
Retno bergegas menutup rasa gugupnya. “Maaf Bu, saya belum pernah mengenal anak ibu. Anak saya tampan karena daddy-nya sangat tampan...orang bule. Tapi sayang sekali suami saya tidak ikut jalan-jalan ke Belanda, karena sibuk dengan perusahaannya, kalau ikut mungkin akan saya kenalkan dengan ibu,” jawab Retno berusaha tenang, apalagi dia sedang ditatap oleh Kavin, dengan tatapan yang sungguh tajam.
Alamak matanya tajam amat....pantas saja Salma benci banget sama daddy-nya Rayyan.
Mama Rossa kembali menatap Opa Braymanto, seperti meminta jawaban yang sebenarnya bukan lagi sebuah kebohongan.
“Semoga wanita yang Om Bray kenal kan ke kami, benar mommy nya Rayyan, walau sebenarnya aku sangat meragukan. Tapi itu hak Om jika tidak ingin berterus terang. Namun aku hanya mengingatkan umur Om dan aku sudah tidak muda lagi, sudah terlalu tua untuk bermain-main. Jadikanlah masa lalu sepupuku Chintya sebuah pelajaran, biarkan lah mereka yang memilih jalannya masing-masing, tapi tidak menutupi sebuah kebenaran, karena ada pihak yang dirugikan,” tutur Mama Rossa.
Opa Braymanto hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Sedangkan Retno agak merinding mendengar ucapan mertua nya Salma.
“Baiklah Om Bray, terima kasih telah di perkenalkan dengan mommy nya Rayyan. Sekarang aku sudah tidak penasaran, tapi mungkin selama aku di Belanda, bolehkan aku mampir ke sini lagi...sekedar bermain dengan baby Rayyan. Maklum belum punya cucu, Om Bray,” pinta Mama Rossa.
Untuk memastikan Retno betul betul mommy baby Rayyan, sebenarnya banyak cara, dengan melihat reaksi baby Rayyan dengan Retno. Tapi seperti nya untuk hari ini buat Mama Rossa sudah cukup. Jika masih berada di sana, sudah bisa di pastikan Opa Braymanto berkelit lidah kembali.
“Ooh silahkan saja, selama mereka belum kembali ke Jakarta. Bolehkan Retno?” tanya Opa Braymanto.
“Iya boleh kok Opa, kebetulan kami sekeluarga masih beberapa hari di sini,” jiwa Retno mulai meronta-ronta tak kuasa di tatap Kavin, yang nampak mencurigainya.
“Kalau begitu Opa, aku dan mama pamit dulu,” Kavin beranjak dari duduknya.
“Kalian tidak jadi makan malam di sini?” tanya Opa Braymanto.
“Mungkin lain kali Opa, aku harus mengerjakan pekerjaan di hotel, asistenku tadi mengirim pesan ada hal yang tak bisa di tunda lagi,” Kavin memberikan alasan.
“Baiklah kalau begitu Opa tunggu kedatangan kalian kembali,” balas Opa Braymanto.
🌻🌻
Kavin dan Mama Rossa sudah meninggal kan mansion Braymanto, dengan penuh teka teki.
Mereka berdua sesaat bergeming ketika berada di dalam mobil.
“Antar ke rumah sakit terbesar di sini,” pinta Kavin pada supir.
“Baik Tuan,” jawab sang supir.
Mama Rossa menolehkan kepalanya. “Kamu sakit, nak?”
__ADS_1
“Tidak sakit, aku ingin memastikan sesuatu yang terjadi di mansion opa? Memangnya mama tidak mencurigai sesuatu?” balik bertanya Kavin.
“Ternyata akal sehatmu sangat cepat kali ini, kamu mau test DNA baby Rayyan?” tebak Mama Rossa.
“Iya aku ingin memastikan siapa orang tua baby Rayyan,” jawab Kavin, mengulas senyum tipisnya.
“Semoga dugaan kita berdua tidak melesat,” ucap Mama Rossa penuh keyakinan dan harapan. Pria itu menganggukkan kepala, lalu memalingkan wajahnya, menatap lalu lalang orang di luar sana dari balik kaca mobil.
Apakah kamu masih hidup, ISTRIKU?
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Mama Rossa dan Kavin tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Berharap mungkin boleh saja, tapi untuk kali ini harapan itu di tahan terlebih dahulu. Menunggu hasil test DNA yang menjawab teka teki Baby Rayyan.
🌻🌻
Perusahaan Wall Mart.
