
Di kamar resort...
BUG!
BUG!
“Sudah saya bilang jangan berani menyentuh Salma sedikit pun,” teriak Kavin membabi buta, ketika Ari di minta untuk datang ke kamarnya. Kavin memang sangat membenci jika ada pria yang menyentuh Salma. Namun kali ini Ari melawan Tuannya, sungguh mereka berdua lawan yang seimbang, sama sama jago karate.
Ari dan Kavin
“Seharusnya Tuan sadar diri apa yang telah di lakukan semalam, Tuan telah menghancurkan dan menyakiti perasaan Salma!!” balik maki Ari, meluapkan yang sedari malam di tahannya.
“Tuan terlalu kejam kepada Salma, dia tidak pernah melakukan kesalahan dengan Tuan. Tapi Tuan lah yang berbuat kesalahan lebih parah dan mungkin tidak akan di maafkan oleh Salma seumur hidup!” seru Ari dengan lantangnya, sudah tidak perduli lagi dengan rasa hormatnya selama ini dengan Kavin.
Ari dan Kavin sesaat menghentikan baku hantamnya, terlihat sedang mengatur napasnya masing-masing, namun saling bersitatap, tatapan yang tak bersahabat.
“Ck...sungguh berani sekali sekarang kamu melawan saya!” ujar Kavin.
“Saya melawan demi kebenaran , yang salah tetaplah salah, dan bukan karena tidak hormat dengan Tuan,” balas Ari, terlihat pria itu masih mengebu-ngebu untuk menghajar Tuannya.
Kavin hanya menyeringai tipis menatap Ari, sembari mengusap sudut bibirnya, lalu mengambil jasnya yang berada di sofa, kemudian keluar dari kamarnya begitu saja.
“Ck...andai Tuan tahu siapa Salma itu, istri yang berada di kampung, istri yang sangat Tuan benci itu. Ternyata Tuan tidak sadar sudah terjebak dengan istri yang Tuan benci,” gumam Ari bermonolog, pria itu tidak keluar dari kamar, justru duduk di sofa sambil memikirkan sesuatu.
🌻🌻
Di Desa
Paman Didit pagi ini sudah sibuk di toko sembakonya yang berada di pasar, berkat uang pemberian dari Opa Braymanto, Paman Didit dan Bibi Tia memutuskan untuk membuka toko sembako lagi di pasar, jadi sekarang sudah punya dua toko sembako.
Hari ini Bibi Tia belum menyusul suaminya ke pasar, tapi sedang termenung melihat buku nikah milik Salma, perasaan bersalah Bibi Tia selalu menghinggapi di dirinya walau sudah di maafkan oleh Salma. Tapi saat ini Bibi Tia ingin segera memperbaiki keadaan keponakannya walau sebenarnya sudah terlambat.
“Sebaiknya aku telepon Salma saja, dan memberitahukannya, kalau menunggu Mas Didit datang ke Jakarta takut kelamaan,” gumam Bibi Tia sendiri, wanita paruh baya tersebut segera menghubungi keponakannya. Dan cukup lama Bibi Tia menunggu teleponnya di terima.
“Assalamualaikum Salma,” sapa Bibi Tia lewat sambungan teleponnya.
“Alaikumsalam, Bibi Tia,” balas sapa Salma.
“Salma maaf ya kalau bibi telepon kamu pagi ini, pasti lagi kerja ya?” tanya Bibi Tia.
__ADS_1
“Ooh...gak pa-pa kok bibi, kebetulan sedang sarapan, belum bekerja. Ada apa ya Bibi?”
“Begini Bibi tuh gak tenang sudah beberapa hari ini, Paman kamu juga lagi masih sibuk di toko, entah kapan bisa datang ke Jakarta. Jadi maksud bibi pengen kasih tahu kamu sesuatu lewat telepon ini,” tutur Bibi Tia.
“Ooh...boleh bibi, aku juga sebenarnya juga penasaran pengen tahu ada apa waktu paman telepon ke aku.”
“Tapi sebelumnya bibi minta maaf sekali lagi atas kejadian masa lalu, gara bibi dan paman memaksa kamu menikah,” imbuh Bibi Tia.
“Iya Bibi sudah aku maafkan.”
Sejenak Bibi Tia mengatur napasnya terlebih dahulu. “Bibi ingin kasih tahu tentang pernikahan kamu. Pernikahan dengan pria yang telah menabrak bapak kamu.”
Salma tidak menyela pembicaraan Bibi Tia, gadis itu mendengarkannya apalagi ini tentang pernikahannya.
“Pria itu telah lama mendaftarkan pernikahan siri dengan kamu secara negara, dan kamu sudah lama sah sebagai istri pria itu. Maaf kalau bibi terlambat memberitahukan nya sama kamu, jujur bibi sangat menyesal baru kasih tahu kamu hari ini.”
