Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Opa Braymanto


__ADS_3

BALI


Kurang lebih dari dua jam syuting iklan produk minuman akhirnya selesai juga, ternyata Salma cepat belajar sesuai arahan sutradara, jadi sebelum menjelang petang kegiatan syuting sudah selesai.


“Terima kasih banyak Salma, ternyata saya memilihmu sebagai bintang iklan produk perusahaan saya tidak lah salah,” puji Keanu, pria yang berpostur tubuh tinggi itu, wajah tampannya menunjukkan usianya sekitar 30 tahun ke atas.


“Sama-sama Mr. Keanu, saya juga tidak menyangka di tawarin ikutan syuting iklan,” ujar Salma.


“Sebagai ucapan terima kasih, saya ingin mengundang kamu makan malam nanti jam 7 di resort, bisakah?” tanya pria bermata biru.


Sejenak Salma melirik ke Mama Rossa, wanita tua itu mengerjap-ngerjapkan kedua netranya serta menganggukkan kepalanya.


“Bisa Mr. Keanu,” jawab Salma.


“Terima kasih, saya jemput di villa, bolehkan?” kembali bertanya Keanu.


“Boleh Mr. Keanu,” balas Salma.


Setelah selesai berbincang sebentar dengan Keanu, Salma dan Mama Rossa kembali ke villa di antar oleh karyawan Keanu.


“Makasih ya mah, sudah temani aku,” ujar Salma.


“Sama-sama nak, mama juga senang menemani kamu syuting tadi. Berasa menemani anak gadis,” ujar Mama Rossa sambil terkekeh.


“Aku kan memang masih anak gadis mah,” sungut Salma.


“Iya....iya,” jawab Mama Rossa.


Beberapa pelayan villa sudah menyediakan minuman hangat serta beberapa cake potong untuk menemani mereka berdua.


Derrt...Derrt...Derrt


Paman Didit calling.


Salma merogoh isi tasnya mengambil handphonenya yang berdering.


Paman Didit....tumben telepon, ada apa ya.

__ADS_1


“Mah, aku terima telepon dulu dari paman aku,” pamit Salma.


“Ya, nak.”


Gadis itu beranjak dari sofa dan memilih untuk menjawab panggilan telepon dari paman Didit dekat kolam renang.


“Assalamualaikum, Paman Didit?” sapa Salma.


“Alaikumsalam Salma, apakabarnya?” tanya Paman Didit.


“Alhamdulilah baik Paman, tumben telepon ke Salma, ada apa ya Paman?”


“Tadi Paman telepon Retno, kamu katanya sudah tidak tinggal di kontrakan bareng Retno lagi, apa betul? Sekarang kamu tinggal sama siapa?” selidik Paman Didit.


“Paman sekarang Salma pindah bekerja jadi asisten Direksi, jadi mau tidak mau tinggal sama Ibu Direksi di mansion nya,” ujar Salma.


“Ooh kamu sudah pindah kerja, sebenarnya Paman pengen kamu dan Retno pulang ke kampung sebentar, ada yang mau Paman bicarakan,” pinta Paman Didit.


“Paman, Salma baru kerja di tempat baru, rasanya gak enak kalau tiba-tiba minta izin untuk pulang ke kampung,” jawab Salma, memberikan alasan yang masuk akal.


“Sangat rumit Salma kalau paman memberitahukan nya lewat telepon, yang ada nanti malah jadi salah paham,” imbuh Paman Didit.


“Pentingkah, Paman?” gadis itu mulai penasaran.


“Di bilang penting, yang penting  buat kamu bukan buat Paman. Tapi nanti paman coba lihat kondisi toko dulu di sini. Kalau Paman bisa meninggalkan sebentar sama anak buah, Paman akan ke Jakarta.”


“Maaf ya Paman, Salma belum bisa balik ke kampung, tapi nanti Salma lihat keadaan di sini juga, apakah memungkinkan untuk bisa ke kampung sebentar.”


“Ya sudah nanti kita kabar kabari lagi saja, jaga diri kamu baik-baik ya di tempat kerja yang baru.”


“Iya Paman.” Paman Didit mengakhiri pembicaraan nya dengan Salma lewat sambungan teleponnya.


