Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Emy mulai berulah


__ADS_3

Berawal sekedar  mengagumi, lalu sering menatap dan memujanya dalam hati, kemudian hati berbisik “hei...dia sudah tak ada pemilik nya, kenapa tidak kau dekati saja. Tidak ada yang salah...dia sudah duda!”


Sorot mata yang mengagumi sosok pria berwajah ganteng dan kaya, mulailah turun ke hati, dan mulai lah ada rasa ingin memilikinya.


Tidak ada yang salah dengan perasaan menyukai seseorang, karena seyogianya dia hadir tanpa mengetuk pintu, dan pergi pun tanpa pamit juga. Dan tidak ada yang salah dengan profesi yang dia kerja kan saat ini? Lalu apa yang salah dengannya? Lihat lah apa yang dia lakukan!


Seyogianya sebagai baby sitter tugasnya adalah mengurus anak majikannya. Yang terkadang juga turut berpergian ke mana saja, mengikuti sang majikannya. Seperti pagi ini berhubung Salma ingin sarapan pagi di taman belakang, sang baby sitter tetap mengekor langkah Salma, yang sedang di gandeng tangannya oleh sang mantan suami. Sedangkan sang mantan suami juga mengendong baby Rayyan dengan tangan kirinya..


Tindak tanduk Emy masih terlihat wajar, tidak ada yang berbeda, tapi jika diperhatikan wanita itu sering melirik Kavin, dan gestur tubuhnya dibuat sedikit gemulai.


“Hei anak ganteng, anak ounty sudah wangi nih,” sapa Retno sudah main cium pipi gembul baby Rayyan, membuat si baby kegelian.


“Retno, kamu lihat Ari gak?” tanya Kavin.


“Oh Pak Ari, tadi ada di ruang tengah,” jawab Retno.


“Nanti suruh Ari ikut sarapan di taman belakang ya,” pinta Kavin.


“Oke....siap Pak Kavin.” Sesaat Retno melirik Emy berada di belakang Kavin.


“Emy, kamu ngapain berdiri di belakang Pak Kavin?” tegur Retno, sedikit risih melihatnya. Mundur aja selangkah kaki Kavin, maka pria itu akan menabrak Emy.


“Tuan Kavin lagi gendong Rayyan, jadi jaga-jaga kalau mau gantian gendong Non Retno, jadi saya harus selalu berada dekat dengan Tuan Kavin,” jawab Emy berusaha tenang.


Buat Retno agak aneh, selama ini Emy tidak terlalu mepet berdirinya jika ada orang yang mengendong baby Rayyan, pasti ada jarak sekitar dua meter.


Salma yang berada di samping Kavin, hanya menyimaknya saja, tapi sempat menoleh ke belakang, lalu ke samping melihat wajah Kavin yang terlihat biasa saja.


“Ayo, mom...makanannya kayaknya sudah siap,” ajak Kavin, kembali menarik tangan Salma.

__ADS_1


Wanita itu menganggukkan kepalanya, dan patuh dengan ajakan sang mantan suami.


Para maid terlihat sibuk di belakang mansion, sedang menata meja makan berserta bangku. Kemudian menyajikan beberapa makanan pembuka untuk nona dan tuannya. Beberapa cangkir teh cantik dan tekonya sudah ada di atas meja dan beberapa roti manis di rak kue. Dan tak lupa vas bunga sebagai pemanisnya.



Kebetulan cuaca pagi ini agak cerah, walau suhunya lumayan dingin, tapi tidak menyulutkan keinginan Salma untuk menikmati sinar matahari pagi ini.


Kavin dengan gaya pria berdarah belanda itu, menarik salah satu kursi untuk Salma, wanita pujaan hatinya. Wanita itu tersenyum tipis, hatinya kembali berdesir dapat perlakuan yang romantis dari sang mantan. Kemudian Kavin menaruh baby Rayyan di bangku tingginya, dan tak lama dari kejauhan Kavin melihat kedatangan kepala pelayan yang membawa pesanannya, pria itu segera menyusulnya. Emy sangat memperhatikan gerak gerik Kavin dari tempat dia duduk.


Tak lama Kavin kembali...