“Aku istri sah dari pria itu, Bibi!” rasanya keluh lidah Salma menerima kenyataan ini, pikiran dia tidak sampai sejauh itu.
“Semua keputusan ada di kamu, jika kamu ingin bercerai resmi dengannya, bibi akan bantu mengurusinya Salma. Kamu berhak menentukan pasangan hidup kamu,” tutur bibi Tia.
“Bibi berarti aku punya buku nikah?”
“Buku nikah milik kamu ada di bibi, dan nanti bibi akan foto kan buku nikah milik kamu. Kalau mau di kirimin ke Jakarta juga bisa,” ujar Bibi Tia.
Tidak bisa di pungkiri dapat kabar seperti ini hati Salma terasa perih dan berdenyut.
“Bik...kirimkan foto buku nikah punyaku terlebih dahulu,” pinta Salma.
“Ya bibi kirim fotonya sekarang, di tunggu...,” pinta Bibi Tia.
“Makasih Bibi...”
Salma menerima telepon Bibi Tia, posisinya jauh dari tempat dia makan dengan Mama Rossa, agar pembicaraannya leluasa dan tidak terdengar oleh Mama Rossa.
Beberapa kemudian bunyi pesan masuk mulai terdengar, gadis itu mulai membuka pesan dari bibi Tia.
Satu persatu dilihatnya foto buku nikahnya, tak berapa lama kedua tangan Salma yang masih memegang handphonenya gemetar hebat, tubuhnya seketika lemas tak berdaya.
“I-ini...i-ni salah...i-ini gak mungkin...,” terasa sesak hati Salma melihat foto pria nya.
“Gak...ini gak benar...dia yang membunuh bapak!” tubuh gadis itu melorot ke bawah, tak kuasa melihat foto pria yang hampir saja memperkaosnya semalam, pria yang mencium dirinya untuk pertama kali. Kepala gadis itu juga mendadak pusing, tak karuan rasanya.
__ADS_1
“Kavin Ardana Adiputra, p-pria yang menikahi a-aku!" gumam pelan Salma, semakin sesak dada gadis itu, sudah tak mampu untuk bernapas dengan sempurna, setelah mengetahui atasan yang sangat di bencinya ternyata suaminya sekaligus pelaku penabrak bapaknya.
“TOLONG....ADA YANG PINGSAN DI SINI!” teriak salah satu ibu-ibu yang melihat Salma sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Dari kejauhan Kavin sedang mencari keberadaan Salma, yang menurut salah satu pelayan villa, sedang sarapan di pinggir pantai. Mendengar ada yang teriak minta tolong, semakin kencang Kavin berlari, pikirannya langsung ke Salma.
Beberapa orang sudah mengerubuti Salma, yang ingin menolong, begitu juga Kavin...
“Salma....,” ucap Kavin yang melihat gadis itu terkapar.
“Permisi Bu, Pak...ini istri saya,” lagi dan lagi pria itu mengakui Salma istrinya di hadapan orang lain. Pria itu langsung membopong Salma, sedangkan Mama Rossa yang sedang mencari Salma, kaget melihat Kavin sudah mengangkat Salma.
“Apa yang telah kamu lakukan dengan Salma, Kavin!” ujar Mama Rossa bergetar, dengan tatapan berapi-api.
“Jangan tanya dulu, mah, Salma sedang pingsan,” Kavin berlalu meninggalkan Mama Rossa dengan membopong Salma, dan Mama Rossa yang masih bertanya-tanya segera mengejar Kavin, tapi...
“Sebentar bu, ini sepertinya handphone milik istri bapak itu,” ujar ibu yang berteriak minta tolong, menyodorkan handphone ke Mama Rossa, setelah melihat wanita tua itu menegur Kavin, berarti tanda nya kenal pikir si ibu itu.
“Istri ....,” bingung Mama Rossa.
“O-oh....makasih Bu,” menerima handphone tersebut yang layarnya masih menyala. Tak sengaja Mama Rossa melihat ke layar handphone tersebut, dan melihat pesan dari bibi Tia. Tak di sangka tangan Mama Rossa gemetaran, sama seperti Salma barusan.
“Salma...sudah tahu...” Mama Rossa tak sanggup kakinya untuk berjalan saking lemasnya, wanita tua itu memilih untuk duduk di salah satu bangku kosong yang ada, menenangkan dirinya sejenak. “Bagaimana ini!”
Keanu dan anak buah Opa Braymanto dari kejauhan memantau kondisi Salma, andaikan tadi tidak kedahuluan Kavin, mungkin Salma sudah di selamatkan oleh Keanu.
“Kita harus menunggu lagi!!” ujar Keanu kepada anak buahnya.
bersambung......mampu kah Salma menghadapi kenyataan?
Salam kenal dari Keanu Ibrahim
__ADS_1