang menahan perasaannya sendiri. Sekuat-kuatnya mental seseorang yang di hantam badai, pasti sesaat akan terjatuh namun  seketika itu juga cepat bangkit dan berdiri tegak di kakinya sendiri.


DEG


Kembali lagi hati Mama Rossa terhujam belati kecil, seiris demi seiris kata-kata yang di ucapkan Salma, ternyata membuat sakit di dalam jiwa Mama Rossa. Wanita tua itu sejenak menundukkan kepalanya, dirinya sudah tersudutkan atas tindakannya yang sama dengan anaknya, sama-sama menutup mulut Salma dengan sejumlah uang.


“Masihkah adakah rasa empati di hati Nyonya, sebagai seorang ibu. Atau Nyonya tidak punya perasaan, hati nurani dengan sesama wanita?” tanya Salma dengan suara yang begitu lembutnya.


Mama Rossa menegakkan kembali wajahnya dan menatap wajah gadis cantik itu. “I-ibu masih p-punya perasaan..., “ agak terbata Mama Rossa menjawabnya.


Entah kenapa tatapan teduh dan sendu gadis itu, semakin tersayat hati Mama Rossa yang sejak awal punya niat  untuk memanfaat kan gadis itu, demi si gogon puteranya.


“Nyonya, saya tahu jika Nyonya takut saya melaporkan tindakan Tuan Kavin ke kantor polisi, takut nama keluarga jadi tercemar dan terutama kredibilitas Tuan Kavin akan memberikan dampak buruk buat perusahaan, hingga Nyonya menutup mulut saya dengan uang, benar kan?” praduga Salma.


“Iya Salma...,” jawab jujur Mama Rossa.


“Awal saya memang berniat untuk melaporkannya ke polisi, Nyonya. Tapi untuk saat ini saya mengurungkan niat saya, tapi bukan berarti saya menerima uang tersebut. Dan juga bukan berarti saya memaafkan tindakan Tuan Kavin dan berdamai dengannya, semua tindakan pasti ada balasannya,” tukas Salma.

__ADS_1


Ada sedikit rasa lega di hati Mama Rossa tapi berbarengan ada rasa tidak enak dengan gadis cantik itu.


“Salma, sebenarnya Ibu tidak mampu berkata lagi atas semua ucapan kamu semuanya. Ibu berasa bukan seorang ibu yang baik melindungi anak yang sedang terluka, justru memberikan luka lagi kepadanya. Ibu akui ibu salah karena telah melindungi orang yang bersalah, hingga berniat memberikan uang sebagai ganti rugi. Tapi memang ini demi menjaga nama baik perusahaan Kavin,” balas Mama Rossa.


Mama Rossa menggeser duduknya, agar lebih dekat dengan gadis itu, lalu meraih salah satu tangan gadis itu. Kedua netra wanita tua itu tampak berembun.


“I-ibu...” Mama Rossa menghembuskan napasnya sejenak.


“Ibu minta maaf, Salma,” tak kuasa Mama Rossa menitikkan air matanya.


“Tolong maafkan Ibu jika salah...,” lanjut kata Mama Rossa. Jika hati nurani sudah di sentuh, maka hati siapa yang tidak akan larut dengan segala ucapan Salma.


“Saya juga minta maaf Nyonya jika perkataan saya menyinggung di hati Nyonya,” imbuh Salma.


“Tidak, kamu tidak salah Salma. Ibu yang salah...maafkanlah Ibu ini,” pinta Mama Rossa, lalu memeluk tubuh menantu keduanya.


Dalam pelukan Mama Rossa, air mata Salma kembali terjatuh. Pelukan yang selama ini dia rindukan, pelukan seorang ibu yang telah lama menghilang dalam kehidupannya.


Maafkan Ibu yang ingin memanfaatkanmu, Salma.


 


bersambung....


Ah entah kenapa pas nulis bab ini, ku menangis 😭😭😭


 


Mama Rossa lihatlah menantu keduamu ini, amatilah baik-baik, jangan sia-siakan menantu keduamu sebelum datang penyesalan.



 


 

__ADS_1


__ADS_2