“Mommy nya Rayyan,” panggil Kavin dari balik punggung wanita itu.


“Mmm....,” gumam Salma, tak bisa bicara karena sedang mengunyah roti, dan tak menoleh ke belakang.


“This's for you, my love, calon istriku, mommy anakku,” bisik Kavin, pria itu memberikan buket bunga rose dari balik punggung wanita itu, membuat wanita itu berjingkat kaget, langsung berdiri.


“Mungkin buatmu, aku telat memberikan bunga ini, seharusnya aku melakukannya dari dulu, bukannya marah tak jelas denganmu. Tapi yang jelas sekarang aku ingin menunjukkan isi hatiku, kalau aku berusaha ingin mendapatkan hatimu. Dan ingin kembali membina rumah tangga denganmu, Salma Hadeeqa,” tutur Kavin dengan lembutnya. Relung hati wanita itu terasa hangat dengan kejutan kecil ini.


PRANG!


PRANG!


Salma dan Kavin langsung mencari sumber suara pecahan itu.


“Oooh....maaf Nona Salma, saya gak sengaja menyenggol gelas dan piringnya. Tadi saya bermaksud mau kasih kue ke Rayyan, jadinya pada jatuh ke lantai,” ucap Emy, pura-pura terkejut. Padahal wanita itu sengaja menjatuhkan gelas dan piring itu ke bawah. Agar adegan romantis Salma dan Kavin berhenti, sungguh iri hati Emy melihatnya.


Buru-buru Emy membungkukkan tubuhnya, lalu memunguti pecahan gelas dan piringnya. Salma ingin turut membersihkan, namun langsung ditarik lengannya oleh Kavin agar tidak turut membersihkan.

__ADS_1


Dari kejauhan Retno sudah melihat apa yang di lakukan oleh Emy, dengan gaya santainya Retno bergabung di susul oleh Ari.


“Wah...bunganya cantik banget Salma, iiih bikin iri aja deh, dari siapa bunganya?” tanya Retno, sambil melirik Emy.


“Dari Kak Kavin.”


“Oh pantesan dari Pak Kavin, udah ganteng, kaya ... beh bikin para wanita siapa pun pasti iri. Pak Kavin lain kali kalau mau beli buket bunga jangan satu ya. Beli 10, biar semua wanita di sini kebagian. Jadi tidak ada kejadian jatuhnya gelas dan piring. Mengganggu suasana romantis aja,” sindir Retno, kedua tangannya sudah bersidekap.


“Retno, ngomong nya jangan begitu, gak enak sama Kak Kavin,” balas Salma.


“Gak pa-pa kok mommy, aku tidak tersinggung.”


“Retno, kamu mau buket juga kah? Aku beliin ya, kamu suka buka bunga apa?” tanya Ari.


Retno memutar malas bola matanya, kemudian berdecak kesal. Hati Retno masih dongkol sama Ari.


“Aauw...aauw...,” teriak kesakitan Emy.


Retno semakin menajam menatap Emy, baru kali ini melihat tingkah laku Emy yang berbeda, ada apa dengan si Emy sebenarnya, pikir Retno.


“Emy, kamu kenapa?” tanya Salma berusaha mendekati, malah Kavin merangkul pinggangnya, akhirnya tak jadi mendekati Emy.


“Tangan saya kena pecahan beling, Non Salma. Saya boleh minta tolong kah?” sahut Emy sambil menatap memelas ke Kavin, berharap pria yang di tatapnya mau menolongnya.


“Ari tolong panggilkan salah satu maid, suruh membersihkan pecahan gelas. Ini kita mau sarapan pagi, kenapa jadi ada drama begini!” kesal Kavin, sifat arogannya mulai muncul.


“Dan kamu, masih bisa jalankan, yang luka tangan bukan kakinya kan. Jadi bisa masuk ke dalam, minta tolong teman kamu untuk mengobati luka kamu sendiri!” tegur Kavin, wajahnya terlihat garang.


“Kak Kavin, kenapa jadi marah begitu. Emy tangannya sedang terluka, jadi wajar kalau dia minta tolong sama kita yang ada di sini,” Salma balik menegur.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2