Ibu muda beranak satu terlihat tidak tenang di ruang kerjanya, sudah berulang kali membolak balik berkasnya, namun pikirannya berada di mansion. Selepas Keanu memberitahukan jika Mama Rossa dan Kavin mengunjungi mansion Opa Braymanto, jantung Salma rasanya ingin copot, tak percaya dengan berita tersebut.
Pikirannya langsung menuju ke putra semata wayangnya, berharap mereka tidak tahu keadaan dirinya serta baby Rayyan. Tapi apa mau di kata, suara tangisan baby pasti tidak bisa di bungkam, pasti akan terdengar.
Derrt....Derrt....Derrt
Melihat handphonenya, Retno menelpon, Salma langsung menerimanya...
“Halo Retno, bagaimana keadaan di mansion,” Salma langsung mencecar pertanyaan.
“Hei tenang dulu Salma, ambil napas dulu.”
“Udah cepetan bagaimana keadaannya di sana?”
“Aku bertemu sama daddy-nya Rayyan, pantas saja Rayyan ganteng, wajahnya persis sama kayak daddy-nya yang ganteng. Tapi sumpah aku agak takut lihat tatapannya tajam banget, sepertinya dia gak percaya kalau aku mommy nya Rayyan,” keluh Retno.
“Mmm...ya pasti tidak percayalah, yang ngelahirin kan aku bukan kamu,” jawab Salma.
“Iya tahu, sekarang mereka sudah balik ke hotel. Jadi kalau kamu mau pulang ke mansion sudah aman. Nanti akan aku ceritakan di mansion."
“Oke, tapi aku mampir ke resto dulu untuk bertemu Tuan Josh sebentar, sebelum pulang,” ujar Salma.
__ADS_1
“Ya....dokumennya ada di mejaku sudah aku siapin semuanya tinggal di bawa saja.”
“Oke, thanks.”
Salma sedikit bernapas lega untuk sementara ini, entah jika sudah pulang, dan mendengar lebih lengkap cerita dari Opa nya.
🌻🌻
Hari menjelang petang, Salma masih terlihat sibuk berbincang di salah satu restoran dengan salah satu rekan bisnisnya Tuan Josh. Mereka berdua sedang membicarakan masalah beberapa proyek yang akan di tangani oleh dua perusahaan, dan menuju kesepakatan kerja sama.
Butuh waktu satu jam pembicaraan, akhirnya membuahkan hasil kesepakatan. Di rasa sudah selesai, Tuan Josh beserta asisten nya undur diri. Sedangkan Salma masih berada di restoran tersebut, dan meminta Lea sekretaris nya untuk pulang terlebih dahulu.
Wanita itu kemudian berpindah tempat untuk duduk di bangku yang tersedia di luar restoran. Memesan secangkir coklat hangat serta cake potong nya.
Menikmati suasana menjelang petang di negara Belanda, walau sudah lama tinggal di tanah kelahiran ibunya, wanita itu tidak bosan melihat hiruk pikuk nya, ada yang naik sepeda ketika pulang kerja, ada juga yang memakai perahu yang selalu ada di hulir sungai nan bersih. Panorama yang indah, itu yang tersirat dari kedua netra wanita itu.
Sesaat wanita itu menundukkan wajahnya kemudian menyesap coklat hangatnya, tanpa dia ketahui Kavin berjalan melewati tempat Salma duduk dengan langkah bergegas, lalu masuk ke dalam restoran tanpa memperhatikan sekelilingnya. Seketika mereka berdua merasa risau, tapi entah apa yang di risaukannya.
Cukup lama Salma duduk di luar restoran sampai minuman dan cake nya habis, begitu pula dengan Kavin sendiri yang sedang menyantap makan malam lebih awal, sangat aneh tiba-tiba perutnya lapar ketika berada di rumah sakit. Akhirnya pria itu memutuskan untuk makan, sedangkan Mama Rossa memilih menunggu di rumah sakit.
Sambil menyantap makanannya, kebetulan Kavin memilih duduk dekat kaca, jadi bisa menatap panorama di balik kaca restoran. Sekilas pria itu melihat punggung wanita yang memakai baju berwarna hijau dengan rambut panjang tergerai indah, sedang duduk nyaman seorang diri.
Kavin kembali menyuap makannya, namun ujung ekornya melirik keluar lagi. Wanita yang memakai baju hijau itu melambaikan tangannya ke seseorang, kemudian berdiri dari duduknya, lalu sedikit memiringkan badannya...hingga terlihat wajah tampak samping.
TING!!
Sendok yang di pegang Kavin lepas begitu saja di atas piringnya. Bibir pria itu menganga, dan jantungnya berdegup kencang.
“SALMA!”
bersambung.......... kira-kira mereka berdua ketemu gak di restoran?
__ADS_1