Pria itu menyugarkan rambutnya ke belakang, sedikit ada rasa putus asa. Hampir tiga bulan Paman Didit tidak tenang tidurnya setelah ke datangan pria bule yang sudah tua  ke rumah Salma, ingin rasanya pria itu memberitahukan sesuatu ke Salma tapi ada rasa takut, takut akan dilupakan oleh Salma.


“Bagaimana Mas, Salma dan Retno bisa pulang ke kampung sebentar?” tanya Bibi Tia.


“Salma sudah pindah ke tempat kerja yang baru, tidak mungkin dia untuk izin pulang ke kampung,” kata Paman Didit.

__ADS_1


“Mas, kapan akan kasih tahu tentang suami Salma, berikan lah buku nikahnya. Biarkan dia memilih jalan hidup nya dan berhak untuk bahagia,” imbuh Bibi Tia sambil menunjukkan buku nikah milik Salma.


Paman Didit tampak terpaku dengan buku nikahi itu.


“Mas, aku juga tidak enak dengan pria bule yang tempo hari datang, begitu banyak uang di berikan untuk kita,” ujar melas Bibi Tia, ada rasa bersalah ketika tahu Salma keturunan dari keluarga apa. Uang pemberian pria bule tua itu dalam jumlah besar, sebagai tanda balasan telah merawat cucunya ketika anaknya telah meninggal. Bibi Tia yang biasanya mendapatkan uang banyak suka serakah, kali ini berasa menjadi beban. Karena selama empat tahun terakhir ini Salma masih mengirimkan uang buat mereka di kampung.


Bibi Tia  juga baru tahu jika pernikahan kakak iparnya dan istrinya adalah pernikahan yang tidak di restui oleh pihak keluarga wanita. Ibu Salma rela meninggalkan keluarga besarnya demi pria yang sangat di cintai nya, hingga bersedia hidup susah dengan Yudo ayah Salma untuk tinggal di kampung kecil ini.


Semua tentang silsilah keluarga Ibu kandung Salma terkuak tiga bulan lalu, ketika beberapa mobil mewah datang ke lingkungan rumah mereka lalu kemudian beberapa pria bule keluar dari mobil itu. Mereka mencari Chintya ibu dari Salma, dengan menunjukkan foto Chintya.


Paman Didit selaku adik dari Yudo suami Chintya, kala itu langsung tubuhnya gemeteran menghadap pria bule tersebut apalagi ada beberapa bodyguard yang mengawal kedua pria itu, ada yang tua dan ada yang muda.


“Saya daddy Chintya, Braymanto...ingin bertemu dengan anak saya,” ujar pria bule yang sudah tua itu.


Tak ayal Paman Didit dan Bibi Tia di buat terkejut dengan kedatangan daddy dari Chintya.


Paman Didit dan Bibi Tia menjamu Opa Braymanto dengan baik di rumahnya, dan tidak ingin mencari masalah. Paman Didit dan Bibi Tia menceritakan semua yang terjadi dengan keluarga kecil Chintya, dengan hati yang hancur Opa Braymanto harus menerima kenyataan jika putri bungsunya sudah meninggal begitu pula dengan menantu yang tidak direstuinya sudah meninggal juga.


“Mereka meninggalkan seorang anak gadis bernama Salma Hadeeqa,” Paman Didit menunjukkan foto Salma dari handphonenya.


“Cucuku, kamu mirip dengan mama mu...,” hati Opa Braymanto pilu dan sedih ketika melihat foto Salma.


“Di mana cucuku sekarang?”


“Di sedang kuliah di Jakarta.”


Paman Didit memberikan alamat rumah kontrakan di Jakarta beserta nomor telepon Retno.


“Tapi Pak, boleh kah saya yang kasih tahu tentang keberadaan Bapak. Saya takut nya Salma tidak bisa menerima kehadiran Kakek dari Ibu nya.” Pinta Paman Didit.


Opa Braymanto terlihat berpikir sesaat. Kemudian....


 “Saya tetap akan mencari dan mengawasi nya secara diam-diam, sambil menunggu kalian berdua memberitahukannya."


Paman Didit manggut-manggut menyetujui nya, lagi pula Opa Braymanto berhak atas cucu kandungnya, Salma Hadeeqa.


 bersambung....

__ADS_1


__ADS_2